Tulungagung

Epic
Jawa Timur
Luas
1.155,38 km²
Posisi
selatan
Jumlah Tetangga
6 wilayah
Pesisir
Ya

Dipublikasikan: Januari 2025

History

#

Sejarah dan Perkembangan Tulungagung: Dari Rawa Menuju Kota Marmer

Tulungagung, sebuah wilayah seluas 1.155,38 km² di pesisir selatan Jawa Timur, menyimpan narasi sejarah yang mendalam, membentang dari era kerajaan kuno hingga menjadi pusat industri marmer modern. Namanya secara etimologis berasal dari kata "Tulung" (Sumber Air) dan "Agung" (Besar), yang merujuk pada kondisi geografis masa lalu berupa kawasan rawa-rawa luas yang sering dilanda banjir.

##

Era Kuno dan Masa Kadipaten

Akar sejarah Tulungagung dapat ditarik hingga masa Kerajaan Mataram Kuno. Prasasti Lawadan yang bertarikh 18 November 1205 Masehi menjadi bukti otentik tertua. Dalam prasasti tersebut, Raja Kertajaya dari Kerajaan Daha (Kediri) memberikan penghargaan kepada warga Lawadan atas kesetiaan mereka menghalau musuh dari arah selatan. Tanggal inilah yang kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Tulungagung. Sebelum dikenal dengan nama sekarang, wilayah ini disebut sebagai Kadipaten Ngrowo. Pusat pemerintahannya semula berada di Kalangbret, namun karena ancaman banjir yang terus-menerus dari luapan Sungai Brantas, pusat pemerintahan dipindahkan ke lokasi saat ini oleh Bupati Raden Mas Tumenggung Pringgodiningrat pada abad ke-19.

##

Periode Kolonial dan Perjuangan Kemerdekaan

Pada masa kolonial Belanda, Tulungagung memegang peran strategis sebagai lumbung pangan dan perkebunan. Belanda membangun infrastruktur besar-besaran, termasuk sistem drainase untuk mengeringkan rawa-rawa Ngrowo agar lahan tersebut dapat ditanami tebu dan kopi. Salah satu peninggalan ikonik adalah Terowongan Neyama (Nippon-Yama) yang dibangun pada masa pendudukan Jepang. Proyek romusha ini bertujuan mengalirkan air Sungai Brantas langsung ke Samudra Hindia guna mencegah banjir tahunan yang melumpuhkan ekonomi.

Dalam kancah kemerdekaan, masyarakat Tulungagung terlibat aktif dalam mempertahankan kedaulatan. Tokoh seperti KH Abu Manshur berperan penting dalam menggerakkan laskar-laskar rakyat melawan agresi militer Belanda di wilayah selatan. Kedekatan geografisnya dengan Blitar dan Kediri menjadikan Tulungagung sebagai jalur logistik dan gerilya yang krusial bagi Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

##

Warisan Budaya dan Identitas Lokal

Secara kultural, Tulungagung memiliki identitas yang unik. Kesenian Reog Kendang menjadi ikon budaya asli yang membedakannya dengan Reog Ponorogo. Tarian ini melambangkan prajurit Kediri yang mengiringi kepulangan Dewi Kilisuci. Selain itu, tradisi "Ulur-Ulur" di Telaga Buret mencerminkan kearifan lokal dalam menjaga ekosistem air yang telah berlangsung selama berabad-abad. Wilayah ini juga dikenal sebagai rumah bagi penemuan fosil manusia purba Homo wajakensis di Kecamatan Campurdarat, sebuah tonggak penting dalam sejarah antropologi dunia.

##

Perkembangan Modern

Kini, Tulungagung bertransformasi menjadi daerah yang maju dengan memanfaatkan potensi pesisir selatannya. Berbatasan dengan enam wilayah (Kediri, Blitar, Nganjuk, Trenggalek, serta Samudra Hindia di selatan), kabupaten ini menjadi pusat industri marmer terbesar di Indonesia yang berpusat di Besole. Modernisasi infrastruktur, seperti pembangunan Jalur Lintas Selatan (JLS), kini menghubungkan sejarah masa lalu yang terisolasi dengan akses ekonomi global, menjadikan Tulungagung salah satu pilar penting di koridor selatan Jawa Timur.

Geography

#

Geografi Tulungagung: Permata Pesisir Selatan Jawa Timur

Tulungagung merupakan sebuah kabupaten yang terletak di koordinat 7°51′ – 8°18′ Lintang Selatan dan 111°43′ – 112°07′ Bujur Timur. Sebagai wilayah berkategori "Epic" dalam peta administratif Jawa Timur, kabupaten seluas 1155,38 km² ini memiliki posisi strategis di bagian selatan provinsi. Secara geografis, Tulungagung berbatasan langsung dengan enam wilayah administratif: Kabupaten Kediri di utara, Kabupaten Blitar di timur, Samudera Hindia di selatan, serta Kabupaten Trenggalek, Ponorogo, dan Nganjuk di sisi barat.

##

Topografi dan bentang Alam

Topografi Tulungagung sangat kontras dan variatif, terbagi menjadi tiga zona utama. Bagian utara didominasi oleh lereng Gunung Wilis yang subur dan bergelombang. Bagian tengah merupakan dataran rendah aluvial yang menjadi pusat pemukiman dan aktivitas ekonomi. Sementara itu, bagian selatan dicirikan oleh deretan Pegunungan Kapur Selatan (Pegunungan Sewu) yang membentuk karst yang unik namun eksotis. Wilayah ini memiliki garis pantai yang membentang di sepanjang Laut Indonesia, dengan karakteristik pantai yang bertebing curam dan teluk-teluk dalam seperti Teluk Popoh dan Pantai Brumbun.

Sistem hidrologi utama di Tulungagung dipengaruhi oleh aliran Sungai Brantas di utara dan Sungai Ngasinan yang mengalir menuju Terowongan Neyama. Terowongan legendaris ini adalah fitur geografis buatan yang krusial untuk mengalirkan kelebihan air dari rawa-rawa (seperti Rawa Bening) langsung ke laut selatan guna mencegah banjir di dataran pusat.

##

Iklim dan Variasi Musiman

Berada di zona tropis, Tulungagung memiliki iklim monsun tropis dengan dua musim yang jelas. Musim kemarau (Mei–Oktober) dipengaruhi oleh angin dari Australia yang kering, sementara musim hujan (November–April) membawa kelembapan tinggi dari Samudera Hindia. Curah hujan tertinggi biasanya terkonsentrasi di wilayah lereng Gunung Wilis (Kecamatan Sendang), yang menciptakan iklim mikro sejuk dengan kabut pagi yang persisten, berbeda jauh dengan suhu panas di wilayah pesisir Besuki.

##

Sumber Daya Alam dan Biodiversitas

Kekayaan mineral Tulungagung sangat spesifik, terutama cadangan batu marmer berkualitas tinggi di Kecamatan Campurdarat yang telah diakui secara internasional. Selain marmer, terdapat potensi batu gamping dan pasir besi di wilayah selatan. Di sektor agraris, tanah vulkanik di utara mendukung perkebunan teh dan kopi, sementara dataran rendahnya merupakan lumbung padi dan tebu.

Ekosistemnya mencakup hutan lindung di pegunungan karst yang menjadi habitat bagi monyet ekor panjang dan berbagai jenis burung migran. Garis pantai selatan yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia juga kaya akan sumber daya laut, mulai dari tuna hingga ekosistem terumbu karang yang masih terjaga di kawasan teluk-teluk tersembunyi. Keanekaragaman hayati ini menjadikan Tulungagung sebagai wilayah yang memiliki keseimbangan ekologi antara pegunungan, dataran rawa, dan lautan luas.

Culture

#

Kemilau Budaya Tulungagung: Permata Pesisir Selatan Jawa Timur

Terletak di pesisir selatan Jawa Timur dengan luas wilayah mencapai 1.155,38 km², Tulungagung merupakan daerah dengan kekayaan budaya yang masuk dalam kategori "Epic" karena keunikan sinkretisme sejarahnya. Berbatasan dengan enam wilayah administratif, Tulungagung menjadi titik temu tradisi agraris pedalaman dan semangat bahari yang kuat.

##

Tradisi dan Upacara Adat Pesisir

Sebagai daerah pesisir, salah satu tradisi paling sakral adalah Upacara Adat Larung Sembonyo yang rutin digelar di Pantai Popoh dan Pantai Sidem. Ritual ini merupakan bentuk syukur atas hasil laut sekaligus penghormatan kepada leluhur. Uniknya, sesaji yang dilarung menyertakan replika peranti pengantin, yang melambangkan pernikahan legendaris antara Raden Mas Tumenggung Rajekwesi dengan Dewi Gambar Inten. Selain itu, terdapat tradisi Ulur-Ulur di Telaga Buret, sebuah upacara menjaga sumber mata air yang melibatkan penyiraman air suci dan doa bersama lintas keyakinan.

##

Kesenian dan Pertunjukan Khas

Tulungagung adalah rumah bagi kesenian Reog Kendang, sebuah tarian komunal yang berbeda dari Reog Ponorogo. Reog Kendang menggambarkan iring-iringan prajurit Kediri yang menjemput Dewi Kilisuci, di mana setiap penarinya menggendong dan menabuh kendang kecil (*dhog-dhog*) secara akrobatik. Selain itu, kesenian Jaranan Kedhak dan Wayang Orang gaya Tulungagungan masih lestari, memperlihatkan pengaruh kuat Kerajaan Mataram dan Kediri yang melebur jadi satu identitas lokal yang dinamis.

##

Kekayaan Kuliner dan Cita Rasa Lokal

Identitas kuliner Tulungagung sangat spesifik. Ayam Lodho adalah primadonanya; ayam kampung yang dipanggang terlebih dahulu sebelum dimasak dalam kuah santan pedas kental, menghasilkan aroma asap yang khas. Tak kalah populer adalah Sego Bantingan, nasi bungkus porsi kecil dengan lauk sederhana namun sarat makna kebersamaan. Untuk kudapan, Gethuk Pisang dan Krupuk Rambak kulit sapi asli Tulungagung menjadi buah tangan wajib yang diproduksi secara turun-temurun di sentra industri rumah tangga.

##

Bahasa, Dialek, dan Ekspresi Lokal

Masyarakat Tulungagung menggunakan bahasa Jawa dengan dialek yang khas, sering disebut sebagai perpaduan antara bahasa Jawa Mataraman (halus) dengan pengaruh dialek Arekan (lugas). Penggunaan partikel penegas seperti *"Pe"* atau *"Lek"* di akhir kalimat sering menjadi penanda identitas yang kuat saat mereka berkomunikasi dengan sesama perantau.

##

Tekstil dan Busana Tradisional

Dalam hal tekstil, Tulungagung memiliki Batik Gajah Mada yang dikenal dengan motif sulur dan warna-warna berani namun tetap elegan. Motif ini sering kali terinspirasi dari flora lokal dan sejarah kejayaan Majapahit. Pakaian tradisional pria sering menggunakan blangkon model Mataraman namun dengan lipatan yang lebih tegas, mencerminkan karakter masyarakatnya yang ulet dan teguh pendirian.

##

Kehidupan Religi dan Festival Budaya

Kehidupan beragama di Tulungagung sangat harmonis, terlihat dari keberadaan Candi Penataran dan berbagai situs pemujaan kuno yang berdampingan dengan pesantren-pesantren besar. Festival tahunan seperti Pekan Kebudayaan Daerah selalu menjadi magnet, menampilkan parade busana karnaval berbasis material lokal seperti marmer—mengingat Tulungagung adalah salah satu penghasil marmer terbesar di Indonesia. Sinergi antara kearifan lokal, kekayaan alam, dan spiritualitas menjadikan Tulungagung sebuah wilayah dengan jati diri budaya yang tak lekang oleh zaman.

Tourism

Menjelajahi Pesona Magis Tulungagung: Permata Pesisir Selatan Jawa Timur

Terletak di pesisir selatan Jawa Timur dengan luas wilayah 1.155,38 km², Tulungagung adalah destinasi dengan kategori "Epic" yang menawarkan harmoni sempurna antara pegunungan hijau dan garis pantai Samudra Hindia yang dramatis. Berbatasan dengan enam wilayah administratif—Kediri, Blitar, Nganjuk, Trenggalek, Malang, dan Samudra Hindia—daerah ini menyimpan kekayaan alam dan sejarah yang tak tertandingi.

#

Keajaiban Pesisir dan Alam Tersembunyi

Sebagai wilayah pesisir, Tulungagung memiliki deretan pantai yang memukau. Pantai Gemah menjadi primadona dengan akses Jalur Lintas Selatan (JLS) yang menyuguhkan pemandangan aspal mulus membelah perbukitan. Jika Anda mencari ketenangan, Pantai Kedung Tumpang menawarkan pengalaman unik berupa kolam renang alami di atas tebing karang dengan air payau yang jernih. Untuk pencinta ketinggian, Gunung Budheg menyediakan trek pendakian singkat namun menantang untuk melihat matahari terbit di atas hamparan kabut kota. Jangan lewatkan pula Air Terjun Alas Kandung yang memiliki tingkatan air berwarna biru toska yang menyegarkan di tengah rimbunnya hutan jati.

#

Jejak Sejarah dan Warisan Budaya

Sisi historis Tulungagung terpahat nyata pada Candi Penataran versi

Economy

#

Profil Ekonomi Kabupaten Tulungagung: Pusat Industri Kreatif dan Maritim Jawa Timur

Kabupaten Tulungagung, yang terletak di pesisir selatan Provinsi Jawa Timur dengan luas wilayah 1.155,38 km², merupakan entitas ekonomi yang unik dan strategis. Berbatasan langsung dengan enam wilayah administratif—Kediri, Blitar, Nganjuk, Trenggalek, serta Samudra Hindia di sisi selatan—Tulungagung tumbuh menjadi hub ekonomi yang memadukan kekayaan agraris, kekuatan industri manufaktur, dan potensi maritim yang signifikan.

##

Sektor Industri Pengolahan dan Kerajinan Khas

Salah satu pilar utama ekonomi Tulungagung adalah industri pengolahan, khususnya batu mulia dan marmer. Kecamatan Campurdarat telah lama dikenal di tingkat internasional sebagai pusat kerajinan marmer berkualitas tinggi yang diolah menjadi berbagai produk dekoratif hingga lantai mewah. Selain itu, Tulungagung memiliki spesialisasi unik dalam industri peralatan rumah tangga dan konveksi. Industri pakaian jadi di wilayah ini mampu menyerap tenaga kerja lokal dalam jumlah besar, menjadikannya salah satu penyokong utama Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

##

Ekonomi Maritim dan Blue Economy

Memiliki garis pantai yang membentang luas di sepanjang Laut Indonesia, sektor perikanan merupakan aset vital. Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Popoh menjadi pusat aktivitas ekonomi nelayan, di mana komoditas seperti tuna, tongkol, dan cakalang menjadi andalan ekspor. Pemerintah daerah kini mulai mengintegrasikan ekonomi maritim dengan pariwisata bahari, seperti pengembangan Pantai Gemah yang telah bertransformasi menjadi destinasi wisata massal yang menggerakkan sektor UMKM dan jasa transportasi lokal.

##

Agrikultur dan Ketahanan Pangan

Sebagai wilayah yang subur, sektor pertanian tetap menjadi tulang punggung bagi masyarakat pedesaan. Tulungagung adalah salah satu produsen utama komoditas tembakau dan kakao di Jawa Timur. Di sektor peternakan, wilayah ini memegang peranan penting sebagai salah satu pusat penghasil susu sapi perah dan telur ayam ras terbesar, yang memasok kebutuhan protein bagi kota-kota besar di sekitarnya.

##

Infrastruktur dan Konektivitas Wilayah

Perkembangan ekonomi Tulungagung didorong oleh peningkatan infrastruktur transportasi. Kehadiran Jalur Lintas Selatan (JLS) yang menghubungkan wilayah pesisir telah membuka isolasi ekonomi dan mempercepat distribusi barang. Selain itu, rencana pembangunan jalan tol yang menghubungkan Tulungagung dengan Kediri dan akses menuju Bandara Dhoho Kediri diprediksi akan mengubah lanskap ekonomi secara drastis, meningkatkan arus investasi di sektor jasa dan perhotelan.

##

Tren Ketenagakerjaan dan Masa Depan

Tren ketenagakerjaan di Tulungagung menunjukkan pergeseran dari sektor agraris murni ke sektor jasa dan perdagangan. Kewirausahaan lokal tumbuh pesat berkat digitalisasi produk unggulan seperti "Gethuk Pisang" dan kerajinan anyaman bambu. Dengan status wilayah "Epic" dalam konteks geoeconomy Jawa Timur bagian selatan, Tulungagung terus bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi mandiri yang memadukan kearifan lokal dengan inovasi industri modern.

Demographics

#

Profil Demografis Kabupaten Tulungagung: Harmoni di Pesisir Selatan

Tulungagung, sebuah kabupaten strategis di wilayah "Mataraman" Jawa Timur, memiliki karakteristik demografis yang unik sebagai titik temu antara budaya agraris pedalaman dan dinamika pesisir selatan. Dengan luas wilayah 1.155,38 km², kabupaten ini dihuni oleh lebih dari 1,1 juta jiwa, menciptakan kepadatan penduduk rata-rata mencapai 950 hingga 1.000 jiwa per km². Distribusi penduduk terkonsentrasi di kawasan dataran rendah bagian tengah dan utara seperti Kecamatan Tulungagung Kota, Kedungwaru, dan Boyolangu, sementara wilayah selatan yang berbukit memiliki kepadatan yang lebih rendah namun terus berkembang seiring dibukanya Jalur Lintas Selatan (JLS).

Komposisi Etnis dan Budaya

Secara etnis, penduduk Tulungagung didominasi oleh suku Jawa dengan dialek khas Mataraman yang halus namun memiliki kosakata lokal yang spesifik. Keberagaman budaya terlihat dari harmonisasi komunitas Tionghoa yang terintegrasi dengan baik di pusat kota serta komunitas santri yang kuat di wilayah Ngunut dan Karangrejo. Identitas budaya ini tercermin dalam tradisi lokal seperti Ulur-Ulur di Telaga Buret dan kesenian Reog Kendang yang menjadi simbol kohesi sosial antar-generasi.

Struktur Usia dan Pendidikan

Struktur kependudukan Tulungagung menunjukkan tren "piramida ekspansif menuju stasioner," di mana proporsi penduduk usia produktif (15-64 tahun) sangat dominan, memberikan peluang bonus demografi yang signifikan. Angka melek huruf di wilayah ini sangat tinggi, melampaui 98%, yang didukung oleh keberadaan pusat pendidikan tinggi seperti UIN Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU). Hal ini menciptakan strata masyarakat yang terpelajar dengan orientasi kuat pada sektor jasa dan industri kreatif.

Dinamika Migrasi dan Urbanisasi

Salah satu ciri khas demografis yang paling mencolok di Tulungagung adalah tingginya angka migrasi internasional. Kabupaten ini merupakan salah satu pengirim Pekerja Migran Indonesia (PMI) terbesar di Jawa Timur. Fenomena ini menciptakan struktur ekonomi rumah tangga yang unik, di mana remitansi menjadi motor penggerak pembangunan di desa-desa. Urbanisasi di Tulungagung tidak hanya berbentuk perpindahan fisik ke kota, tetapi juga "urbanisasi perdesaan" (rurbanisasi), di mana fasilitas perkotaan mulai merambah wilayah desa tanpa menghilangkan karakter agrarisnya. Pergerakan penduduk ini membentuk pola masyarakat yang terbuka, adaptif terhadap teknologi, namun tetap memegang teguh nilai-nilai kekeluargaan tradisional.

💡 Fakta Unik

  • 1.Wilayah ini merupakan lokasi penandatanganan Piagam Sangguran pada tahun 928 Masehi, sebuah prasasti kuno yang sempat dibawa ke Skotlandia oleh Lord Minto sebelum akhirnya dikembalikan ke Indonesia.
  • 2.Kesenian khas daerah ini menampilkan penari laki-laki dengan riasan wajah mencolok dan gerakan lincah yang disebut Tari Ngremo, yang secara historis digunakan untuk menyambut tamu agung.
  • 3.Dua jembatan besar di wilayah ini melintasi Sungai Brantas dan menghubungkan kawasan industri utama dengan pusat pemerintahan, menciptakan jalur logistik vital bagi perekonomian Jawa Timur.
  • 4.Dikenal sebagai 'Kota Udang dan Bandeng', simbol kedua hewan laut ini diabadikan dalam monumen besar di pusat kota sebagai representasi komoditas ekspor unggulan dari sektor tambak.

Destinasi di Tulungagung

Semua Destinasi

Tempat Lainnya di Jawa Timur

Lokasi Serupa

Panduan Perjalanan Terkait

Memuat panduan terkait...

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Uji Pengetahuanmu!

Apakah kamu bisa menebak Tulungagung dari siluet petanya?