Situs Sejarah

Candi Penataran

di Tulungagung, Jawa Timur

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Megahnya Candi Penataran: Episentrum Spiritual dan Simbol Kejayaan Jawa Timur

Candi Penataran, yang secara administratif terletak di lereng barat daya Gunung Kelud, merupakan kompleks percandian Hindu terbesar dan paling terpelihara di Jawa Timur. Meskipun sering dikaitkan dengan wilayah sekitarnya karena aksesibilitasnya, situs ini berdiri kokoh sebagai saksi bisu perjalanan panjang tiga kerajaan besar: Kediri, Singasari, hingga puncak kejayaan Majapahit. Dikenal dalam prasasti-prasasti kuno sebagai Palah, kompleks ini bukan sekadar tumpukan batu, melainkan pusat spiritualitas negara yang mencerminkan evolusi arsitektur dan teologi Jawa Kuno selama lebih dari 250 tahun.

#

Asal-Usul Historis dan Periode Pembangunan

Pembangunan Candi Penataran tidak terjadi dalam satu masa singkat, melainkan melalui proses berkelanjutan yang dimulai sejak abad ke-12. Berdasarkan Prasasti Palah yang berangka tahun 1197 Masehi, situs ini dibangun oleh Raja Srngga dari Kerajaan Kediri. Dalam prasasti tersebut disebutkan bahwa Raja Srngga melakukan pemujaan kepada Sira Hyang Acalapati (Dewa Penguasa Gunung) atau Dewa Siwa. Hal ini menunjukkan bahwa sejak awal, Penataran berfungsi sebagai candi gunung (state temple) yang ditujukan untuk menenangkan kekuatan alam Gunung Kelud yang sering meletus.

Memasuki era Kerajaan Singasari dan kemudian Majapahit, fungsi Candi Penataran semakin vital. Kitab Negarakertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca mencatat bahwa Raja Hayam Wuruk sangat sering mengunjungi kompleks ini dalam perjalanan kelilingnya di wilayah Jawa Timur. Hal ini membuktikan bahwa Penataran memiliki status sebagai candi kerajaan (Dharma Lepas) yang dilindungi langsung oleh penguasa pusat.

#

Arsitektur dan Tata Letak Linier yang Unik

Berbeda dengan candi-candi di Jawa Tengah seperti Borobudur atau Prambanan yang memiliki tata letak konsentris (terpusat di tengah), Candi Penataran menerapkan pola tata letak linier. Kompleks ini terbagi menjadi tiga halaman (halaman depan, tengah, dan belakang) yang semakin ke belakang posisinya semakin tinggi dan dianggap semakin suci.

1. Halaman Depan: Di area ini terdapat Bale Agung dan Pendopo Teras. Pendopo Teras ini sangat unik karena seluruh dindingnya dihiasi oleh relief cerita Bubuksah dan Gagang Aking serta Sang Satyawan. Relief ini dipahat dengan gaya "Wayang" yang sangat khas Jawa Timuran—dengan bentuk tubuh yang gepeng dan detail yang sangat dekoratif.

2. Halaman Tengah: Di sini berdiri Candi Naga, sebuah bangunan yang namanya diambil dari relief naga raksasa yang melingkari tubuh candi. Naga ini disangga oleh figur-figur yang mengenakan pakaian kebesaran kerajaan, yang diyakini melambangkan perlindungan terhadap kesucian air atau amrta.

3. Halaman Belakang: Merupakan bagian paling suci di mana Candi Induk berdiri. Candi Induk ini terdiri dari tiga tingkatan teras. Di dinding terasnya, terpahat relief epik Ramayana dan Krishnayana. Gaya pemahatan di sini sangat dinamis, menunjukkan transisi dari pengaruh seni India menuju estetika lokal Jawa yang kental.

#

Makna Signifikansi dan Peristiwa Bersejarah

Candi Penataran memiliki signifikansi yang luar biasa dalam memetakan silsilah raja-raja Jawa. Salah satu temuan unik di sini adalah "Candi Angka Tahun" atau Candi Berangka Tahun 1291 Saka (1369 M). Candi ini sering disebut sebagai Candi Brawijaya karena dibangun pada masa keemasan Majapahit di bawah pemerintahan Hayam Wuruk dan Mahapatih Gadjah Mada.

Signifikansi lainnya terletak pada fungsi teologisnya. Penataran adalah perwujudan konsep Gunung Meru di bumi. Masyarakat Jawa Kuno percaya bahwa gunung adalah tempat bersemayamnya para dewa dan roh leluhur. Dengan membangun kompleks megah di lereng Gunung Kelud, para raja Majapahit berupaya menyatukan kekuatan politik mereka dengan legitimasi spiritual keagamaan.

#

Tokoh-Tokoh Penting dan Hubungan Kekuasaan

Nama besar seperti Raja Kertajaya (Kediri), Ken Arok (Singasari), hingga Raden Wijaya dan Hayam Wuruk (Majapahit) semuanya memiliki keterikatan dengan situs ini. Bagi Gadjah Mada, Candi Penataran diyakini sebagai tempat di mana ia mengucapkan Sumpah Palapa atau setidaknya melakukan meditasi penting sebelum menjalankan ekspansi penyatuan Nusantara. Kehadiran relief-relief peperangan dan kehidupan istana di dinding candi memberikan gambaran visual tentang bagaimana strata sosial dan militer pada masa itu dikonstruksikan.

#

Pelestarian dan Upaya Restorasi

Setelah runtuhnya Majapahit dan masuknya pengaruh Islam di Jawa, Candi Penataran sempat terlupakan dan tertimbun material vulkanik Gunung Kelud serta rimbunnya hutan. Situs ini "ditemukan kembali" oleh penjajah Belanda, Sir Stamford Raffles, pada tahun 1815. Namun, pemugaran secara sistematis baru dimulai pada awal abad ke-20 oleh pemerintah kolonial melalui Oudheidkundige Dienst (Dinas Purbakala).

Saat ini, Candi Penataran berada di bawah perlindungan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI. Upaya restorasi terus dilakukan, terutama pada bagian-bagian yang rentan terhadap pelapukan akibat cuaca ekstrim dan aktivitas vulkanik. Meskipun beberapa bagian candi telah hilang atau tidak utuh, struktur utamanya tetap berdiri kokoh dan menjadi objek penelitian arkeologi yang tak habis-habisnya.

#

Kepentingan Budaya dan Religi di Era Modern

Hingga saat ini, Candi Penataran masih memegang peran penting dalam kehidupan budaya masyarakat lokal dan umat Hindu di Indonesia. Setiap tahun, berbagai upacara keagamaan seperti Galungan atau perayaan hari besar Hindu lainnya masih sering dilaksanakan di pelataran candi. Selain itu, pemerintah daerah sering menyelenggarakan festival budaya dan pagelaran seni tradisional di area ini untuk menghidupkan kembali memori kolektif tentang kejayaan Majapahit.

Secara edukatif, Penataran menjadi laboratorium sejarah yang menunjukkan bagaimana teknologi konstruksi batu andesit pada masa lampau telah mencapai tingkat presisi yang sangat tinggi tanpa menggunakan semen modern. Penggunaan teknik interlocking (kancingan) pada batu-batu candi membuktikan kecerdasan arsitek masa lalu dalam menghadapi ancaman gempa bumi.

#

Kesimpulan

Candi Penataran adalah permata sejarah Jawa Timur yang merangkum estetika, religi, dan ambisi politik para penguasa Nusantara kuno. Melalui relief-reliefnya, kita diajak membaca narasi tentang kepahlawanan, cinta, dan pengabdian kepada Tuhan. Sebagai situs sejarah yang melintasi berbagai zaman, Penataran bukan hanya warisan fisik berupa batu, melainkan warisan nilai tentang bagaimana sebuah bangsa menghargai spiritualitas dan alam lingkungannya. Menjaga kelestarian Candi Penataran berarti menjaga akar identitas bangsa yang telah tertanam sejak ribuan tahun silam di bumi Tulungagung dan sekitarnya.

📋 Informasi Kunjungan

address
Lereng barat daya Gunung Kelud, Utara Tulungagung
entrance fee
Sukarela / Donasi
opening hours
Setiap hari, 08:00 - 17:00

Tempat Menarik Lainnya di Tulungagung

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Tulungagung

Pelajari lebih lanjut tentang Tulungagung dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Tulungagung