Candi Dadi
di Tulungagung, Jawa Timur
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Kemegahan di Puncak Bukit: Menelusuri Jejak dan Misteri Candi Dadi Tulungagung
Kabupaten Tulungagung di Jawa Timur menyimpan kekayaan arkeologis yang unik dan berbeda dari wilayah lain di bekas jantung Kerajaan Majapahit. Salah satu situs yang paling menonjol secara geografis dan arsitektural adalah Candi Dadi. Terletak di puncak perbukitan Walikukun, Desa Wajak Kidul, Kecamatan Boyolangu, Candi Dadi bukan sekadar tumpukan batu andesit, melainkan simbol pencapaian spiritual dan ketahanan arsitektur di ketinggian.
#
Latar Belakang Sejarah dan Asal-Usul
Candi Dadi diperkirakan dibangun pada rentang waktu akhir abad ke-14 hingga awal abad ke-15 Masehi. Periode ini bertepatan dengan masa surutnya kekuasaan Majapahit pasca pemerintahan Hayam Wuruk, di mana fokus spiritualitas masyarakat mulai bergeser ke arah pemujaan di tempat-tempat tinggi (pegunungan). Berdasarkan gaya bangunannya yang tidak memiliki relief tokoh manusia, para arkeolog menempatkan Candi Dadi dalam fase sejarah Majapahit Akhir.
Nama "Dadi" dalam bahasa Jawa berarti "menjadi" atau "terwujud". Namun, secara kontekstual, nama ini lebih merujuk pada keberadaan struktur yang "sudah jadi" atau tetap kokoh meskipun berada di lingkungan yang ekstrem. Candi ini merupakan bagian dari kompleks percandian di Pegunungan Kapur Selatan yang mencakup Candi Pitrang, Candi Gambar, dan Candi Urung, namun Candi Dadi adalah yang paling utuh dan terbesar di antara semuanya.
#
Arsitektur Unik: Candi Tanpa Tangga
Karakteristik utama yang membedakan Candi Dadi dari candi-candi lain di Jawa Timur adalah struktur fisiknya. Candi ini berdiri di atas fondasi denah bujur sangkar dengan ukuran sekitar 14 x 14 meter dan tinggi mencapai 12 meter. Hal yang paling unik dan menjadi misteri bagi para peneliti adalah ketiadaan tangga naik, ketiadaan pintu masuk, dan ketiadaan ruangan (garba graha) di dalam tubuh candi.
Secara struktural, Candi Dadi terdiri dari batur (kaki) yang bertingkat-tingkat. Bagian atas candi berbentuk silinder menyerupai sumuran besar dengan diameter sekitar 3,75 meter. Lubang di tengah ini memicu berbagai spekulasi fungsional. Beberapa ahli berpendapat bahwa lubang tersebut berfungsi sebagai tempat pembakaran jenazah (krematorium) bagi tokoh penting, sementara yang lain meyakini lubang tersebut adalah tempat menaruh sesaji atau simbol kekosongan dalam ajaran keagamaan tertentu.
Konstruksinya menggunakan batu andesit yang dipahat halus dengan teknik interlocking (penguncian) yang sangat presisi. Meskipun tidak memiliki relief cerita seperti Candi Penataran, Candi Dadi memiliki profil bingkai yang tegas dan proporsional, menunjukkan bahwa pembangunnya adalah pemahat profesional yang memahami estetika geometri.
#
Signifikansi Keagamaan dan Kosmologi
Candi Dadi diyakini sebagai tempat suci bagi pemujaan Dewa Siwa atau merupakan perwujudan dari konsep Gunung Meru. Lokasinya yang berada di puncak bukit (sekitar 360 meter di atas permukaan laut) mencerminkan kepercayaan kuno bahwa gunung adalah tempat bersemayamnya para dewa dan roh leluhur.
Keunikan lubang silinder di puncaknya sering dikaitkan dengan pemujaan "Akasa" atau angkasa/langit. Dalam beberapa naskah kuno Jawa Timur, terdapat aliran yang memuja kekosongan atau keheningan. Tidak adanya relief makhluk hidup memperkuat dugaan bahwa candi ini digunakan untuk meditasi tingkat tinggi yang melepaskan diri dari ikatan duniawi. Selain itu, posisi candi yang menghadap ke arah tertentu memungkinkan penggunaan situs ini sebagai titik pengamatan astronomi sederhana bagi para pendeta zaman dahulu untuk menentukan waktu ritual berdasarkan posisi bintang.
#
Tokoh dan Periode Terkait
Meskipun tidak ditemukan prasasti yang secara spesifik menyebutkan nama raja pembangunnya, Candi Dadi erat kaitannya dengan periode pelarian atau pengasingan diri para bangsawan Majapahit. Ketika stabilitas politik di pusat kerajaan (Trowulan) mulai goyah akibat Perang Paregreg, banyak elit agama dan bangsawan yang mencari ketenangan di wilayah selatan (Wajak).
Wilayah Wajak sendiri merupakan daerah yang penting sejak zaman prasejarah (situs manusia purba Homo wajakensis). Kehadiran Candi Dadi di wilayah ini menunjukkan bahwa Tulungagung selatan adalah zona "spiritual sanctuary" bagi peradaban Jawa kuno selama berabad-abad.
#
Upaya Pelestarian dan Kondisi Saat Ini
Candi Dadi telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya oleh pemerintah Indonesia. Karena lokasinya yang berada di area hutan yang dikelola Perhutani, tantangan utama pelestariannya adalah faktor alam dan aksesibilitas. Pada masa lalu, candi ini mengalami kerusakan akibat pertumbuhan vegetasi liar dan akar pohon yang menyusup di sela-sela batu.
Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jawa Timur telah melakukan beberapa kali tahap pemugaran dan pembersihan. Saat ini, lingkungan sekitar candi telah tertata lebih rapi dengan adanya area terbuka agar struktur batu tidak lembap. Namun, karena tidak adanya tangga, pengunjung dilarang keras memanjat tubuh candi guna menjaga kestabilan struktur batu andesit yang sudah berusia ratusan tahun tersebut.
#
Fakta Unik dan Daya Tarik
Salah satu fakta unik Candi Dadi adalah lokasinya yang memberikan pandangan 360 derajat ke arah dataran rendah Tulungagung. Dari puncak ini, seseorang dapat melihat bentang alam yang luas, yang memperkuat teori bahwa candi ini juga berfungsi sebagai menara pengawas (pos pantau) strategis selain sebagai tempat ibadah.
Fakta lainnya adalah keberadaan "Candi Urung" di dekatnya. Kata "Urung" berarti "batal" atau "tidak jadi". Hal ini menciptakan narasi kontras di tengah masyarakat lokal antara Candi Dadi (yang berhasil diselesaikan) dan Candi Urung (yang pengerjaannya terhenti), memberikan gambaran tentang dinamika sosial atau bencana yang mungkin terjadi saat proses pembangunan kompleks tersebut berlangsung di masa lampau.
Candi Dadi tetap menjadi salah satu monumen paling megah di pesisir selatan Jawa. Keberadaannya yang sunyi di puncak bukit terus mengundang decak kagum sekaligus teka-teki tentang bagaimana masyarakat abad ke-14 mampu mengangkut ribuan batu andesit besar ke puncak gunung demi sebuah pengabdian spiritual kepada Sang Pencipta.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Tulungagung
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Tulungagung
Pelajari lebih lanjut tentang Tulungagung dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Tulungagung