Di atas rakit bambu yang meliuk mengikuti arus Sungai Amandit, seorang pemandu asal Loksado hanya mengandalkan sebatang galah panjang dan kaki telanjangnya yang sudah hafal setiap bebatuan sungai. Bulan April 2025, ketika UNESCO mengumumkan status barunya dari markas besarnya di Paris, kebanyakan penumpang rakit ini bahkan belum tahu bahwa hutan dan sungai yang mereka susuri sejak lama kini punya nama besar di peta dunia: Geopark Meratus, taman bumi global yang membentang dari jantung Pegunungan Meratus di Kalimantan Selatan hingga ke muara-muara sungai yang berkelok menuju Laut Jawa.
Taman Bumi yang Baru Naik Kelas Dunia
Pengakuan itu datang dalam Sidang Dewan Eksekutif UNESCO ke-221 di Paris, awal-pertengahan April 2025. Bersama Geopark Kebumen di Jawa Tengah, Geopark Meratus dinobatkan sebagai UNESCO Global Geopark, menggenapkan jumlah geopark dunia UNESCO di Indonesia menjadi 12. Yang membuatnya istimewa: Meratus adalah geopark pertama di Pulau Kalimantan yang meraih status ini โ sebuah pencapaian yang selama bertahun-tahun luput dari sorotan karena Kalimantan Selatan bukan destinasi yang biasa disebut dalam obrolan soal liburan ke Indonesia.
Wilayah geopark ini tidak kecil: sekitar 3.645 kilometer persegi, mencakup enam kabupaten/kota โ Banjarbaru, Banjarmasin, Hulu Sungai Selatan, Tapin, Barito Kuala, dan Banjar. Di dalamnya tersebar 54 geosite yang dikelompokkan dalam empat jalur wisata: Utara, Timur, Selatan, dan Barat. Artinya, Geopark Meratus bukan cuma soal satu gunung atau satu lembah, melainkan satu bentang alam utuh yang menyambungkan pegunungan purba di pedalaman dengan kota-kota sungai dan hutan bakau di pesisir. Pengelolaannya kini diarahkan pada tiga pilar UNESCO โ konservasi, edukasi, dan pembangunan ekonomi berkelanjutan โ dengan revalidasi berikutnya dijadwalkan pada 2028.
Batu yang Menyimpan Riwayat Bumi
Alasan geologis di balik pengakuan ini cukup mengesankan bagi yang menyukai cerita bumi purba. Pegunungan Meratus menyimpan rekaman evolusi tektonik yang dimulai pada periode Jura, 201 hingga 145 juta tahun lalu, dan menjadi rumah bagi salah satu seri ofiolit tertua di Indonesia โ potongan kerak samudra dan mantel atas yang terangkat dan tersingkap ke permukaan akibat proses tumbukan lempeng. Bagi orang awam, artinya sederhana: batuan yang diinjak di sepanjang jalur trekking Meratus dulunya adalah dasar laut yang terdorong naik jutaan tahun sebelum manusia pertama menginjakkan kaki di Kalimantan.
Warisan geologis itu juga yang melahirkan salah satu kekayaan paling terkenal dari Kalimantan Selatan: intan. Endapan aluvial di kawasan CempakaโMartapura, Kabupaten Banjar, terbentuk dari sedimen Sungai Martapura purba yang terangkat seiring pengangkatan Pegunungan Meratus sekitar satu hingga lima juta tahun lalu. Penambangan intan di sini sudah berlangsung sejak abad ke-17, ketika Kesultanan Banjar menguasai perdagangannya dan batu-batu dari Kalimantan mengalir hingga ke istana-istana di Jawa dan Semenanjung Malaya. Puncaknya terjadi pada 26 Agustus 1965, saat penambang tradisional Cempaka menemukan bongkahan intan seberat 166,75 karat โ kemudian diberi nama Trisakti oleh Presiden Sukarno. Setelah dipotong oleh rumah intan Asscher di Amsterdam, bagian terbesarnya menjadi berlian merah muda seberat 50,53 karat, yang hingga kini masih tercatat sebagai berlian merah muda terbesar yang pernah ditemukan di dunia. Penambangan tradisional dengan cara mendulang masih bisa disaksikan langsung di area tambang Cempaka.
Hutan yang Belum Habis Diteliti
Kekayaan hayati Meratus juga baru mulai terungkap. Kawasan pegunungan ini menyimpan beragam anggrek, termasuk Dendrobium stuartii, Bulbophyllum lobbii, Trichoglottis bipenicillata, hingga anggrek tebu raksasa Grammatophyllum speciosum dan anggrek sendok Spathoglottis urea yang tergolong langka. Sebuah rumah konservasi anggrek di Tahura Sultan Adam kini merawat sekitar 110 jenis, 58 di antaranya spesies asli Kalimantan Selatan.
Di ujung lain geopark, di kawasan pesisir Barito Kuala, cerita konservasi berlanjut dengan cara berbeda. Pulau Curiak, yang menjadi habitat bekantan (Nasalis larvatus) โ monyet berhidung besar khas Kalimantan yang jadi maskot fauna Kalimantan Selatan โ tengah dipulihkan lewat penanaman mangrove rambai (Sonneratia caseolaris), sumber pakan utama bekantan yang habitatnya menyusut akibat alih fungsi lahan. Wisatawan bisa ikut menyusuri sungai dengan perahu untuk mengamati bekantan liar sekaligus berpartisipasi dalam penanaman mangrove bersama komunitas Sahabat Bekantan Indonesia.
Dayak Meratus dan Balai Adat
Di balik keajaiban geologi dan hayati itu, ada manusia yang sudah lama menjaga kawasan ini: masyarakat adat Dayak Meratus (juga disebut Dayak Bukit), yang hidup tersebar di lereng-lereng pegunungan, terutama di sekitar Loksado. Rumah komunal mereka disebut balai adat โ bangunan kayu panggung besar, sebagian mencapai ukuran puluhan meter, yang dulunya menampung belasan hingga puluhan keluarga sekaligus dalam bilik-bilik kecil di sekeliling ruang bersama yang disebut laras. Saat ini setidaknya 43 balai masih berdiri di sembilan desa di wilayah Loksado, salah satu yang paling dikenal adalah Balai Adat Malaris di Desa Loklahung.
Sebagian besar keluarga kini sudah membangun rumah pribadi dan tidak lagi tinggal menetap di balai, tapi bangunan ini tetap dirawat dan digunakan untuk upacara adat serta musyawarah komunitas โ bukan cagar budaya yang dibekukan untuk ditonton, melainkan ruang yang masih hidup. Berkunjung ke balai adat sebaiknya dilakukan bersama pemandu lokal yang bisa menjembatani kunjungan dengan sopan, terutama jika ada upacara sedang berlangsung.
Apa yang Bisa Dilakukan di Loksado
Loksado, kecamatan kecil di kaki Pegunungan Meratus, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, adalah gerbang utama menuju sisi petualangan Geopark Meratus. Aktivitas paling ikonik di sini adalah bamboo rafting โ atau dalam bahasa lokal disebut balanting paring โ menyusuri Sungai Amandit sejauh sekitar 14 kilometer selama dua hingga tiga jam. Rakit bambu yang dipakai bukan sekadar wahana wisata: dulu ini adalah moda transportasi warga Dayak Meratus untuk membawa hasil hutan dan kebun ke kota. Setiap tahun, Festival Bamboo Rafting turut merayakan tradisi ini.
Setelah basah-basahan di sungai, Pemandian Air Panas Tanuhi di Desa Hulu Banyu โ sekitar 31 kilometer dari Kandangan โ jadi tempat istirahat yang pas. Sumber air panasnya bukan berasal dari gunung berapi, melainkan dari peluruhan radioaktif alami di batuan granit Kelompok Granit Batanglai/Belawaian yang berumur 95โ135 juta tahun. Fasilitasnya sederhana, dengan tiket masuk sekitar Rp5.000 per orang, kolam rendam air panas, dan beberapa cottage untuk menginap.
Untuk yang ingin trekking lebih jauh, air terjun Riam Hanai dan Riam Barajang di Desa Loklahung bisa ditempuh dengan jalan kaki singkat melewati hutan tropis yang rimbun โ cocok dipadukan dengan kunjungan ke Balai Adat Malaris yang berada di kompleks yang sama.
Bagaimana Menuju ke Sana
Pintu masuk utama adalah Bandara Internasional Syamsudin Noor di Banjarbaru, sekitar 22 menit berkendara dari pusat Kota Banjarmasin, ibu kota Kalimantan Selatan. Dari Banjarmasin, perjalanan darat menuju Kandangan โ kota kabupaten terdekat dengan Loksado โ memakan waktu sekitar satu jam empat puluh menit, biasanya dilanjutkan angkutan umum jenis L300 atau mobil sewaan menuju Loksado, sehingga total perjalanan dari Banjarmasin ke Loksado umumnya berkisar empat hingga lima jam.
Rencana Perjalanan Tiga Hari Dua Malam
Hari 1 โ Banjarmasin. Mulai pagi buta, sekitar pukul 04.30, dengan naik perahu menuju Pasar Terapung Lok Baintan di Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, sekitar satu jam dari kota. Di sini pedagang perempuan berdayung jukung menjajakan hasil kebun sejak subuh hingga sekitar pukul delapan pagi โ salah satu pasar terapung tertua di Banjarmasin. Siang hari lanjut ke arah Martapura untuk melihat area tambang tradisional Cempaka, lalu sore hari berkendara menuju Kandangan untuk bermalam.
Hari 2 โ Loksado. Pagi hari lanjutkan perjalanan ke Loksado, check-in homestay, lalu langsung mencoba bamboo rafting menyusuri Sungai Amandit. Sore hari, berendam di Air Panas Tanuhi sambil melepas lelah, ditutup dengan makan malam bersama warga di homestay.
Hari 3 โ Trekking dan pulang. Pagi hari trekking singkat ke Riam Hanai dan Riam Barajang, mampir ke Balai Adat Malaris jika ada kesempatan berbincang dengan warga, lalu kembali ke Banjarmasin untuk penerbangan sore atau malam.
Tips Praktis
Musim terbaik berkunjung adalah Mei hingga September, saat cuaca relatif cerah; setelah hujan ringan, debit Sungai Amandit justru dianggap paling ideal untuk rafting. Homestay di Loksado umumnya terjangkau, mulai dari kisaran Rp150.000 per malam, dan pemilik homestay biasanya bisa membantu memesankan pemandu untuk trekking maupun rafting โ sangat disarankan mengingat medan dan sungai yang butuh kehati-hatian. Sinyal telepon di sebagian wilayah Loksado terbatas, jadi bawa power bank dan senter cadangan, serta alas kaki yang nyaman untuk medan basah dan berbatu.
Berkunjung dengan Sopan
Karena Geopark Meratus adalah rumah bagi masyarakat adat yang masih hidup, bukan sekadar taman wisata kosong, ada beberapa hal kecil yang sebaiknya diperhatikan. Selalu minta izin sebelum memotret warga atau bagian dalam balai adat, terutama bila sedang berlangsung kegiatan bersama. Berpakaian sopan saat memasuki desa, dan ikuti arahan pemandu lokal soal area mana yang boleh dan tidak boleh dimasuki โ beberapa bagian hutan dan sungai dianggap memiliki nilai spiritual bagi warga Dayak Meratus dan bukan sekadar lokasi wisata. Membeli hasil kerajinan atau produk pertanian langsung dari warga, alih-alih dari toko suvenir di kota, adalah cara sederhana memastikan status UNESCO ini benar-benar membawa manfaat ekonomi ke masyarakat yang selama ini menjaga kawasan tersebut, bukan hanya ke operator wisata dari luar daerah.
Sampah plastik sebaiknya dibawa kembali turun, mengingat sistem pengelolaan sampah di desa-desa pegunungan seperti ini masih terbatas. Untuk bamboo rafting, ikuti instruksi pemandu soal pelampung dan posisi duduk โ arus Sungai Amandit bisa berubah cepat setelah hujan di hulu, dan pemandu lokal yang sudah membaca sungai ini sejak kecil adalah sumber keselamatan terbaik, bukan aplikasi cuaca.
Kenapa Harus Sekarang
Status UNESCO baru sering berarti dua hal berturut-turut: perhatian dunia yang meningkat, lalu โ cepat atau lambat โ jalan yang lebih ramai, promosi yang lebih gencar, dan harga yang mulai naik. Geopark Meratus hari ini masih berada di fase pertama itu: pengakuan sudah didapat, tapi kunjungan internasional belum benar-benar datang, homestay masih dikelola keluarga, dan seorang pemandu di Amandit masih bisa mengobrol panjang tanpa terburu-buru melayani rombongan berikutnya. Bagi yang ingin merasakan geopark ini sebagaimana warga Dayak Meratus sendiri mengenalnya โ bukan sebagai atraksi yang sudah dikemas ulang untuk wisatawan massal โ jendela waktu itu sedang terbuka, dan kemungkinan besar tidak akan terbuka selamanya.