Hulu Sungai Selatan

Common
Kalimantan Selatan
Luas
1.728,49 km²
Posisi
tengah
Jumlah Tetangga
6 wilayah
Pesisir
Tidak

Dipublikasikan: Januari 2025

History

#

Sejarah dan Perkembangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan

Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), dengan ibu kota Kandangan, merupakan wilayah strategis yang terletak di jantung provinsi Kalimantan Selatan. Meliputi area seluas 1.728,49 km², wilayah ini secara geografis dikelilingi oleh enam wilayah tetangga: Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Tapin, Banjar, Kotabaru, dan Tanah Bumbu. Sebagai daerah non-pesisir, sejarah HSS berakar kuat pada peradaban sungai dan pegunungan Meratus.

##

Era Kesultanan dan Perlawanan Kolonial

Akar sejarah Hulu Sungai Selatan tidak dapat dipisahkan dari dinamika Kesultanan Banjar. Wilayah ini dahulu dikenal sebagai bagian dari "Distrik Amandit" dan "Distrik Negara". Salah satu babak paling heroik terjadi selama Perang Banjar (1859-1905). Tokoh legendaris seperti Tumenggung Antaludin membangun benteng pertahanan di Gunung Madang untuk melawan invasi Belanda. Wilayah Negara, yang terkenal dengan industri pandai besi sejak abad ke-18, menjadi pusat logistik persenjataan bagi para pejuang Banjar, menunjukkan peran vital HSS dalam konfrontasi melawan kolonialisme.

##

Masa Revolusi Fisik dan Proklamasi 17 Mei 1949

Kontribusi paling signifikan Hulu Sungai Selatan terhadap sejarah nasional Indonesia terjadi pada masa revolusi kemerdekaan. HSS menjadi basis utama ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan di bawah pimpinan Brigjen H. Hasan Basry. Pada 17 Mei 1949, bertempat di Desa Ni’ih, diikrarkanlah Proklamasi Kalimantan yang menegaskan bahwa Kalimantan adalah bagian tak terpisahkan dari Republik Indonesia, menentang pembentukan negara boneka bentukan Belanda. Peristiwa ini sangat krusial karena menggagalkan upaya Belanda untuk mengisolasi Kalimantan dari kedaulatan RI. Monumen Proklamasi 17 Mei di Mandapai kini berdiri sebagai pengingat akan keberanian masyarakat Kandangan.

##

Pembentukan Administratif dan Otonomi

Secara administratif, Kabupaten Hulu Sungai Selatan resmi dibentuk pada 2 Desember 1950 berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1956. Sejak saat itu, Kandangan berkembang dari pusat militer gerilya menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan di wilayah "Banua Anam". Pembangunan infrastruktur mulai menghubungkan wilayah pedalaman Pegunungan Meratus hingga ke wilayah perairan di Kecamatan Negara.

##

Warisan Budaya dan Identitas Lokal

HSS memiliki kekayaan budaya yang spesifik, seperti tradisi Bagasing dan Bamanda. Secara historis, wilayah Negara di HSS dikenal sebagai pusat pembuatan kapal tradisional dan alat pertanian logam terbaik di Kalimantan. Dari sisi kuliner, Dodol Kandangan dan Ketupat Kandangan telah menjadi identitas yang dikenal secara nasional, mencerminkan akulturasi budaya agraris yang kuat.

##

Perkembangan Modern

Saat ini, Hulu Sungai Selatan bertransformasi menjadi daerah yang memadukan pelestarian sejarah dengan pembangunan modern. Kawasan Loksado, yang dihuni oleh masyarakat Dayak Meratus, menjadi pusat wisata budaya dan alam yang mendunia dengan tradisi Bamboo Rafting. Melalui visi pembangunan yang berkelanjutan, HSS terus menjaga situs-situs sejarahnya, seperti Masjid Suada (Masjid Baangkat) di Simpur yang dibangun pada 1908, sembari memperkuat posisinya sebagai pilar ekonomi di koridor tengah Kalimantan Selatan.

Geography

#

Geografi Kabupaten Hulu Sungai Selatan

Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) merupakan salah satu wilayah administratif penting di Provinsi Kalimantan Selatan. Memiliki luas wilayah sebesar 1728,49 km², kabupaten ini secara geografis terletak pada posisi sentral atau di bagian tengah provinsi. Meskipun terdapat kekeliruan penyebutan pulau dalam data administratif tertentu, secara faktual wilayah ini berada di jantung Pulau Kalimantan, bukan Jawa. Sebagai wilayah yang sepenuhnya dikelilingi daratan (landlocked), Hulu Sungai Selatan tidak memiliki garis pantai dan berbatasan langsung dengan enam wilayah administratif, yaitu Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Tapin, Banjar, serta Kabupaten Kotabaru di sisi timur.

##

Topografi dan Bentang Alam

Karakteristik topografi Hulu Sungai Selatan sangat unik karena terbagi menjadi dua zona kontras. Di bagian barat, wilayah ini didominasi oleh dataran rendah yang landai dan kawasan rawa monoton, terutama di Kecamatan Negara dan sekitarnya. Sebaliknya, di bagian timur, lanskap berubah drastis menjadi perbukitan dan pegunungan yang merupakan bagian dari Pegunungan Meratus. Puncak tertinggi di wilayah ini berada di kawasan Loksado, yang menawarkan lembah-lembah curam dan tebing karst yang megah. Struktur geologi ini menciptakan gradasi ketinggian yang signifikan, mulai dari hanya beberapa meter di atas permukaan laut hingga lebih dari 1.500 meter di puncak-puncak Meratus.

##

Hidrologi dan Aliran Sungai

Sungai merupakan urat nadi kehidupan di HSS. Sungai Amandit adalah fitur hidrografis paling ikonik yang membelah kabupaten ini. Sungai ini berhulu di Pegunungan Meratus dan mengalir deras melewati bebatuan besar di Loksado sebelum melandai saat mencapai ibu kota kabupaten, Kandangan. Aliran sungai ini bermuara ke Sungai Negara, yang merupakan anak sungai dari Sungai Barito. Keberadaan lahan basah dan rawa di bagian hilir berfungsi sebagai tandon air alami yang krusial bagi keseimbangan ekosistem regional.

##

Iklim dan Variasi Musiman

Hulu Sungai Selatan memiliki iklim tropis basah dengan curah hujan yang cukup tinggi sepanjang tahun. Musim kemarau biasanya terjadi antara bulan Juni hingga September, sedangkan musim hujan berlangsung dari Oktober hingga Mei. Namun, karena pengaruh vegetasi hutan hujan tropis di Pegunungan Meratus, wilayah Loksado cenderung memiliki suhu yang lebih sejuk dan kelembapan yang lebih tinggi dibandingkan kawasan perkotaan Kandangan yang lebih panas.

##

Sumber Daya Alam dan Biodiversitas

Kekayaan alam HSS mencakup sektor kehutanan, pertanian, dan mineral. Di kawasan pegunungan, terdapat cadangan batu bara dan bijih besi, meskipun pemanfaatannya sangat dibatasi untuk menjaga kelestarian lingkungan. Sektor pertanian didominasi oleh budidaya padi di lahan rawa dan perkebunan karet serta kayu manis (kayu manis Loksado yang khas) di dataran tinggi. Secara ekologis, wilayah ini adalah rumah bagi keanekaragaman hayati Pegunungan Meratus, termasuk flora endemik seperti anggrek hutan dan fauna langka seperti bekantan di kawasan rawa serta berbagai jenis burung endemik Kalimantan di zona hutan lindung. Kawasan Loksado juga dikenal dengan fenomena geologi "Balanting" atau bambu rafting yang memanfaatkan jeram alami sungai sebagai sarana transportasi tradisional dan objek wisata geografis yang unik.

Culture

#

Kekayaan Budaya Hulu Sungai Selatan: Jantung Peradaban Banjar Hulu

Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), yang beribu kota di Kandangan, merupakan wilayah yang terletak di posisi tengah Provinsi Kalimantan Selatan. Sebagai daerah non-pesisir yang dikelilingi oleh enam kabupaten tetangga, HSS menjadi benteng pertahanan tradisi masyarakat Banjar Hulu (Pahuluan) yang sangat kental dengan nilai-nilai agamis dan semangat kemandirian.

##

Tradisi, Upacara, dan Kehidupan Sosial

Salah satu tradisi unik yang masih lestari adalah Maruhum, sebuah prosesi penghormatan terhadap leluhur yang dilakukan dengan doa bersama di makam-makam keramat, seperti Makam Datu Kalampayan atau tokoh ulama lokal. Dalam kehidupan agraris, masyarakat HSS mengenal tradisi Batanak Nas di sawah sebagai bentuk syukur atas hasil panen. Selain itu, terdapat tradisi Baayun Maulud yang dilaksanakan setiap bulan Rabiul Awal di Masjid Al-Ikhlas, Desa Daha, di mana bayi dan balita diayun di dalam masjid dengan iringan syair-syair pujian kepada Nabi Muhammad SAW.

##

Kesenian dan Kerajinan Tangan

Hulu Sungai Selatan adalah pusat kesenian Madihin dan Lamut, seni tutur lisan yang menggabungkan sastra, humor, dan pesan moral. Di wilayah Loksado, masyarakat Dayak Meratus memiliki tarian sakral Tari Kanjar yang dilakukan dalam upacara adat Aruh Ganal sebagai bentuk komunikasi dengan Sang Pencipta.

Dalam bidang kerajinan, wilayah Negara (Kecamatan Daha) sangat masyhur dengan julukan "Kota Pandai Besi". Di sini, teknik menempa logam secara tradisional menghasilkan parang, cangkul, hingga alat pertanian berkualitas tinggi yang didistribusikan ke seluruh Kalimantan. Selain itu, kerajinan anyaman rotan dan bambu dari Loksado juga menjadi komoditas budaya yang signifikan.

##

Kuliner Khas yang Melegenda

Berbicara tentang HSS tidak lengkap tanpa menyebut Ketupat Kandangan. Berbeda dengan ketupat di daerah lain, ketupat ini menggunakan ikan Gabus (Haruan) yang dipanggang terlebih dahulu sebelum dimasak dalam kuah santan kental yang kaya rempah (kayu manis, cengkeh, dan kemiri). Cara makannya pun unik, yakni menggunakan tangan kosong yang diremas langsung ke ketupatnya. Selain itu, terdapat Dodol Kandangan yang memiliki tekstur lembut dan manis, serta Apam Barabai versi lokal yang sering dijadikan buah tangan utama.

##

Bahasa dan Dialek Lokal

Masyarakat HSS menggunakan Bahasa Banjar dialek Hulu. Dialek ini memiliki ciri khas vokal yang lebih tegas dan kosakata yang berbeda dari dialek Banjar Kuala (Banjarmasin). Ekspresi lokal seperti "Kada kulihatan hidung" (sangat sibuk) atau penggunaan partikel "pang" dan "gin" dalam percakapan sehari-hari menjadi identitas linguistik yang kuat.

##

Busana dan Tekstil Tradisional

Masyarakat HSS sangat menghargai kain Sasirangan, terutama motif-motif klasik seperti *Gigi Haruan* dan *Kangkung Kaombakan*. Pada acara-acara adat, kaum pria biasanya mengenakan Laung (ikat kepala) dan baju koko dengan sarung yang disampirkan di bahu, mencerminkan identitas religius masyarakatnya.

##

Praktik Keagamaan dan Festival

Kehidupan di HSS sangat dipengaruhi oleh pondok pesantren. Ritual Manasik Haji massal dan peringatan hari besar Islam selalu dirayakan dengan meriah namun khidmat. Di sisi lain, di pegunungan Meratus, masyarakat Dayak tetap menjalankan ritual Aruh Baharin, sebuah upacara syukur atas hasil bumi yang berlangsung selama beberapa hari dengan melibatkan penyembelihan hewan ternak dan tarian kolosal di dalam balai adat. Kombinasi antara religiusitas Islam di dataran rendah dan tradisi Dayak di pegunungan menjadikan HSS sebuah mosaik budaya yang sangat kaya.

Tourism

Menjelajahi Pesona Hulu Sungai Selatan: Jantung Wisata Kalimantan Selatan

Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) merupakan permata tersembunyi yang terletak di posisi tengah Provinsi Kalimantan Selatan. Dengan luas wilayah mencapai 1.728,49 km², kabupaten yang beribu kota di Kandangan ini menawarkan kombinasi unik antara bentang alam pegunungan Meratus yang megah dan eksotisme lahan basah. Berbatasan dengan enam wilayah administratif lainnya, HSS menjadi simpul pariwisata yang kaya akan nilai budaya dan petualangan alam.

#

Keajaiban Alam Loksado dan Pegunungan Meratus

Daya tarik utama HSS terletak di Kecamatan Loksado. Berbeda dengan wilayah pesisir, HSS menyuguhkan rimbunnya hutan hujan tropis dan segarnya aliran sungai. Salah satu pengalaman paling ikonik adalah Bamboo Rafting (Balanting Pariwisata) menyusuri Sungai Amandit. Pengunjung akan menaiki rakit bambu tradisional yang dikendalikan oleh motoris ahli melalui jeram-jeram yang memacu adrenalin. Selain itu, kawasan ini menyimpan air terjun memukau seperti Air Terjun Haratai dan Kilat Api. Bagi pecinta relaksasi, Pemandian Air Panas Tanuhi menyediakan kolam alami di tengah sejuknya udara pegunungan.

#

Jejak Sejarah dan Kekayaan Budaya

HSS memiliki nilai historis yang kuat bagi masyarakat Banjar. Wisatawan dapat mengunjungi Benteng Madang, situs perjuangan rakyat Kalimantan melawan penjajahan Belanda. Secara kultural, interaksi dengan masyarakat Dayak Meratus di Balai Adat Malaris memberikan wawasan mendalam tentang kearifan lokal yang masih terjaga. Struktur bangunan tradisional dan ritual adat yang sesekali digelar menjadi daya tarik magis bagi para pencinta wisata budaya.

#

Surga Kuliner: Dari Ketupat hingga Dodol

Pengalaman gastronomi di HSS adalah wajib bagi setiap pengunjung. Ketupat Kandangan adalah ikon kuliner yang unik; berbeda dengan ketupat di pulau Jawa, ketupat ini disajikan dengan ikan Haruan (gabus) yang dipanggang dan disiram kuah santan kental yang gurih. Jangan lewatkan pula Dodol Kandangan yang manis dan legit sebagai buah tangan, serta kacang jaruk yang diolah dengan teknik pemanggangan pasir yang khas.

#

Petualangan dan Akomodasi

Bagi jiwa petualang, pendakian menuju puncak Gunung Halau-Halau melalui jalur HSS menawarkan panorama "negeri di atas awan". Untuk kenyamanan, tersedia berbagai pilihan akomodasi mulai dari resor bernuansa etnik di Loksado hingga hotel berbintang di pusat kota Kandangan. Keramahtamahan warga lokal (Urang Banjar) yang religius dan terbuka akan membuat setiap wisatawan merasa seperti di rumah sendiri.

#

Waktu Terbaik untuk Berkunjung

Waktu terbaik untuk mengunjungi Hulu Sungai Selatan adalah pada musim kemarau antara bulan Juni hingga September. Pada periode ini, debit air Sungai Amandit sangat ideal untuk aktivitas rakit bambu, dan jalur pendakian menuju hutan Meratus relatif lebih aman dan tidak licin. Kunjungi HSS untuk merasakan harmoni sempurna antara petualangan sungai, kesejukan gunung, dan kelezatan kuliner tradisional.

Economy

#

Profil Ekonomi Kabupaten Hulu Sungai Selatan: Pusat Agribisnis dan Perdagangan Kalimantan Selatan

Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), dengan luas wilayah 1.728,49 km², memegang peranan strategis sebagai simpul ekonomi di posisi tengah Provinsi Kalimantan Selatan. Meskipun secara geografis wilayah ini dikelilingi daratan (landlocked) dan tidak memiliki garis pantai, HSS mengoptimalkan potensi lahan rawa lebak dan pegunungan Meratus sebagai motor penggerak ekonomi utama.

##

Sektor Pertanian dan Ketahanan Pangan

Sektor pertanian merupakan tulang punggung ekonomi HSS, dengan komoditas unggulan berupa padi yang terkonsentrasi di distrik Daha. Karakteristik lahan rawa lebak memungkinkan pola tanam yang unik saat musim kemarau. Selain padi, HSS dikenal sebagai penghasil hortikultura seperti cabai hiyung yang memiliki tingkat kepedasan tinggi dan nilai ekonomi ekspor. Di sektor perikanan darat, wilayah Daha menjadi pusat produksi ikan air tawar (gabus, papuyu, dan sepat) yang dipasarkan hingga ke provinsi tetangga, mengompensasi ketiadaan ekonomi maritim dengan optimalisasi perairan darat.

##

Industri Pengolahan dan Kerajinan Tradisional

Industri manufaktur di HSS didominasi oleh skala mikro dan menengah. Salah satu yang paling ikonik adalah industri pembuatan kapal tradisional (perahu motor) dan alat pertanian di Negara. Keterampilan pandai besi di wilayah ini telah diwariskan turun-temurun, menjadikan HSS sebagai pemasok alat perkakas utama di Kalimantan. Selain itu, terdapat industri pengolahan makanan seperti kerupuk ikan dan dodol Kandangan yang menjadi produk oleh-oleh khas dengan serapan tenaga kerja lokal yang signifikan.

##

Sektor Jasa, Pariwisata, dan Infrastruktur

Kandangan, sebagai ibu kota kabupaten, berfungsi sebagai pusat jasa dan perdagangan regional. Pertumbuhan sektor jasa didorong oleh posisi HSS yang dilewati jalur trans-Kalimantan, menghubungkan Banjarmasin dengan wilayah "Hulu Sungai" lainnya hingga Kalimantan Timur.

Di sektor pariwisata, Loksado menjadi primadona ekonomi kreatif melalui wisata Bamboo Rafting dan budaya Dayak Meratus. Pengembangan infrastruktur jalan menuju kawasan strategis pariwisata nasional ini telah meningkatkan okupansi penginapan dan pendapatan sektor UMKM kuliner, terutama kuliner Ketupat Kandangan yang sudah tersertifikasi sebagai Warisan Budaya Tak Benda.

##

Tren Ketenagakerjaan dan Transformasi Ekonomi

Tren ketenagakerjaan di HSS mulai bergeser dari sektor primer (pertanian tradisional) menuju sektor tersier (jasa dan perdagangan). Pemerintah daerah aktif mendorong hilirisasi produk pertanian agar memiliki nilai tambah. Tantangan utama terletak pada konektivitas antar-enam wilayah perbatasan (Tapin, Hulu Sungai Tengah, hingga Kotabaru) untuk memperlancar arus logistik. Dengan penguatan pasar kerakyatan dan digitalisasi UMKM, Hulu Sungai Selatan terus memperkokoh posisinya sebagai pusat pertumbuhan ekonomi pedalaman yang mandiri dan berkelanjutan di Kalimantan Selatan.

Demographics

#

Demografi Kabupaten Hulu Sungai Selatan: Jantung Budaya Banjar Hulu

Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), dengan luas wilayah 1728,49 km², merupakan wilayah strategis di posisi tengah Provinsi Kalimantan Selatan. Sebagai daerah non-pesisir yang terkurung daratan (landlocked), HSS dikelilingi oleh enam wilayah tetangga, menjadikannya titik temu distribusi logistik dan mobilitas penduduk di kawasan Banua Anam.

Struktur Penduduk dan Kepadatan

Berdasarkan data kependudukan terbaru, jumlah penduduk HSS melampaui 230.000 jiwa dengan tingkat kepadatan penduduk rata-rata mencapai 133 jiwa per km². Distribusi penduduk terkonsentrasi di Kecamatan Kandangan sebagai pusat administrasi dan ekonomi, sementara wilayah rawa di bagian barat dan pegunungan Meratus di bagian timur memiliki kepadatan yang lebih rendah namun memiliki karakteristik sosial yang unik.

Komposisi Etnis dan Keragaman Budaya

Demografi HSS didominasi oleh etnis Banjar, khususnya sub-etnis Banjar Hulu yang memiliki dialek dan tradisi yang khas. Uniknya, di wilayah Loksado, terdapat populasi signifikan suku Dayak Meratus yang hidup berdampingan secara harmonis. Keberadaan masyarakat Dayak ini memberikan warna demografis yang kontras melalui pelestarian tradisi Aruh Adat, sementara mayoritas masyarakat Banjar mencerminkan identitas religiusitas Islam yang sangat kuat.

Piramida Penduduk dan Kelompok Usia

Struktur demografi HSS menunjukkan piramida penduduk ekspansif yang mulai mengalami transisi menuju tipe stasioner. Kelompok usia produktif (15-64 tahun) mendominasi struktur populasi, yang menandakan potensi bonus demografi. Pemerintah daerah saat ini fokus pada penguatan sektor UMKM dan pertanian untuk menyerap tenaga kerja lokal agar tidak terjadi eksodus besar-besaran ke arah Banjarmasin atau wilayah tambang.

Pendidikan dan Literasi

Tingkat melek huruf di Hulu Sungai Selatan tergolong sangat tinggi, mencapai di atas 98%. Karakteristik unik daerah ini adalah banyaknya lembaga pendidikan berbasis agama atau Pondok Pesantren yang menjadi pilar utama pendidikan informal di samping sekolah formal. Hal ini menciptakan profil penduduk yang memiliki keseimbangan antara kualifikasi akademik dan nilai-nilai religius.

Urbanisasi dan Pola Migrasi

Pola urbanisasi di HSS bersifat sentripetal menuju Kandangan, di mana sektor jasa dan perdagangan berkembang pesat. Namun, dinamika migrasi keluar (out-migration) juga terjadi, terutama di kalangan pemuda yang mengejar pendidikan tinggi atau bekerja di sektor pertambangan di kabupaten tetangga. Meski demikian, keterikatan kultural yang kuat terhadap tanah kelahiran membuat pola migrasi sirkuler (pulang-pergi) tetap dominan dibandingkan migrasi permanen.

💡 Fakta Unik

  • 1.Wilayah ini merupakan lokasi berdirinya Benteng Madang, saksi bisu perjuangan rakyat dalam Perang Banjar yang dipimpin oleh Tumenggung Antaludin.
  • 2.Kesenian bela diri tradisional kuntau sangat populer di sini dan sering ditampilkan dalam berbagai perayaan adat dengan iringan musik sarunai.
  • 3.Kawasan ini memiliki ekosistem rawa air tawar yang luas, di mana kerbau rawa atau hadangan sering terlihat berenang mengarungi perairan.
  • 4.Kota pusat pemerintahannya dijuluki sebagai Kota Apam karena kuliner kue apam khasnya yang sangat terkenal dan menjadi oleh-oleh utama.

Destinasi di Hulu Sungai Selatan

Semua Destinasi

Tempat Lainnya di Kalimantan Selatan

Lokasi Serupa

Panduan Perjalanan Terkait

Memuat panduan terkait...

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Uji Pengetahuanmu!

Apakah kamu bisa menebak Hulu Sungai Selatan dari siluet petanya?