Lewati ke konten utama
PulauDiterbitkan Diverifikasi

Pulau Maratua: Surga Selam Kalimantan yang Masih Sepi Sebelum Ramai Seperti Raja Ampat

Arus di mulut Channel—selat sempit antara Pulau Maratua dan gosong karang Nabucco—datang tanpa aba-aba. Satu detik penyelam masih melayang santai di atas terumbu, detik berikutnya tubuhnya terdorong pelan mengikuti arus, dan dari kegelapan biru di depan muncul satu, dua, lalu puluhan barracuda yang membentuk dinding perak berputar.

Bagikan:WhatsApp

Arus di mulut Channel—selat sempit antara Pulau Maratua dan gosong karang Nabucco—datang tanpa aba-aba. Satu detik penyelam masih melayang santai di atas terumbu, detik berikutnya tubuhnya terdorong pelan mengikuti arus, dan dari kegelapan biru di depan muncul satu, dua, lalu puluhan barracuda yang membentuk dinding perak berputar. Di sisi lain arus, hiu karang sirip putih meluncur santai, seekor penyu hijau mengunyah karang lunak tanpa peduli pada gelembung udara di dekatnya, dan sesekali seekor manta melintas seperti bayangan raksasa. Inilah Big Fish Country—salah satu spot selam paling ramai ikan di seluruh perairan Indonesia—dan kemungkinan besar, di titik itu, hanya ada satu atau dua kapal lain yang mengambang di permukaan.

Itulah yang membuat Pulau Maratua di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, semakin sering disebut sebagai jawaban Kalimantan untuk Raja Ampat atau Bunaken: kualitas bawah laut kelas dunia, tapi tanpa antrean kapal, tanpa resor bertingkat, dan tanpa pantai yang harus berbagi dengan ratusan turis lain. Selama bertahun-tahun Maratua nyaris hanya dikenal komunitas penyelam yang serius berburu destinasi baru. Sekarang, dengan konektivitas udara ke Kalimantan Utara dan Timur yang perlahan membaik—Bandara Juwata di Tarakan kembali menyandang status bandara internasional lewat keputusan Kementerian Perhubungan pada Agustus 2025, dan sejumlah maskapai tengah menjajaki rute baru termasuk ke Tiongkok dan Malaysia—pulau karang berbentuk tapal kuda ini mulai naik ke radar wisatawan yang lebih luas. Kalau ada momen untuk datang sebelum Maratua ramai seperti sepupu-sepupunya di timur Indonesia, momen itu adalah sekarang.

Di Mana Sebenarnya Maratua Ini

Maratua adalah salah satu dari empat pulau utama di Kepulauan Derawan, gugusan sekitar 31 pulau di Laut Sulawesi, lepas pantai timur Kalimantan, secara administratif masuk Kabupaten Berau. Tiga saudaranya yang tak kalah penting adalah Pulau Derawan (yang paling mudah diakses dan jadi pintu masuk banyak wisatawan), Pulau Sangalaki (rumah manta ray), dan Pulau Kakaban (rumah danau ubur-ubur tanpa sengat). Berbeda dari Derawan yang berupa pulau pasir datar, Maratua adalah atol karang purba berbentuk tapal kuda—bekas terumbu yang naik dan membentuk laguna biru kehijauan di tengahnya, dikelilingi tembok karang curam yang jatuh ke laut dalam. Bentuk geologis inilah yang membuat perairannya sejernih kaca: karena letaknya jauh dari daratan besar dan sedimentasi sungai, jarak pandang di titik-titik terbaik bisa tembus 20 hingga 40 meter, bahkan disebut-sebut mencapai 60 meter pada kondisi optimal.

Cerita di Bawah Air: Penyu, Hiu, dan Manta

Reputasi Maratua di kalangan penyelam dibangun dari lebih dari 20 titik selam yang tersebar di sekeliling atolnya, masing-masing dengan karakter berbeda. The Channel atau Big Fish Country, yang sudah disebut di awal, adalah bintangnya: arus kuat yang menyaring makanan menarik gerombolan barracuda dalam jumlah yang oleh sejumlah operator selam disebut sebagai salah satu yang terbesar di Asia Tenggara, ditambah hiu sirip putih, ikan tuna, kerapu raksasa, dan sesekali hiu martil. Tak jauh dari sana ada Turtle Traffic, spot yang namanya sudah menjelaskan semuanya: penyu hijau dan penyu sisik berenang begitu santai di sekitar penyelam sehingga pertemuan hampir bisa dipastikan terjadi di setiap sesi selam. Ini bukan kebetulan—Maratua adalah salah satu lokasi peneluran penyu hijau yang penting secara internasional, dan lembaga konservasi seperti Turtle Foundation aktif mendampingi komunitas pulau untuk melindungi sarang-sarang di sepanjang pantainya dari perburuan telur dan gangguan lain.

Untuk penyelam yang lebih suka detail kecil, Jetty di dekat dermaga utama menyimpan kehidupan makro yang mengejutkan: ikan mandarin yang menari saat senja, harlequin shrimp, gurita biru, dan udang-udangan kecil yang bersembunyi di sela karang. Eel Garden, dengan arus lebih kuat dan kedalaman lebih menantang, adalah rumah sidat pasir dalam jumlah besar, cocok untuk penyelam berpengalaman. Sebaliknya, Cabbage Garden atau Cabbage Patch adalah laguna terlindung nyaris tanpa arus dengan hamparan karang kubis yang berlapis-lapis, ideal untuk penyelam pemula atau yang sekadar ingin snorkeling santai. Ditambah Hanging Garden dengan pari elang dan dua kawanan barracuda berbeda yang kerap terlihat bersamaan, dan Mid Reef sebagai titik serbaguna, Maratua sebenarnya menawarkan variasi yang sulit ditemukan dalam radius sedekat itu: dari dinding arus deras untuk pemburu adrenalin sampai laguna tenang untuk yang baru belajar.

Kakaban: Danau Ubur-Ubur yang Nyaris Tak Ada Duanya di Bumi

Kalau sedang di Maratua, jangan lewatkan penyeberangan singkat—sekitar 15 hingga 20 menit dengan speedboat—ke Pulau Kakaban. Di tengah pulau ini tersembunyi danau air payau purba, terbentuk lebih dari 11.000 tahun lalu ketika sebagian terumbu karang terangkat di atas permukaan laut dan air lautnya lambat laun berubah menjadi payau, terisolasi dari laut terbuka. Dalam waktu geologis yang panjang itu, ubur-ubur yang terjebak di dalamnya berevolusi kehilangan sengatnya karena tak lagi punya predator alami untuk dihindari. Hasilnya: danau yang dihuni ribuan ubur-ubur emas (golden jellyfish) yang bisa disentuh dengan aman saat berenang atau snorkeling di permukaannya—sebuah fenomena yang, sejauh yang diketahui sains, hanya ada di dua tempat di planet ini: Kakaban dan Jellyfish Lake di Palau, Mikronesia.

Karena keunikan sekaligus kerapuhannya, aturan mainnya ketat: dilarang menyelam dengan alat bantu (hanya boleh berenang di permukaan atau snorkeling), dilarang memakai tabir surya sebelum masuk danau, dan pengunjung diminta menjaga gerakan kaki agar tak merusak sedimen dasar danau yang menopang seluruh ekosistem. Kakaban sempat mengalami tekanan akibat jumlah pengunjung yang melonjak di masa lalu, dan pengelolaannya kini diperketat—alasan lebih untuk berkunjung dalam waktu dekat, selagi kunjungan masih relatif terkendali dibanding kepadatan yang pernah dialami danau serupa di Palau.

Derawan dan Sangalaki: Pelengkap yang Tak Boleh Dilewatkan

Karena hampir semua rute laut menuju Maratua transit lebih dulu di Pulau Derawan, ada baiknya menyisihkan waktu di sana juga. Berbeda dari Maratua yang tenang dan berpenduduk jarang, Derawan sudah lebih ramai dan berfungsi sebagai pusat logistik gugusan ini—penginapan lebih banyak, warung makan lebih mudah ditemukan, dan dermaga kayunya sendiri jadi salah satu spot snorkeling paling ikonik di Indonesia karena penyu hijau berenang begitu dekat dengan tiang-tiang dermaga sehingga bisa disaksikan hanya dengan snorkel dangkal, tanpa perlu menyelam. Sementara itu Sangalaki, sekitar 45 menit hingga satu setengah jam dengan speedboat dari Maratua tergantung operator dan kondisi laut, adalah rumah bagi titik pembersihan manta ray yang konsisten—salah satu tempat paling andal di Indonesia untuk snorkeling atau menyelam berdampingan dengan manta tanpa harus menunggu berhari-hari untuk satu kali kemunculan.

Bagaimana Cara ke Sana

Ini bagian yang paling sering bikin calon pengunjung ragu, padahal rutenya sebenarnya cukup jelas. Dari Jakarta atau Bali, titik masuk paling langsung adalah Bandara Kalimarau (BEJ) di Tanjung Redeb, ibu kota Berau—Batik Air melayani rute langsung Jakarta–Berau, sementara dari kota-kota lain umumnya transit lebih dulu di Balikpapan, yang punya beberapa penerbangan harian ke Berau lewat maskapai seperti AirAsia, Super Air Jet, dan Wings Air. Alternatifnya, penerbangan bisa diarahkan ke Bandara Juwata di Tarakan, yang posisinya makin strategis sebagai pintu masuk Kalimantan Utara seiring statusnya sebagai bandara internasional dihidupkan kembali dan rute-rute baru dijajaki.

Dari Berau, perjalanan diteruskan lewat darat sekitar dua jam menuju pelabuhan Tanjung Batu, lalu naik speedboat carteran atau kapal umum ke Kepulauan Derawan—biasanya singgah dulu di Pulau Derawan sebelum menyeberang lagi ke Maratua, dengan total waktu tempuh laut yang bisa mencapai dua hingga tiga jam tergantung ombak dan titik keberangkatan. Banyak resor selam dan homestay di Maratua menawarkan paket jemputan dari bandara sampai pulau, yang jauh lebih praktis daripada menyusun sendiri setiap potongan perjalanan.

Contoh Rencana Perjalanan Beberapa Hari

Perjalanan yang realistis ke gugusan ini butuh setidaknya empat hingga lima hari agar tidak terburu-buru. Hari pertama biasanya habis untuk perjalanan saja—dari bandara ke pelabuhan lalu menyeberang ke pulau tujuan. Dua hingga tiga hari berikutnya bisa difokuskan menyelam di Maratua: mencoba The Channel saat kondisi arus mendukung, menghabiskan satu sesi santai di Turtle Traffic, lalu menutup dengan Cabbage Garden atau Jetty untuk sesi macro yang lebih tenang. Satu hari disisihkan khusus untuk perjalanan lintas pulau: pagi hari snorkeling bersama manta di Sangalaki, siang hari menyeberang ke Kakaban untuk berenang bersama ubur-ubur, dan jika waktu memungkinkan, mampir sebentar ke Pulau Derawan yang punya suasana lebih ramai dan fasilitas lebih lengkap sebagai penutup sebelum kembali ke Berau atau Tarakan.

Yang Perlu Disiapkan

Musim menyelam terbaik di Maratua membentang dari Maret hingga Desember, dengan kombinasi cuaca, jarak pandang, dan aktivitas satwa laut paling optimal biasanya jatuh pada musim kemarau, Juli hingga Oktober. Manta ray justru lebih sering terlihat pada periode yang lebih panjang, dari Oktober hingga Juni, jadi waktu kunjungan sebaiknya disesuaikan dengan prioritas: memburu arus deras dan ikan besar, atau memburu manta. Suhu air relatif hangat sepanjang tahun, sekitar 28 hingga 30 derajat Celsius, sehingga wetsuit tipis biasanya sudah cukup.

Soal akomodasi, kenyataannya masih terbatas dan itu justru bagian dari daya tarik: pilihan di Maratua umumnya berupa dive resort skala kecil dan homestay milik warga, bukan hotel bertingkat atau rantai resor besar. Kapasitas kamar yang terbatas berarti pemesanan sebaiknya dilakukan jauh-jauh hari, terutama saat musim puncak, dan pengunjung perlu menyesuaikan ekspektasi—listrik dan sinyal internet di beberapa homestay masih mengandalkan genset dan jaringan seadanya. Sebaiknya bawa uang tunai secukupnya karena mesin ATM nyaris tak ada di pulau-pulau ini, serta obat-obatan pribadi dan tabir surya ramah karang, mengingat apotek terdekat ada di Tanjung Redeb.

Untuk penyelam, sertifikasi open water dasar sudah cukup untuk sebagian besar titik selam santai seperti Cabbage Garden atau Jetty, tapi spot berarus seperti The Channel dan Eel Garden sebaiknya didekati dengan pengalaman advanced atau minimal ditemani divemaster yang paham karakter arusnya—arus di sini bisa berubah kuat dalam hitungan menit mengikuti pasang surut. Bagi yang belum bersertifikat, hampir semua dive center di Maratua dan Derawan menawarkan kursus pengenalan atau open water course langsung di lokasi, jadi tak perlu menunda kunjungan hanya karena belum pernah menyelam.

Kenapa Sekarang

Kepulauan Derawan, dengan Maratua sebagai jantung selamnya, punya semua bahan yang biasanya membuat sebuah destinasi meledak popularitasnya: biota laut ikonik, jarak pandang bawah air yang luar biasa, dan cerita konservasi yang nyata lewat program pemantauan sarang penyu dan pengelolaan danau ubur-ubur Kakaban. Yang belum dimilikinya—setidaknya untuk saat ini—adalah kepadatan turis yang biasanya datang berbarengan dengan ketenaran itu. Akses udara yang perlahan membaik ke Berau dan Tarakan berarti jendela ini kemungkinan tidak akan terbuka selamanya. Bagi yang sudah lelah berbagi terumbu dengan puluhan kapal snorkeling di destinasi-destinasi yang lebih dulu terkenal, Maratua menawarkan sesuatu yang makin langka: laut yang masih terasa seperti milik sendiri.

Lokasi Terkait

Lanjut membaca

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?