Singkawang: Kota Seribu Kelenteng di Kalimantan Barat, Panduan Lengkap
Banyak orang membayangkan Kalimantan sebagai hutan, sungai, dan orangutan. Singkawang membantah bayangan itu. Kota di pesisir barat ini, sekitar tiga sampai empat jam dari Pontianak, dipenuhi kelenteng, lampion merah, dan warung yang menjual masakan Tionghoa-Kalimantan. Sebagian besar penduduknya keturunan Tionghoa, dan di sini budaya Tionghoa, Dayak, dan Melayu hidup berdampingan. Panduan ini menjelaskan apa yang bisa dilihat, kapan waktu terbaik, dan bagaimana mencapainya.
Mengapa Singkawang berbeda
Singkawang kerap dijuluki Kota Seribu Kelenteng, dan julukan itu bukan sekadar promosi. Rumah ibadah Tionghoa muncul di sudut-sudut kota, dari yang kecil di gang hingga yang besar di pusat. Kota ini juga dikenal sebagai salah satu kota paling toleran di Indonesia dalam beberapa indeks nasional, dan suasananya terasa ramah bagi pendatang.
Bagi pelancong yang sudah menjelajahi Jawa dan Bali, Singkawang menawarkan sesuatu yang lain: tempat yang tidak dirancang untuk turis, tetapi terbuka bagi siapa pun yang penasaran.
Cap Go Meh dan parade tatung
Acara paling terkenal di Singkawang adalah Cap Go Meh, perayaan pada hari kelima belas setelah Tahun Baru Imlek. Puncaknya adalah parade tatung, ketika para peserta yang dipercaya dirasuki roh berjalan di jalanan dengan atraksi yang mengejutkan. Parade ini memadukan tradisi Tionghoa dan Dayak dan menarik penonton dari berbagai daerah.
Jika Anda ingin datang saat festival, rencanakan jauh hari. Penginapan terisi cepat, jalan ditutup, dan kerumunan besar. Tanggalnya mengikuti kalender lunar, sehingga berubah setiap tahun. Periksa jadwal resmi sebelum memesan tiket.
Bila Anda memotret, hormati peserta dan ikuti arahan panitia. Ritual ini bernilai spiritual bagi pelakunya, bukan sekadar tontonan.
Kelenteng dan tempat ibadah
Beberapa kelenteng layak dikunjungi, termasuk Vihara Tri Dharma Bumi Raya yang sering disebut sebagai salah satu yang paling dikenal di kota. Berpakaianlah sopan, lepaskan topi, dan jangan menyentuh persembahan. Jika ada upacara berlangsung, amati dari kejauhan dan jangan memotong barisan jamaah.
Pagi hari biasanya paling tenang. Asap dupa, lonceng, dan gulungan doa menciptakan suasana yang sulit dilukiskan.
Pantai di sekitar kota
Singkawang berada di pesisir, dan beberapa pantai bisa dicapai dalam waktu singkat dari pusat kota. Pasir Panjang adalah yang paling terkenal. Pantai ini panjang, ramai pada akhir pekan, dan cocok untuk bersantai di sore hari. Air lautnya tidak selalu sejernih destinasi Indonesia timur, jadi jangan berharap snorkeling kelas dunia. Datang saja untuk matahari terbenam dan jajanan.
Jika Anda ingin lebih tenang, tanyakan penduduk lokal soal pantai yang lebih sepi di sekitar. Kondisi dan akses dapat berubah, sehingga informasi terbaru dari penginapan akan sangat membantu.
Makan di Singkawang
Makanan adalah alasan utama banyak orang kembali. Singkawang dikenal dengan masakan Tionghoa yang disesuaikan dengan bahan lokal. Beberapa yang sering disebut:
- Choi pan, pangsit kukus berisi sayuran atau udang yang kenyal
- Bakmi dan kwetiau dengan topping khas Singkawang
- Bubur pa'pa, bubur sederhana yang hangat dan mengenyangkan
- Asinan Singkawang, buah dan sayur dalam kuah asam manis pedas
Cobalah juga kue-kue tradisional dan kopi lokal. Waktu paling seru untuk berburu makanan adalah pagi hari, saat warung-warung kecil baru buka dan antrean mulai mengular. Tanyakan kepada penginapan mana yang sedang buka, karena beberapa warung tutup pada hari tertentu.
Cara menuju Singkawang
Dari Pontianak. Bandara terdekat adalah Supadio di Pontianak, sekitar 145 sampai 150 kilometer dari Singkawang. Dari sana, Anda bisa naik bus antarkota yang melintasi jalan Trans-Kalimantan dan memakan waktu sekitar tiga jam. Layanan bus Damri dilaporkan berangkat dari bandara pada beberapa jam dalam sehari, tetapi jadwal dapat berubah, jadi periksa lebih dulu.
Dengan mobil. Menyewa mobil dengan sopir dari Pontianak memberi fleksibilitas, terutama jika Anda ingin singgah di tempat lain di sepanjang jalan.
Di dalam kota. Singkawang cukup kecil untuk dijelajahi dengan ojek, taksi daring bila tersedia, atau sepeda motor sewaan. Untuk objek yang lebih jauh, sewa mobil beberapa jam.
Berapa lama sebaiknya menginap
- Satu malam: cukup untuk berkeliling kelenteng, makan malam, dan sarapan lokal.
- Dua malam: pas bagi kebanyakan orang. Anda bisa menambah pantai dan waktu bersantai.
- Tiga malam atau lebih: jika datang saat festival atau ingin menjelajah daerah sekitar, termasuk Bengkayang dan Sambas.
Waktu terbaik berkunjung
Waktu paling ramai adalah sekitar Imlek dan Cap Go Meh, ketika kota benar-benar hidup. Di luar periode itu, kota lebih tenang dan tarif lebih ramah. Musim hujan dapat membuat perjalanan darat lebih lambat dan pantai kurang menarik. Periksa prakiraan cuaca sebelum berangkat.
Contoh rencana tiga hari
Hari 1. Terbang ke Pontianak, lanjut ke Singkawang. Sore jalan di pusat kota dan kelenteng. Malam makan di warung lokal.
Hari 2. Pagi berburu sarapan. Siang mengunjungi pantai. Sore menikmati matahari terbenam di Pasir Panjang.
Hari 3. Jelajahi sudut kota yang belum tersentuh, beli oleh-oleh, lalu kembali ke Pontianak.
Anggaran dan penginapan
Singkawang memiliki hotel kecil, penginapan sederhana, dan beberapa hotel yang lebih besar. Tarif umumnya terjangkau, kecuali saat Cap Go Meh ketika harga naik dan kamar cepat habis. Harga berbeda menurut musim, jadi periksa tarif terkini.
Merencanakan akhir pekan festival
Jika perjalanan Anda berpusat pada Cap Go Meh, anggap logistik sebagai tugas utama. Pesan kamar sedini mungkin, dan pertimbangkan menginap di Pontianak lalu pulang-pergi jika Singkawang penuh, meski jalannya memakan waktu lebih lama pada hari ramai. Tiba sehari sebelum parade supaya sempat mencari tempat menonton dan makan tanpa terburu-buru. Rute parade dan penutupan jalan ditentukan panitia setiap tahun, jadi tanyakan rencana terbaru kepada penginapan, bukan mengandalkan blog tahun lalu.
Kenakan pakaian ringan dan sepatu nyaman, bawa air minum, dan bersiaplah berdiri lama di bawah terik. Jaga jarak dari peserta yang sedang kesurupan, dan jangan masuk ke jalur parade demi foto yang lebih dekat. Banyak warga memasang tempat menonton keluarga sejak pagi, jadi jangan menghalangi pandangan mereka.
Di luar festival, kota ini punya pesona lain. Pagi hari kerja adalah waktu terbaik untuk menyaksikan kehidupan sehari-hari di pasar dan kelenteng tanpa keramaian, dan lebih mudah mengobrol dengan pedagang yang tidak sedang terburu-buru.
Etika dan tips praktis
- Berpakaian sopan di tempat ibadah.
- Minta izin sebelum memotret orang, terutama saat ritual.
- Bawa uang tunai untuk warung kecil.
- Bawa payung atau jas hujan, karena hujan dapat turun mendadak.
- Belajar beberapa kata Indonesia atau Mandarin dialek lokal selalu disambut baik.
Tiga budaya dalam satu kota
Untuk memahami Singkawang, bayangkan tiga lapisan. Lapisan pertama adalah masyarakat Tionghoa, yang banyak berasal dari kelompok Hakka dan Teochew, dan membawa tradisi kelenteng, kuliner, serta perayaan. Lapisan kedua adalah masyarakat Dayak, yang menyumbang kepercayaan lokal dan kerap tampil dalam parade tatung. Lapisan ketiga adalah masyarakat Melayu, dengan masjid, kuliner, dan adat pesisirnya sendiri.
Ketiganya tidak berjalan sendiri-sendiri. Anda akan melihat toko Tionghoa bersebelahan dengan warung Melayu, dan pelanggan yang berpindah di antara keduanya. Pengamatan sederhana ini sering lebih berkesan daripada satu objek wisata.
Singgah di Pontianak
Hampir semua pelancong melewati Pontianak, jadi manfaatkan waktunya. Kota ini berada tepat di garis khatulistiwa, dan Tugu Khatulistiwa adalah titik foto yang populer. Sore hari, Anda bisa berjalan di tepi Sungai Kapuas dan mencicipi kopi lokal di kedai-kedai tua. Satu malam di Pontianak sebelum atau sesudah Singkawang membuat perjalanan lebih santai.
Perjalanan sehari dari Singkawang
Sambas. Kabupaten di utara ini dikenal sebagai pusat budaya Melayu dengan sejarah kesultanan dan tenun songket. Jika tertarik pada sejarah, tanyakan lebih dulu tentang jam buka dan akses istana kepada penginapan.
Bengkayang. Wilayah ini lebih hijau dan berbukit, dengan desa Dayak dan pemandangan alam. Anda memerlukan kendaraan sendiri dan pemandu lokal untuk menjelajah dengan nyaman.
Keduanya memerlukan waktu perjalanan yang tidak sebentar, jadi rencanakan hanya satu tujuan per hari.
Tips praktis tambahan
- Uang: bawa uang tunai secukupnya, karena warung kecil biasanya tidak menerima kartu.
- Bahasa: bahasa Indonesia dipahami semua orang. Di kalangan Tionghoa setempat, dialek Hakka dan Teochew umum dipakai.
- Cuaca: Singkawang bisa sangat panas dan lembap. Bawa topi, tabir surya, dan air minum.
- Hari raya: pada periode Imlek, banyak toko tutup beberapa hari. Rencanakan makan Anda.
- Kerumunan: saat Cap Go Meh, simpan barang berharga dengan aman.
Pertanyaan umum
Apakah Singkawang layak dikunjungi jika tidak datang saat Cap Go Meh? Ya. Kelenteng, makanan, dan suasana kota tetap menarik sepanjang tahun.
Apakah makanan di sana halal? Banyak hidangan Tionghoa di Singkawang mengandung babi. Pelancong Muslim sebaiknya bertanya dulu dan mencari warung yang berlabel halal. Kota ini juga punya warung Melayu yang halal.
Apakah perlu pemandu? Tidak wajib. Namun untuk Cap Go Meh, pemandu atau penduduk lokal membantu menjelaskan makna ritual.
Bisakah dikunjungi sebagai perjalanan sehari dari Pontianak? Secara teknis bisa, tetapi perjalanan pulang-pergi tujuh jam lebih membuat Anda terburu-buru. Menginap lebih baik.
Intisari
Singkawang tidak masuk daftar destinasi besar, dan itu justru bagian dari daya tariknya. Datang dengan rasa ingin tahu, makan banyak, dan biarkan kota ini menunjukkan sisi Kalimantan yang tidak ada di brosur.