Banyuasin
EpicDipublikasikan: Januari 2025
History
#
Sejarah Kabupaten Banyuasin: Permata Pesisir Sumatera Selatan
Asal-Usul dan Masa Pra-Kolonial
Nama "Banyuasin" berasal dari bahasa Jawa dan Melayu lokal, yakni Banyu (air) dan Asin, yang merujuk pada kondisi geografis wilayahnya yang didominasi oleh perairan pasang surut dan muara sungai yang berasa asin. Secara historis, wilayah seluas 12.586,96 km² ini merupakan bagian integral dari pengaruh Kedatuan Sriwijaya pada abad ke-7 hingga ke-13. Posisi geografisnya di pesisir barat bagian timur Sumatera menjadikan Banyuasin sebagai pintu gerbang maritim penting menuju pedalaman Palembang. Jalur perairan Teluk Banyuasin dan Sungai Musi Hilir sejak lama menjadi urat nadi perdagangan rempah dan hasil hutan yang menghubungkan pedalaman Sumatera dengan pedagang asing dari Tiongkok dan Arab.
Masa Kolonial dan Perlawanan Rakyat
Pada masa penjajahan Belanda, wilayah Banyuasin berada di bawah administrasi Karesidenan Palembang. Wilayah ini dikenal dengan sistem kepemimpinan "Marga" yang dipimpin oleh seorang Pasirah. Salah satu peristiwa heroik yang tercatat dalam sejarah lokal adalah perlawanan rakyat di kawasan Sungsang dan Upang terhadap monopoli perdagangan Belanda. Letak strategis Banyuasin di pesisir menjadikannya basis pertahanan laut bagi Kesultanan Palembang Darussalam. Tokoh-tokoh lokal bersama pejuang dari Palembang seringkali memanfaatkan labirin hutan bakau di pesisir Banyuasin untuk melancarkan taktik perang gerilya air guna menghadang kapal-kapal VOC yang hendak menuju jantung kota Palembang.
Era Kemerdekaan dan Pemekaran Wilayah
Pasca proklamasi kemerdekaan 1945, Banyuasin merupakan bagian dari Kabupaten Musi Banyuasin (MUBA). Namun, seiring dengan semangat otonomi daerah, aspirasi untuk membentuk pemerintahan sendiri menguat. Momentum bersejarah terjadi pada 10 April 2002, ketika Kabupaten Banyuasin resmi berdiri berdasarkan Undang-Undang No. 6 Tahun 2002. Pemekaran ini diprakarsai oleh tokoh-tokoh masyarakat yang melihat potensi besar wilayah pesisir ini. Ir. H. Amiruddin Inoed kemudian tercatat sebagai bupati pertama yang meletakkan dasar pembangunan infrastruktur di Pangkalan Balai sebagai pusat pemerintahan.
Warisan Budaya dan Identitas Lokal
Banyuasin memiliki kekayaan budaya yang unik, hasil akulturasi masyarakat pesisir dan agraris. Salah satu tradisi yang masih terjaga adalah Sedekah Ramai dan ritual melaut di kawasan Sungsang. Secara arkeologis, wilayah ini memiliki keterkaitan dengan situs-situs sejarah di sepanjang Sungai Musi. Masyarakatnya mengenal kesenian Dulmuluk dan tari-tarian tradisional yang mencerminkan kehidupan nelayan. Keberadaan Taman Nasional Sembilang, yang kini menjadi situs warisan dunia, merupakan bukti sejarah alam yang tak terpisahkan dari identitas Banyuasin sebagai daerah pesisir yang kaya akan biodiversitas.
Pembangunan Modern dan Signifikansi Regional
Kini, sebagai wilayah "Epic" dengan posisi strategis yang berbatasan langsung dengan sembilan wilayah tetangga (termasuk Palembang, MUBA, dan Ogan Ilir), Banyuasin bertransformasi menjadi lumbung pangan Sumatera Selatan. Pembangunan Pelabuhan Tanjung Api-Api menjadi tonggak sejarah modern yang menghubungkan Sumatera dengan Bangka Belitung dan pasar internasional. Dengan mengintegrasikan sejarah maritim masa lalu dan visi industri masa depan, Banyuasin terus memperkokoh posisinya sebagai pilar ekonomi di koridor timur Sumatera.
Geography
#
Profil Geografis Kabupaten Banyuasin: Gerbang Pesisir Sumatera Selatan
Kabupaten Banyuasin merupakan salah satu wilayah administratif paling strategis di Provinsi Sumatera Selatan dengan klasifikasi karakteristik "Epic" karena kompleksitas ekosistemnya. Memiliki luas wilayah mencapai 12.586,96 km², kabupaten ini terletak di posisi barat hingga timur laut dari pusat provinsi, membentang pada koordinat antara 1,5° – 4° Lintang Selatan dan 104° – 105° Bujur Timur. Sebagai wilayah pesisir, Banyuasin memiliki garis pantai yang substansial menghadap langsung ke Selat Bangka dan Laut Indonesia, menjadikannya beranda maritim utama bagi Sumatera Selatan.
##
Topografi dan Bentang Alam
Secara topografis, Banyuasin didominasi oleh dataran rendah dan wilayah perairan. Struktur medannya unik, terdiri dari hamparan lahan pasang surut, rawa-rawa, dan dataran aluvial yang sangat luas. Tidak ditemukan pegunungan tinggi di wilayah ini; sebaliknya, lanskapnya didominasi oleh cekungan-cekungan basah dan lembah sungai yang landai. Jaringan hidrologinya sangat masif, dipengaruhi oleh aliran sungai-sungai besar seperti Sungai Musi, Sungai Banyuasin, dan Sungai Calik yang membelah daratan sebelum bermuara ke laut. Sistem drainase alami ini menciptakan labirin perairan yang menjadi urat nadi transportasi dan ekologi lokal.
##
Iklim dan Variasi Musiman
Banyuasin memiliki iklim tropis basah dengan curah hujan yang tinggi sepanjang tahun, berkisar antara 2.000 hingga 3.000 mm per tahun. Fenomena musim diatur oleh angin monsun; musim kemarau biasanya terjadi pada periode Juni hingga September, sementara musim hujan memuncak antara Desember hingga Maret. Kelembapan udara sangat tinggi, sering kali mencapai 80%, yang dipengaruhi oleh penguapan dari luasnya permukaan air rawa dan kedekatannya dengan garis pantai.
##
Sumber Daya Alam dan Biodiversitas
Kekayaan alam Banyuasin terbagi dalam tiga sektor utama:
1. Pertanian dan Perkebunan: Wilayah ini adalah lumbung pangan Sumatera Selatan, terutama melalui optimalisasi lahan pasang surut untuk padi, serta perkebunan kelapa sawit dan karet yang luas.
2. Kehutanan dan Ekologi: Fitur geografis paling ikonik adalah keberadaan Taman Nasional Sembilang. Zona ekologi ini merupakan hutan mangrove terluas di pesisir barat Indonesia yang menjadi habitat bagi harimau sumatera, buaya muara, dan tempat persinggahan migrasi burung dari Siberia.
3. Mineral dan Energi: Perut bumi Banyuasin menyimpan cadangan batu bara, minyak bumi, dan gas alam yang menjadi pilar ekonomi regional.
##
Batas Wilayah dan Konektivitas
Kabupaten ini memiliki kompleksitas geopolitik dengan berbatasan langsung dengan 9 wilayah administratif (baik kabupaten/kota maupun provinsi tetangga), termasuk Kota Palembang, Kabupaten Musi Banyuasin, dan Kabupaten Ogan Komering Ilir. Posisi pesisirnya menjadikannya titik strategis bagi pengembangan Pelabuhan Tanjung Carat, yang diproyeksikan sebagai gerbang logistik internasional masa depan di bagian barat nusantara. Dengan perpaduan antara ekosistem rawa yang eksotis dan potensi ekonomi pesisir, Banyuasin berdiri sebagai pilar geografis yang tak tergantikan bagi kedaulatan wilayah Sumatera Selatan.
Culture
#
Kekayaan Budaya Banyuasin: Harmoni Alam dan Tradisi Sedulang Setudung
Banyuasin, sebuah kabupaten strategis di Sumatera Selatan dengan luas wilayah mencapai 12.586,96 km², merupakan wilayah unik yang memadukan ekosistem pesisir, rawa, dan daratan. Terletak di bagian barat provinsi dan berbatasan dengan sembilan wilayah administratif, Banyuasin menjadi titik temu berbagai pengaruh budaya yang melahirkan identitas khas bersemboyan "Sedulang Setudung".
##
Falsafah Sedulang Setudung dan Upacara Adat
Inti dari kebudayaan Banyuasin terangkum dalam filosofi Sedulang Setudung. Secara harfiah, ini merujuk pada kebiasaan makan bersama dalam satu nampan (dulang) yang ditutup tudung saji. Tradisi ini melambangkan kerukunan, kesetaraan, dan gotong royong masyarakat setempat. Salah satu upacara adat yang masih terjaga adalah Sedekah Bumi dan Sedekah Rame, khususnya di wilayah pesisir dan agraris, sebagai bentuk syukur atas hasil panen padi maupun tangkapan laut yang melimpah.
##
Seni Pertunjukan dan Musik Tradisional
Dunia seni Banyuasin diwarnai oleh gerak dinamis Tari Setudung Sedulang, yang sering dipentaskan untuk menyambut tamu kehormatan. Tarian ini menggambarkan keceriaan gadis-gadis desa dalam bekerja sama. Selain itu, terdapat seni Batanghari Sembilan, sebuah tradisi sastra lisan berupa pantun yang dinyanyikan dengan iringan gitar tunggal. Iramanya yang melankolis namun ritmis mencerminkan kehidupan masyarakat sungai yang tenang namun penuh perjuangan.
##
Kekayaan Kuliner Pesisir dan Rawa
Geografi Banyuasin yang didominasi perairan menjadikannya surga bagi kuliner berbasis ikan. Salah satu primadona lokal adalah Kemplang Panggang dan Kerupuk Ikan khas Sungsang yang terkenal hingga ke luar provinsi. Selain itu, terdapat Peda, olahan ikan fermentasi yang memberikan cita rasa tajam dan gurih. Masyarakat Banyuasin juga mengenal Rujak Mie dan Pindang Pegagan yang memiliki ciri khas kuah lebih bening dan asam segar, menggunakan terasi udang asli dari wilayah pesisir Banyuasin II.
##
Busana dan Tekstil Tradisional
Dalam hal busana, masyarakat Banyuasin menggunakan pakaian adat yang didominasi oleh kain Songket dan Angkinan. Perbedaan mendasar terletak pada modifikasi motif yang seringkali menyisipkan unsur alam lokal, seperti motif flora rawa. Pria biasanya mengenakan Tanjak (penutup kepala) dengan lipatan khusus yang menandakan status sosial, sementara wanita menggunakan hiasan kepala yang disebut Paksangkong dalam upacara pernikahan.
##
Bahasa dan Ekspresi Lokal
Bahasa yang digunakan adalah Dialek Melayu Palembang dengan variasi lokal Banyuasin yang cenderung lebih kental (medok) di wilayah pedalaman. Terdapat ungkapan-ungkapan khas yang sering muncul dalam pergaulan sehari-hari, mencerminkan keterbukaan masyarakatnya terhadap pendatang namun tetap memegang teguh etika kesopanan Melayu.
##
Praktik Keagamaan dan Festival
Sebagai wilayah dengan mayoritas penduduk Muslim, hari besar keagamaan dirayakan dengan meriah. Festival tahunan yang paling dinanti adalah Festival Sungsang atau Gelar Budaya Pesisir, di mana masyarakat merayakan tradisi maritim dengan perlombaan perahu hias dan ritual larung sesaji sebagai penghormatan terhadap laut yang telah memberi penghidupan. Sinergi antara kearifan lokal dan nilai religius inilah yang membuat Banyuasin menjadi wilayah dengan ketahanan budaya yang luar biasa di Sumatera Selatan.
Tourism
Menjelajahi Pesona Banyuasin: Gerbang Bahari di Jantung Sumatera Selatan
Kabupaten Banyuasin, yang terletak di bagian barat Provinsi Sumatera Selatan, merupakan wilayah seluas 12.586,96 km² yang menawarkan perpaduan unik antara ekosistem rawa, sungai besar, dan garis pantai yang memukau. Sebagai daerah yang berbatasan langsung dengan sembilan wilayah tetangga, Banyuasin menyandang status sebagai destinasi "Epic" berkat kekayaan hayati dan lanskap perairannya yang tak tertandingi.
#
Kekayaan Alam: Dari Labirin Mangrove ke Taman Nasional
Daya tarik utama Banyuasin terletak pada Taman Nasional Berbak dan Sembilang. Di sini, wisatawan dapat menyaksikan fenomena langka migrasi burung pantai dari Siberia yang singgah di hamparan lumpur luas setiap bulan Oktober hingga Desember. Selain itu, kawasan pesisir Banyuasin menawarkan petualangan menyusuri sungai-sungai lebar dengan jajaran pohon nipah dan mangrove yang menjadi habitat asli buaya muara serta lumba-lumba air tawar (Pesut). Bagi pencinta ketenangan, Pantai Sungsang menyuguhkan pemandangan matahari terbenam yang dramatis dengan latar belakang perkampungan nelayan terapung yang autentik.
#
Warisan Budaya dan Kehidupan Sungai
Secara kultural, Banyuasin adalah cerminan akulturasi budaya sungai yang kuat. Desa Wisata Sungsang menjadi destinasi wajib untuk merasakan kehidupan masyarakat pesisir. Wisatawan dapat melihat rumah-rumah panggung kayu yang kokoh berdiri di atas air dan berinteraksi dengan pengrajin kapal tradisional. Meskipun tidak didominasi oleh candi besar, jejak sejarah dapat ditemukan melalui tradisi lisan dan gaya arsitektur rumah limas khas Banyuasin yang masih terjaga di beberapa kecamatan.
#
Petualangan Kuliner: Surga Seafood dan Olahan Sungai
Banyuasin adalah lumbung pangan Sumatera Selatan, terutama untuk hasil laut. Pengalaman kuliner di sini wajib melibatkan Pempek Sungsang yang terkenal karena kesegaran ikannya yang langsung dari tangkapan nelayan. Jangan lewatkan mencicipi Pindang Udang Satang (udang galah) yang berukuran jumbo dengan kuah asam pedas yang segar. Bagi penikmat kuliner ekstrem, musiman tersedia "Kelempang" atau kerupuk khas yang diolah dengan resep turun-temurun, memberikan cita rasa gurih yang berbeda dari daerah lain.
#
Aktivitas Luar Ruangan dan Akomodasi
Bagi jiwa petualang, menyewa perahu motor untuk melakukan river safari adalah aktivitas utama. Anda bisa mencoba memancing ikan semah atau udang galah di sepanjang aliran sungai Banyuasin. Untuk akomodasi, tersedia berbagai pilihan mulai dari penginapan kelas menengah di pusat kota Pangkalan Balai hingga homestay di rumah penduduk lokal di kawasan pesisir, yang menawarkan keramahan khas masyarakat Melayu-Pesisir.
#
Waktu Terbaik untuk Berkunjung
Waktu terbaik untuk mengunjungi Banyuasin adalah pada musim kemarau, antara bulan Mei hingga September, untuk menghindari pasang air laut yang tinggi. Namun, jika tujuan utama Anda adalah pengamatan burung migran, datanglah pada akhir tahun. Banyuasin bukan sekadar persinggahan; ia adalah petualangan eksotis bagi mereka yang merindukan sisi liar dan autentik dari Sumatera Selatan.
Economy
#
Profil Ekonomi Kabupaten Banyuasin: Raksasa Agraris dan Maritim Sumatera Selatan
Kabupaten Banyuasin, yang terletak di bagian barat Provinsi Sumatera Selatan dengan luas wilayah mencapai 12.586,96 km², memegang peranan krusial sebagai penyangga ekonomi regional. Sebagai wilayah dengan status "Epic" dalam peta pembangunan provinsi, Banyuasin memiliki keunggulan geografis unik karena berbatasan langsung dengan sembilan wilayah administratif serta memiliki garis pantai yang strategis menghadap Laut Indonesia.
##
Sektor Pertanian dan Ketahanan Pangan
Banyuasin merupakan lumbung pangan utama Sumatera Selatan. Sektor pertanian, khususnya padi sawah dan pasang surut, menjadi tulang punggung ekonomi dengan kontribusi PDRB yang sangat signifikan. Melalui optimalisasi lahan di kawasan seperti Jalur dan Delta Upang, Banyuasin konsisten menduduki peringkat atas produsen beras nasional. Selain padi, komoditas perkebunan seperti karet dan kelapa sawit menjadi penggerak kesejahteraan masyarakat pedesaan. Uniknya, Banyuasin juga dikenal sebagai penghasil kelapa dalam terbesar di wilayah ini, yang terkonsentrasi di Kecamatan Banyuasin II dan Muara Sugihan.
##
Ekonomi Maritim dan Pesisir
Memiliki garis pantai yang membentang luas, ekonomi maritim Banyuasin sangat prospektif. Sektor perikanan tangkap dan budidaya tambak udang serta bandeng berkembang pesat di wilayah pesisir. Keberadaan Pelabuhan Tanjung Api-api menjadi aset strategis nasional yang mengintegrasikan jalur logistik laut menuju Bangka Belitung dan pasar internasional. Pelabuhan ini bukan sekadar titik transportasi, melainkan pusat pertumbuhan industri baru yang menyerap ribuan tenaga kerja lokal dalam bidang logistik dan bongkar muat.
##
Sektor Industri dan Kerajinan Tradisional
Pertumbuhan industri di Banyuasin didorong oleh hilirisasi produk pertanian. Pabrik pengolahan kelapa sawit (PKS) dan pengolahan karet tersebar di sepanjang lintas timur. Di sisi UMKM, Banyuasin memiliki kerajinan khas seperti anyaman purun dan kain songket motif khas Banyuasin yang mulai merambah pasar nasional. Produk olahan makanan berbasis ikan, seperti kerupuk kemplang dan terasi udang dari Sungsang, menjadi produk unggulan yang menopang ekonomi kreatif masyarakat pesisir.
##
Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah
Pembangunan Jalan Tol Kayu Agung–Palembang–Betung (Kapalbetung) telah mengubah wajah ekonomi Banyuasin dengan mempercepat akses distribusi barang. Konektivitas ini memicu pertumbuhan sektor jasa dan perhotelan di pusat-pusat pertumbuhan baru. Selain itu, pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Api-api diproyeksikan akan mentransformasi Banyuasin dari wilayah agraris murni menjadi kawasan industri terpadu yang modern.
##
Tren Ketenagakerjaan
Meskipun sektor pertanian masih mendominasi serapan tenaga kerja, terdapat pergeseran tren menuju sektor industri dan jasa konstruksi seiring masifnya pembangunan infrastruktur. Pemerintah daerah terus berupaya meningkatkan literasi digital bagi pelaku UMKM agar produk lokal Banyuasin dapat bersaing di ekosistem ekonomi global. Dengan kombinasi kekayaan lahan dan potensi laut, Banyuasin tetap menjadi pilar stabilitas ekonomi di Sumatera Selatan.
Demographics
#
Profil Demografi Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan
Kabupaten Banyuasin merupakan wilayah strategis di Sumatera Selatan dengan luas mencapai 12.586,96 km². Sebagai daerah pesisir yang berbatasan langsung dengan Selat Bangka, Banyuasin memiliki karakteristik demografis yang unik, dipengaruhi oleh bentang alam perairan dan posisinya yang mengelilingi Kota Palembang.
Pertumbuhan dan Kepadatan Penduduk
Berdasarkan data terbaru, populasi Banyuasin telah melampaui 850.000 jiwa. Tingkat kepadatan penduduknya tergolong sedang, yakni sekitar 67-70 jiwa per km². Namun, distribusi penduduk tidak merata; konsentrasi tertinggi berada di Kecamatan Talang Kelapa yang merupakan wilayah penyangga (buffer zone) Palembang, sementara wilayah perairan seperti Banyuasin II memiliki kepadatan yang jauh lebih rendah karena didominasi oleh ekosistem mangrove dan rawa.
Komposisi Etnis dan Keberagaman Budaya
Banyuasin adalah melting pot budaya di Sumatera Selatan. Penduduk aslinya terdiri dari suku Melayu Banyuasin yang menetap di sepanjang aliran sungai. Namun, program transmigrasi besar-besaran di masa lalu membawa gelombang signifikan etnis Jawa, Sunda, dan Bali ke wilayah daratan (kawasan darat). Keberagaman ini menciptakan lanskap sosial yang heterogen, di mana dialek lokal sering berbaur dengan bahasa Jawa, menciptakan identitas kultural yang inklusif dan harmonis.
Struktur Usia dan Anggaran Pendidikan
Secara demografis, Banyuasin memiliki struktur penduduk muda yang progresif (piramida ekspansif). Kelompok usia produktif (15-64 tahun) mendominasi lebih dari 65% total populasi, yang menandakan potensi bonus demografi. Angka melek huruf di Banyuasin telah mencapai di atas 98%, menunjukkan kemajuan signifikan dalam sektor pendidikan dasar. Meski demikian, terdapat tantangan dalam distribusi fasilitas pendidikan tinggi yang masih terkonsentrasi di wilayah perbatasan kota.
Dinamika Urbanisasi dan Migrasi
Sebagai daerah dengan sembilan wilayah administrasi yang bertetangga, Banyuasin mengalami pola migrasi sirkuler yang tinggi. Banyak penduduk bekerja di Palembang namun menetap di Banyuasin, memicu fenomena urban sprawl. Di sisi lain, wilayah pesisir tetap mempertahankan karakter perdesaan dengan sektor perikanan dan perkebunan sawit sebagai motor ekonomi utama. Arus migrasi masuk masih terus terjadi, didorong oleh pembukaan lahan pertanian baru dan pengembangan Pelabuhan Tanjung Api-Api sebagai kawasan ekonomi strategis.
Karakteristik Unik Pesisir
Karakteristik langka Banyuasin terletak pada komunitas "penduduk perairan" yang tinggal di rumah-rumah panggung di atas sungai Sungsang. Mobilitas mereka sangat bergantung pada jalur transportasi air, menciptakan pola pemukiman linear yang mengikuti garis pantai dan arus sungai, sebuah kontras tajam dengan pola pemukiman agraris di wilayah Banyuasin bagian barat.
💡 Fakta Unik
- 1.Wilayah ini merupakan lokasi penemuan Prasasti Kedukan Bukit yang menjadi bukti sejarah berdirinya Kerajaan Sriwijaya pada tahun 682 Masehi.
- 2.Tradisi Midang merupakan parade pakaian adat pengantin yang dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat pada hari raya Idul Fitri.
- 3.Bentang alamnya didominasi oleh perairan sungai dan rawa yang sangat luas, serta memiliki garis pantai yang berbatasan langsung dengan Selat Bangka.
- 4.Daerah ini sangat terkenal di seluruh Indonesia sebagai produsen utama kerupuk dan kemplang ikan berkualitas tinggi yang menjadi oleh-oleh khasnya.
Destinasi di Banyuasin
Semua Destinasi→Taman Nasional Berbak dan Sembilang
Destinasi ekowisata kelas dunia ini merupakan surga bagi pengamat burung, terutama saat ribuan burun...
Wisata AlamHutan Magrove Sungsang
Menyusuri labirin hijau di muara Sungai Musi, Hutan Mangrove Sungsang menawarkan pengalaman menyatu ...
Pusat KebudayaanKampung Nelayan Sungsang
Dikenal sebagai gerbang bahari Banyuasin, kampung ini menyajikan harmoni kehidupan masyarakat pesisi...
Wisata AlamDanau Biru Air Batu
Berawal dari bekas lahan penambangan tanah liat, situs ini bertransformasi menjadi fenomena visual d...
Tempat RekreasiPusat Latihan Gajah (PLG) Jalur 21
Terletak di dalam kawasan penyangga taman nasional, pusat latihan ini berfungsi sebagai tempat konse...
Kuliner LegendarisPempek Udang Sungsang
Berbeda dengan pempek Palembang yang menggunakan ikan belida atau gabus, versi khas Banyuasin ini me...
Tempat Lainnya di Sumatera Selatan
Lokasi Serupa
Panduan Perjalanan Terkait
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiUji Pengetahuanmu!
Apakah kamu bisa menebak Banyuasin dari siluet petanya?