Situs Sejarah

Masjid Jami' At-Taqwa Putussibau

di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Jejak Peradaban Islam di Hulu Sungai Kapuas: Sejarah Masjid Jami' At-Taqwa Putussibau

Masjid Jami' At-Taqwa Putussibau bukan sekadar tempat ibadah bagi masyarakat di jantung Pulau Kalimantan, melainkan sebuah monumen hidup yang merekam perjalanan panjang syiar Islam di wilayah Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Terletak strategis di tepian Sungai Kapuas, masjid ini menjadi saksi bisu bagaimana peradaban sungai membentuk identitas religius dan sosial masyarakat setempat selama lebih dari satu abad.

#

Akar Sejarah dan Pendirian

Sejarah Masjid Jami' At-Taqwa tidak dapat dipisahkan dari dinamika kekuasaan lokal di wilayah pedalaman Kalimantan pada akhir abad ke-19. Berdasarkan catatan lisan dan dokumen sejarah yang terjaga, cikal bakal masjid ini mulai digagas pada era kepemimpinan Pangeran Laksamana (Abang Ahmad) sekitar tahun 1880-an. Putussibau pada masa itu merupakan titik temu perdagangan yang vital, di mana komoditas hasil hutan dari hulu sungai dipertemukan dengan para pedagang yang datang dari arah Pontianak maupun Sarawak.

Pembangunan masjid ini dipicu oleh kebutuhan akan pusat peribadatan yang representatif bagi komunitas Muslim yang kian berkembang, yang terdiri dari penduduk asli Melayu, suku Dayak yang telah memeluk Islam (Suku Senganan), serta para pedagang pendatang. Secara resmi, bangunan permanen pertama selesai dikonstruksi sekitar tahun 1900, menjadikannya salah satu struktur keagamaan tertua di kabupaten Kapuas Hulu.

#

Arsitektur Vernakular dan Material Kayu Belian

Secara arsitektural, Masjid Jami' At-Taqwa Putussibau merupakan representasi gemilang dari arsitektur vernakular Melayu Kalimantan. Ciri khas yang paling menonjol adalah penggunaan kayu Belian (kayu besi) sebagai material utama. Kayu Belian dipilih bukan hanya karena kekuatannya yang mampu bertahan ratusan tahun terhadap cuaca ekstrem tropis, tetapi juga melambangkan keteguhan iman masyarakat setempat.

Struktur asli masjid ini mengusung konsep rumah panggung untuk mengantisipasi luapan air Sungai Kapuas yang sering terjadi pada musim penghujan. Atapnya berbentuk tumpang (limas bersusun) yang merupakan pengaruh dari arsitektur masjid-masjid kuno di Nusantara, khususnya Jawa dan Sumatera, namun dengan modifikasi lokal pada kemiringan atap yang lebih curam guna mempercepat aliran air hujan.

Bagian interior masjid menampilkan keahlian pertukangan kayu yang luar biasa. Tiang-tiang penyangga utama (soko guru) dibuat dari batang kayu Belian utuh tanpa sambungan yang dipasang dengan teknik pasak kayu tradisional tanpa paku besi. Ukiran-ukiran motif flora dan geometris yang menghiasi mimbar dan ventilasi udara mencerminkan perpaduan estetika Islam dengan kearifan lokal Kalimantan.

#

Peran Strategis dalam Pergerakan dan Pendidikan

Sepanjang sejarahnya, Masjid Jami' At-Taqwa tidak hanya berfungsi sebagai tempat salat lima waktu. Pada masa penjajahan Belanda, masjid ini menjadi titik temu rahasia bagi para tokoh pejuang lokal untuk mengoordinasikan gerakan perlawanan dan mendiskusikan nasib rakyat di wilayah hulu. Letaknya yang berada di pinggir sungai memudahkan para pejuang untuk datang dan pergi menggunakan sampan tanpa menarik kecurigaan patroli kolonial yang biasanya berpusat di darat.

Di bidang pendidikan, masjid ini merupakan pusat pembelajaran agama pertama di Putussibau sebelum munculnya madrasah-madrasah formal. Tokoh-tokoh agama terkemuka, seperti para ulama yang datang dari Hadramaut maupun ulama lokal lulusan Makkah, sering menjadikan serambi masjid sebagai tempat "halaqah" atau pengajian kitab kuning. Hal inilah yang menyebabkan Putussibau dikenal sebagai salah satu pusat religiusitas yang kuat di Kalimantan Barat.

#

Tokoh Penting dan Transformasi Nama

Nama "At-Taqwa" sendiri tidak langsung disematkan sejak awal berdiri. Pada mulanya, masyarakat hanya mengenalnya sebagai "Masjid Jami' Putussibau" atau "Masjid Besar". Pemberian nama At-Taqwa dilakukan dalam proses renovasi dan administrasi di era kemerdekaan untuk memberikan identitas yang lebih spesifik. Beberapa tokoh penting yang tercatat dalam sejarah pengembangan masjid ini antara lain Abang Ishak dan keluarga besar bangsawan lokal yang secara turun-temurun menjadi donatur utama serta pengurus (nadzir) masjid.

#

Upaya Pelestarian dan Restorasi

Sebagai situs sejarah yang masih berfungsi aktif (living monument), Masjid Jami' At-Taqwa telah mengalami beberapa kali renovasi. Tantangan terbesar dalam pelestarian masjid ini adalah posisinya yang sangat dekat dengan bibir sungai, sehingga ancaman abrasi dan pelapukan akibat kelembapan tinggi selalu ada.

Pemerintah Daerah Kabupaten Kapuas Hulu bersama Balai Pelestarian Cagar Budaya telah memasukkan masjid ini ke dalam daftar objek diduga cagar budaya. Dalam beberapa kali pemugaran, upaya keras dilakukan untuk tetap mempertahankan bagian-bagian asli, terutama struktur tiang utama dan mimbar kuno. Meskipun saat ini bagian lantai dan dinding telah banyak mengalami modernisasi dengan penggunaan semen dan keramik demi kenyamanan jamaah, ruh arsitektur kayu Belian di bagian atap dan struktur penyangga tetap dipertahankan sebagai identitas aslinya.

#

Makna Budaya dan Simbol Kebersamaan

Bagi masyarakat Putussibau, Masjid Jami' At-Taqwa adalah simbol kerukunan. Di sekitar masjid ini, kehidupan berjalan dengan harmonis antara umat Islam dan penganut agama lain yang bermukim di pasar Putussibau. Tradisi "Saprahan" atau makan bersama secara lesehan yang sering dilakukan di masjid ini saat hari besar Islam menjadi sarana pengikat tali silaturahmi antarwarga.

Keberadaan masjid ini juga menjadi pengingat akan sejarah transportasi sungai. Dahulu, setiap kapal motor yang mudik (menuju hulu) atau hilir (menuju Pontianak) akan menjadikan menara masjid ini sebagai titik acuan navigasi. Suara azan yang menggema dari masjid ini menjangkau hingga ke seberang sungai, menandai detak kehidupan kota Putussibau setiap harinya.

#

Kesimpulan

Masjid Jami' At-Taqwa Putussibau adalah warisan peradaban yang tak ternilai harganya bagi Kalimantan Barat. Ia adalah perpaduan antara keagungan spiritual, ketangguhan material kayu Belian, dan sejarah panjang perjuangan masyarakat Kapuas Hulu. Menjaga keberadaan masjid ini berarti merawat memori kolektif tentang bagaimana Islam masuk, berkembang, dan memberikan warna pada kehidupan di jantung Borneo. Sebagai situs sejarah, ia berdiri tegak menantang zaman, mengajak generasi mendatang untuk tidak melupakan akar budaya dan iman yang telah tertanam kuat di tepian Sungai Kapuas.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Jl. Kom Yos Sudarso, Putussibau Kota, Kapuas Hulu
entrance fee
Gratis
opening hours
Setiap hari, Waktu Shalat

Tempat Menarik Lainnya di Kapuas Hulu

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Kapuas Hulu

Pelajari lebih lanjut tentang Kapuas Hulu dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Kapuas Hulu