Pusat Kerajinan Tenun Ikat Sintang
di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Menenun Tradisi, Mengikat Identitas: Kiprah Pusat Kerajinan Tenun Ikat Sintang di Kapuas Hulu
Pusat Kerajinan Tenun Ikat Sintang berdiri sebagai mercusuar pelestarian identitas Dayak di wilayah Kalimantan Barat, khususnya di Kabupaten Kapuas Hulu. Sebagai sebuah pusat kebudayaan yang dinamis, lembaga ini bukan sekadar tempat produksi kain, melainkan sebuah ekosistem kebudayaan yang menghubungkan masa lalu leluhur dengan masa depan generasi muda. Di tengah arus modernisasi, pusat ini menjalankan peran krusial dalam menjaga keberlangsungan Tenun Ikat—sebuah mahakarya tekstil yang memadukan spiritualitas, estetika, dan ketekunan tangan-tangan perajin perempuan Dayak.
#
Filosofi dan Estetika Tenun Ikat Sintang
Tenun Ikat Sintang memiliki karakteristik yang sangat spesifik dibandingkan dengan tenun dari daerah lain di Nusantara. Di Pusat Kerajinan Tenun Ikat Sintang, setiap helai kain adalah narasi visual. Ragam hias yang dihasilkan bukan sekadar dekorasi, melainkan simbol-simbol yang memiliki makna mendalam. Motif-motif seperti pucuk rebung, pohon hayat, hingga figuratif hewan hutan seperti buaya dan burung enggang, merepresentasikan hubungan manusia dengan alam dan dunia roh.
Pusat ini menekankan pada penggunaan pewarnaan alami. Para perajin didorong untuk menggunakan bahan-bahan dari hutan sekitar, seperti akar mengkudu untuk warna merah, daun indigo (tarum) untuk warna biru tua, dan kayu secang. Proses ini tidak hanya menjaga kualitas estetika yang organik dan tahan lama, tetapi juga memperkuat kampanye kelestarian lingkungan atau "Green Weaver" yang menjadi ciri khas pergerakan tenun di wilayah ini.
#
Aktivitas Kebudayaan dan Program Unggulan
Pusat Kerajinan Tenun Ikat Sintang menyelenggarakan berbagai program yang dirancang untuk menghidupkan kembali tradisi yang hampir punah. Salah satu aktivitas utamanya adalah siklus produksi tradisional yang meliputi:
1. Ngaras: Proses menyusun benang sebelum ditenun.
2. Ngebat: Proses mengikat motif menggunakan tali rafia atau serat tumbuhan (dahulu menggunakan serat bambu) agar bagian tersebut tidak terkena warna saat dicelup.
3. Nyelup: Proses pewarnaan yang dilakukan berulang kali hingga mendapatkan kepekatan warna yang diinginkan.
4. Menenun: Menggunakan alat tenun tradisional yang disebut Gedog, di mana perajin duduk menyelonjor dan menahan beban alat dengan pinggang mereka.
Selain produksi fisik, pusat ini mengadakan ritual-ritual adat yang menyertai proses menenun. Bagi masyarakat Dayak di Kapuas Hulu, menenun adalah kegiatan sakral. Ada doa-doa tertentu yang dipanjatkan agar motif yang dihasilkan memberikan perlindungan bagi pemakainya. Pusat kebudayaan ini memastikan bahwa aspek spiritual ini tetap diajarkan kepada para pendatang dan generasi muda agar esensi tenun tidak tereduksi menjadi sekadar komoditas dagang.
#
Pendidikan dan Pemberdayaan Komunitas
Sebagai pusat pendidikan, tempat ini mengoperasikan program magang bagi remaja putri dari desa-desa sekitar. Di sini, mereka tidak hanya belajar teknik menenun, tetapi juga manajemen usaha dan literasi budaya. Pendidikan ini sangat penting karena di masa lalu, kemampuan menenun adalah indikator kedewasaan dan kecakapan seorang perempuan Dayak.
Pusat ini juga berfungsi sebagai laboratorium riset bagi para peneliti kebudayaan. Terdapat dokumentasi mengenai ribuan motif kuno yang dikumpulkan dari tetua adat (Tuai Rumah). Pendokumentasian ini mencegah hilangnya hak intelektual komunal atas motif-motif tradisional yang sering kali diklaim oleh pihak luar. Melalui program "Desa Binaan", pusat ini mengembangkan klaster-klaster perajin di pedalaman Kapuas Hulu, memastikan bahwa manfaat ekonomi dari pelestarian budaya ini dirasakan langsung oleh masyarakat akar rumput.
#
Pergelaran Seni dan Festival Kebudayaan
Secara berkala, Pusat Kerajinan Tenun Ikat Sintang menjadi tuan rumah bagi berbagai acara kebudayaan. Salah satu yang paling dinanti adalah Fashion Show Tenun Ikat, di mana kain-kain tradisional ditampilkan dalam bentuk busana modern hasil kolaborasi dengan desainer lokal maupun nasional. Acara ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa tenun ikat sangat relevan dengan gaya hidup kontemporer.
Selain itu, pusat ini sering terlibat dalam perayaan Gawai Dayak—festival pasca-panen terbesar di Kalimantan Barat. Dalam momen ini, pusat kerajinan memamerkan koleksi-koleksi heritage yang berusia puluhan tahun (kain antik) untuk mengedukasi masyarakat mengenai evolusi teknik dan motif. Demonstrasi menenun secara langsung (live weaving) juga menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin merasakan langsung kerumitan di balik sehelai kain.
#
Peran dalam Pembangunan Kebudayaan Lokal
Pusat Kerajinan Tenun Ikat Sintang memainkan peran strategis dalam peta pembangunan kebudayaan di Kapuas Hulu. Lembaga ini menjadi jembatan antara kebijakan pemerintah daerah dengan kebutuhan para praktisi seni di lapangan. Dengan adanya pusat ini, posisi tawar perajin meningkat, dan Tenun Ikat Sintang kini diakui secara nasional sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia.
Peran lainnya adalah dalam hal diplomasi budaya. Produk-produk dari pusat ini sering dijadikan cenderamata resmi bagi tamu-tamu kenegaraan dan dipamerkan di ajang internasional. Hal ini tidak hanya mempromosikan pariwisata Kapuas Hulu, tetapi juga meningkatkan rasa bangga (sense of pride) masyarakat lokal terhadap warisan leluhur mereka.
#
Pelestarian Warisan Budaya di Era Digital
Menyadari tantangan zaman, Pusat Kerajinan Tenun Ikat Sintang kini mulai merambah ke ranah digital. Mereka melakukan digitalisasi motif agar dapat dipelajari secara visual oleh siapa saja di seluruh dunia. Namun, mereka tetap memegang teguh aturan adat mengenai motif-motif tertentu yang bersifat sakral dan tidak boleh diproduksi secara massal atau sembarangan.
Upaya pelestarian juga mencakup revitalisasi penggunaan serat alam. Pusat ini gencar mempromosikan penanaman kembali kapas lokal dan tanaman pewarna di lahan-lahan tidur milik masyarakat. Ini adalah langkah konkret untuk memastikan bahwa bahan baku tenun ikat tidak bergantung pada benang pabrikan, sehingga kemurnian tradisi tetap terjaga dari hulu ke hilir.
#
Kesimpulan: Menenun Masa Depan
Pusat Kerajinan Tenun Ikat Sintang di Kapuas Hulu adalah bukti nyata bahwa tradisi dapat bertahan jika dikelola dengan visi yang jelas dan keterlibatan komunitas yang kuat. Tempat ini bukan sekadar gedung atau galeri, melainkan jantung yang memompa semangat kebudayaan Dayak agar terus mengalir di nadi generasi mendatang.
Melalui sinergi antara nilai-nilai spriritual, keterampilan teknis, dan inovasi sosial, pusat ini telah berhasil mengubah selembar kain menjadi simbol perlawanan terhadap kepunahan budaya. Bagi setiap pengunjung yang datang ke Kapuas Hulu, mengunjungi pusat ini adalah sebuah perjalanan spiritual untuk memahami bagaimana helai demi helai benang dapat mengikat sebuah komunitas dalam satu identitas yang kokoh dan bermartabat. Tenun Ikat Sintang adalah doa yang ditenun, cerita yang diikat, dan warisan yang takkan pernah luntur oleh waktu.
📋 Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Kapuas Hulu
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Kapuas Hulu
Pelajari lebih lanjut tentang Kapuas Hulu dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Kapuas Hulu