Kolaka Utara
RareDipublikasikan: Januari 2025
History
#
Sejarah dan Perkembangan Kolaka Utara: Gerbang Utara Bumi Anoa
Kolaka Utara, sebuah wilayah strategis seluas 2.954,89 km² di Sulawesi Tenggara, menyimpan narasi sejarah yang mendalam, mulai dari era kedatuan hingga transformasinya menjadi kabupaten modern. Meskipun secara geografis didominasi oleh pegunungan dan perbukitan di bagian tengah jazirah Sulawesi, wilayah ini memiliki peran krusial sebagai penghubung antara kebudayaan Bugis di barat dan kebudayaan Tolaki di timur.
##
Akar Prasejarah dan Era Kedatuan
Jejak sejarah Kolaka Utara tidak dapat dipisahkan dari pengaruh Kedatuan Luwu, salah satu kerajaan tertua di Sulawesi. Sebelum struktur pemerintahan modern terbentuk, wilayah ini dihuni oleh masyarakat etnis Tolaki (Mekongga) dan para pendatang dari tanah Luwu. Tradisi lisan menyebutkan bahwa wilayah Lasusua, yang kini menjadi ibu kota kabupaten, merupakan daerah penting dalam jalur perdagangan hasil hutan dan rempah. Masyarakat tradisional menjalankan hukum adat yang kental dengan nilai-nilai religius dan gotong royong, yang tercermin dalam filosofi Kalo Sara.
##
Masa Kolonial dan Perlawanan Rakyat
Pada awal abad ke-20, pemerintah kolonial Belanda mulai menancapkan pengaruhnya secara administratif demi menguasai potensi alam di pedalaman Sulawesi. Masuknya Belanda memicu riak perlawanan dari tokoh-tokoh lokal. Salah satu peristiwa yang paling dikenang dalam memori kolektif masyarakat adalah perlawanan terhadap kebijakan kerja paksa (rodi) dan pajak yang memberatkan. Di wilayah ini, semangat perlawanan terintegrasi dengan perjuangan rakyat Sulawesi Selatan dan Tenggara dalam mempertahankan kedaulatan dari agresi militer Belanda pasca-Proklamasi Kemerdekaan.
##
Perjuangan Kemerdekaan dan Era DI/TII
Pasca 1945, Kolaka Utara menjadi salah satu basis penting dalam dinamika politik regional. Wilayah ini sempat terdampak signifikan oleh pergolakan DI/TII yang dipimpin oleh Abdul Kahar Muzakkar pada kurun waktu 1950-an hingga awal 1960-an. Hutan-hutan lebat dan topografi pegunungan di Kolaka Utara dijadikan sebagai wilayah pertahanan strategis. Peristiwa ini meninggalkan bekas sejarah berupa migrasi penduduk dan penataan ulang pemukiman yang kemudian membentuk pola persebaran penduduk saat ini.
##
Pembentukan Kabupaten dan Modernisasi
Secara administratif, Kolaka Utara awalnya merupakan bagian dari Kabupaten Kolaka. Namun, aspirasi masyarakat untuk mempercepat pembangunan daerah mendorong terjadinya pemekaran. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2003, tertanggal 18 Desember 2003, Kabupaten Kolaka Utara resmi berdiri sebagai daerah otonom baru. Pelantikan penjabat bupati pertama, Drs. H. Ansar Sangka, M.M., menandai babak baru pemerintahan mandiri.
Kabupaten ini berbatasan langsung dengan lima wilayah administratif, termasuk Kabupaten Luwu Timur di utara dan Kabupaten Kolaka di selatan. Keunikan Kolaka Utara terletak pada statusnya sebagai daerah "tengah" yang mempertemukan jalur darat trans-Sulawesi.
##
Warisan Budaya dan Situs Sejarah
Masyarakat Kolaka Utara menjaga warisan budaya melalui ritual adat seperti Mosehe Kondee, sebuah upacara penyucian diri dan daerah yang diwariskan oleh leluhur suku Mekongga. Selain itu, peninggalan sejarah dapat ditemukan dalam bentuk makam-makam kuno tokoh adat di pegunungan serta arsitektur rumah tradisional yang mengadopsi elemen lokal dan pengaruh Bugis. Kini, monumen-monumen baru seperti Masjid Agung Lasusua berdiri sebagai simbol modernitas yang tetap menjunjung nilai religius masyarakat setempat. Kolaka Utara terus berkembang dari wilayah pedalaman yang terisolasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Sulawesi Tenggara melalui sektor perkebunan kakao dan pertambangan nikel.
Geography
#
Geografi Kabupaten Kolaka Utara: Jantung Pegunungan Sulawesi Tenggara
Kabupaten Kolaka Utara merupakan entitas geografis yang unik di Provinsi Sulawesi Tenggara. Membentang seluas 2.954,89 km², wilayah ini secara administratif dan fisik terletak di bagian tengah jazirah tenggara Pulau Sulawesi. Meskipun secara umum Sulawesi dikenal dengan garis pantainya yang panjang, karakteristik khusus Kolaka Utara dalam konteks ini menonjolkan dominasi daratan tinggi yang terkurung oleh batas-batas teritorial yang rapat, menjadikannya wilayah penyangga utama di jantung provinsi.
##
Topografi dan Bentang Alam
Secara topografis, Kolaka Utara didominasi oleh relief yang kasar dan berbukit-bukit. Wilayah ini merupakan bagian dari sistem Pegunungan Verbeek dan Pegunungan Mekongga yang megah. Elevasi daratannya bervariasi secara drastis, mulai dari lembah-lembah sempit hingga puncak-puncak yang mencapai ketinggian di atas 2.000 meter di atas permukaan laut. Struktur geologinya ditandai dengan kemiringan lereng yang curam, di mana lebih dari 60% wilayahnya memiliki kemiringan di atas 40 derajat. Lembah-lembah yang dalam terbentuk di antara lipatan pegunungan, menciptakan isolasi alami yang menjaga kemurnian ekosistem setempat.
Sistem hidrologi di wilayah ini dipicu oleh curah hujan tinggi yang mengalir melalui sungai-sungai deras seperti Sungai Rante Angin dan Sungai Lasusua. Sungai-sungai ini berperan penting dalam mengukir geomorfologi kawasan, menciptakan ngarai-ngarai sempit yang eksotis sebelum aliran airnya menuju ke dataran yang lebih rendah.
##
Iklim dan Variasi Musiman
Berada di posisi tengah Pulau Sulawesi, Kolaka Utara dipengaruhi oleh iklim tropis basah yang sangat dipengaruhi oleh orografi pegunungan. Pola cuaca di sini cenderung memiliki curah hujan yang merata sepanjang tahun, dengan puncaknya terjadi pada transisi muson. Suhu udara di wilayah lembah berkisar antara 24°C hingga 31°C, namun di zona pegunungan, suhu dapat turun drastis hingga 15°C pada malam hari. Kelembapan yang tinggi menciptakan kabut permanen di puncak-puncak gunung, yang mendukung pembentukan hutan lumut yang langka.
##
Kekayaan Sumber Daya Alam dan Biodiversitas
Kekayaan mineral Kolaka Utara sangat signifikan, terutama deposit nikel yang tertanam di bawah lapisan tanah laterit pegunungannya. Selain pertambangan, sektor kehutanan dan pertanian menjadi pilar utama. Tanah vulkanik dan aluvial di dasar lembah sangat subur untuk komoditas perkebunan seperti kakao dan cengkih, yang kualitasnya telah diakui secara nasional.
Secara ekologis, wilayah ini merupakan bagian dari zona Wallacea yang kaya akan biodiversitas. Hutan hujan tropis pegunungan di sini menjadi habitat bagi spesies endemik seperti Anoa (Bubalus quarlesi) dan berbagai jenis burung rangkong. Keberadaan kawasan hutan lindung yang luas berfungsi sebagai pengatur tata air (daerah tangkapan air) yang vital bagi lima wilayah tetangga yang berbatasan langsung dengannya. Dengan koordinat geografis yang membentang antara 2° hingga 3° Lintang Selatan, Kolaka Utara tetap menjadi benteng hijau yang krusial bagi keseimbangan ekologi Sulawesi Tenggara.
Culture
#
Kekayaan Budaya Kolaka Utara: Permata Tersembunyi di Jantung Sulawesi
Kabupaten Kolaka Utara, yang terletak di posisi tengah semenanjung barat Sulawesi Tenggara, merupakan wilayah seluas 2.954,89 km² yang menyimpan kekayaan budaya mendalam. Secara geografis, meskipun berbatasan dengan Teluk Bone, identitas budayanya sangat dipengaruhi oleh asimilasi harmonis antara etnis asli Tolaki-Mekongga dan pengaruh kuat Bugis karena letaknya yang berdekatan dengan Sulawesi Selatan.
##
Tradisi dan Upacara Adat
Kehidupan sosial di Kolaka Utara masih dipandu oleh filosofi Kalo Sara, sebuah lingkaran rotan yang melambangkan persatuan, hukum, dan keadilan. Salah satu upacara adat yang paling sakral adalah Mosehe Wonua. Ritual penyucian negeri ini dilakukan untuk memohon perlindungan dari bencana dan menghapus "dosa" kolektif masyarakat. Tradisi ini melibatkan penyembelihan hewan kurban (biasanya kerbau putih) dan doa bersama yang dipimpin oleh tetua adat Mekongga. Selain itu, tradisi Mewangu (mendirikan rumah) masih dilakukan dengan gotong royong, di mana posisi tiang utama harus ditentukan melalui perhitungan hari baik menurut kalender lokal.
##
Kesenian, Musik, dan Tari
Dalam bidang seni pertunjukan, Tari Lulo menjadi ikon yang tak terpisahkan. Berbeda dengan daerah lain, Lulo di Kolaka Utara sering dipentaskan dalam perayaan panen cengkeh atau pernikahan, di mana masyarakat membentuk lingkaran besar sambil berpegangan tangan mengikuti irama Gong dan Gendang. Musik tradisional didominasi oleh instrumen bambu dan Ore-ore Ngasi, sebuah alat musik tiup tradisional. Seni bela diri Pencak Silat Mekongga juga tetap dilestarikan, seringkali dipadukan dengan tarian perang yang menunjukkan ketangkasan dan keberanian pemuda setempat.
##
Kuliner Khas dan Gastronomi
Kuliner Kolaka Utara mencerminkan kekayaan hasil buminya. Sinonggi adalah makanan pokok berbahan dasar sagu yang disajikan dengan kuah ikan kuning atau Palumara. Yang unik di wilayah ini adalah penggunaan Pacco, hidangan ikan mentah yang segar yang difermentasi dengan perasan jeruk nipis dan cabai, mirip dengan sashimi namun dengan cita rasa lokal yang tajam. Selain itu, karena Kolaka Utara adalah penghasil kakao terbesar, saat ini mulai muncul tradisi pengolahan cokelat artisanal yang dipadukan dengan rempah lokal.
##
Bahasa dan Dialek
Bahasa yang digunakan sehari-hari adalah dialek Mekongga, yang merupakan bagian dari rumpun bahasa Tolaki. Namun, keunikan Kolaka Utara terletak pada penggunaan bahasa "campuran" yang menyerap banyak kosakata Bugis, menciptakan dialek transisi yang unik. Ekspresi seperti "Aie" atau penggunaan partikel penegas di akhir kalimat menjadi ciri khas komunikasi masyarakat di Lasusua dan sekitarnya.
##
Busana dan Tekstil Tradisional
Pakaian adat Kolaka Utara didominasi oleh warna emas, merah, dan cokelat tanah. Kain tenun khas yang dikenal adalah Mekongga, dengan motif serat kayu atau garis-garis geometris yang melambangkan strata sosial dan hubungan manusia dengan alam. Kaum wanita mengenakan Baju Kubaya dengan hiasan kepala yang disebut Tuungga, sementara pria mengenakan penutup kepala Destar.
##
Praktik Religi dan Festival
Meskipun mayoritas penduduk beragama Islam, praktik budaya sering kali bersinggungan dengan kearifan lokal. Festival Danau Biru dan Festival Kakao menjadi agenda tahunan yang menggabungkan ritual syukur atas hasil bumi dengan pameran kerajinan tangan. Dalam festival ini, ritual doa syukur sering dilakukan di situs-situs bersejarah, menunjukkan betapa kuatnya ikatan masyarakat Kolaka Utara dengan tanah kelahirannya.
Tourism
Menjelajahi Pesona Tersembunyi Kolaka Utara: Permata di Jantung Sulawesi Tenggara
Kabupaten Kolaka Utara, dengan luas wilayah mencapai 2954,89 km², merupakan destinasi yang menawarkan harmoni sempurna antara pegunungan yang megah dan pesisir Teluk Bone yang memukau. Berada di posisi strategis bagian tengah jazirah tenggara Pulau Sulawesi dan berbatasan langsung dengan lima wilayah administratif, kabupaten ini menjadi gerbang eksotis yang menyimpan kekayaan alam langka yang belum banyak terjamah oleh pariwisata massal.
#
Keajaiban Alam dan Bentang Pesisir
Meskipun didominasi oleh topografi berbukit, Kolaka Utara memiliki garis pantai yang dramatis. Salah satu ikon utamanya adalah Pantai Pitulua di Lasusua, yang menawarkan pemandangan matahari terbenam spektakuler dengan latar belakang gugusan pulau kecil. Bagi pencinta ketenangan, Danau Biru di Kecamatan Kodeoha adalah destinasi wajib. Danau air payau ini memiliki gradasi warna biru kristal yang unik, dikelilingi oleh tebing karst yang menjulang tinggi, menciptakan suasana prasejarah yang magis. Jangan lewatkan pula Air Terjun Seruni yang jatuh dari ketinggian tebing di tengah hutan hujan tropis yang rimbun.
#
Wisata Budaya dan Jejak Sejarah
Kolaka Utara kaya akan nilai historis dari akulturasi budaya Bugis dan Tolaki. Wisatawan dapat mengunjungi situs bersejarah seperti makam para raja lokal yang mencerminkan kejayaan masa lalu. Struktur arsitektur Masjid Agung Lasusua juga menjadi ikon wisata religi modern yang megah, berdiri kokoh di tepi laut dengan kubah yang mencolok, menggambarkan religiusitas masyarakat setempat yang kental.
#
Petualangan dan Aktivitas Luar Ruangan
Bagi para pencari adrenalin, pendakian ke Puncak Gunung Mekongga (titik tertinggi di Sulawesi Tenggara) memberikan pengalaman tak terlupakan. Jalur pendakiannya menawarkan tantangan vegetasi hutan lumut yang langka. Selain itu, aktivitas snorkeling di sekitar perairan Teluk Bone memungkinkan Anda melihat terumbu karang yang masih sangat terjaga. Pengalaman unik lainnya adalah "Island Hopping" ke pulau-pulau tak berpenghuni yang menawarkan privasi total.
#
Kuliner Khas dan Pengalaman Rasa
Wisata kuliner di Kolaka Utara wajib mencicipi Sinonggi, makanan berbahan dasar sagu yang disajikan dengan kuah ikan kuning yang segar. Keunikan lokal lainnya adalah olahan kakao, mengingat daerah ini merupakan salah satu penghasil cokelat terbesar di Sulawesi. Menikmati kopi lokal sembari menyantap ikan bakar segar di pinggir pantai Lasusua adalah cara terbaik menutup hari.
#
Akomodasi dan Waktu Kunjungan Terbaik
Hospitalitas masyarakat Kolaka Utara dikenal sangat hangat, dengan konsep kekeluargaan yang erat. Di Lasusua, tersedia berbagai pilihan hotel melati hingga penginapan yang nyaman. Waktu terbaik untuk berkunjung adalah pada Mei hingga September, saat cuaca cenderung cerah, sehingga akses menuju lokasi wisata alam seperti Danau Biru dan pegunungan menjadi lebih aman dan optimal. Kunjungi Kolaka Utara untuk merasakan kemurnian alam Sulawesi yang sesungguhnya.
Economy
#
Profil Ekonomi Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara
Kabupaten Kolaka Utara (Kolut) merupakan pilar ekonomi krusial di Sulawesi Tenggara dengan luas wilayah mencapai 2.954,89 km². Secara geografis, wilayah ini menempati posisi strategis di bagian tengah semenanjung barat pulau, berbatasan langsung dengan Kabupaten Luwu Timur di utara dan serta Kabupaten Kolaka di selatan. Meski memiliki garis pantai di Teluk Bone, karakteristik ekonominya sangat didominasi oleh aktivitas daratan yang terintegrasi dengan lima wilayah administratif tetangga di sekitarnya.
##
Sektor Pertanian dan Perkebunan: "Bumi Kakao"
Sektor perkebunan merupakan tulang punggung utama ekonomi Kolaka Utara. Wilayah ini dikenal secara nasional sebagai salah satu sentra penghasil kakao terbesar. Komoditas kakao bukan sekadar tanaman budidaya, melainkan identitas ekonomi yang menyerap mayoritas tenaga kerja lokal. Selain kakao, cengkeh dan kelapa menjadi komoditas unggulan yang menopang pendapatan domestik regional bruto (PDRB). Transformasi ekonomi saat ini diarahkan pada hilirisasi, di mana pemerintah daerah mulai mendorong pengolahan biji kakao mentah menjadi produk setengah jadi untuk meningkatkan nilai tambah bagi petani di kecamatan seperti Lasusua dan Pakue.
##
Potensi Pertambangan dan Industri
Di sektor ekstraktif, Kolaka Utara memiliki cadangan nikel yang signifikan. Aktivitas pertambangan nikel menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi yang pesat dalam satu dekade terakhir. Kehadiran perusahaan tambang telah mengubah pola ketenagakerjaan dari sektor agraris murni menuju sektor industri ekstraktif. Pembangunan infrastruktur pendukung, seperti dermaga khusus pengangkutan mineral (jetty), menjadi urat nadi distribusi hasil bumi menuju pasar global. Kendati demikian, tantangan utama tetap pada keseimbangan antara eksploitasi mineral dan pelestarian lingkungan di kawasan pegunungan.
##
Kerajinan Tradisional dan Produk Lokal
Ekonomi kreatif di Kolaka Utara tumbuh melalui pemanfaatan sumber daya alam lokal. Kerajinan anyaman rotan dan bambu dari pelosok desa menjadi produk unggulan yang mulai merambah pasar luar daerah. Selain itu, pengembangan produk turunan kakao seperti cokelat batang lokal dan bubuk cokelat menjadi fokus utama UMKM untuk memperkuat ekonomi kerakyatan.
##
Infrastruktur, Transportasi, dan Pariwisata
Sebagai wilayah yang terletak di jalur trans-Sulawesi, aksesibilitas transportasi darat sangat vital bagi distribusi logistik antara Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan. Pelabuhan feri Katoi berperan penting dalam konektivitas maritim, menghubungkan Kolaka Utara dengan wilayah Siwa di Sulawesi Selatan, yang mempercepat perputaran barang dan jasa. Di sektor pariwisata, destinasi seperti Danau Biru dan Pantai Pasir Putih menjadi motor baru ekonomi jasa yang mulai berkembang, menciptakan peluang usaha kuliner dan penginapan bagi masyarakat lokal.
##
Tren Ketenagakerjaan dan Masa Depan Ekonomi
Tren ekonomi Kolaka Utara menunjukkan pergeseran bertahap menuju diversifikasi. Meskipun ketergantungan pada sektor perkebunan dan tambang masih tinggi, penguatan sektor jasa dan perdagangan di pusat kota Lasusua mulai menunjukkan tren positif. Investasi dalam infrastruktur jalan dan energi menjadi kunci utama untuk memastikan keberlanjutan ekonomi daerah ini di masa depan.
Demographics
#
Profil Demografis Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara
Kabupaten Kolaka Utara, yang terletak di posisi tengah semenanjung jazirah tenggara Pulau Sulawesi, merupakan wilayah dengan karakteristik demografis yang unik. Membentang seluas 2.954,89 km², kabupaten ini secara administratif berbatasan langsung dengan lima wilayah penting, termasuk Kabupaten Kolaka di selatan dan Provinsi Sulawesi Selatan di utara serta barat melalui perairan Teluk Bone. Meskipun memiliki garis pantai yang panjang, struktur kependudukannya tidak sepenuhnya bersifat pesisir, melainkan sangat dipengaruhi oleh topografi pegunungan yang mendominasi pedalaman.
Ukuran, Kepadatan, dan Distribusi Penduduk
Berdasarkan data terbaru, populasi Kolaka Utara tercatat sekitar 139.000 jiwa. Dengan luas wilayah yang ada, kepadatan penduduk rata-rata berkisar 47 jiwa/km². Namun, distribusi ini tidak merata. Konsentrasi penduduk terbesar berada di Lasusua sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi, sementara wilayah di bagian utara seperti Tolala memiliki kepadatan yang jauh lebih rendah karena aksesibilitas yang terbatas dan kondisi geografis yang terjal.
Komposisi Etnis dan Keanekaragaman Budaya
Salah satu karakteristik unik Kolaka Utara adalah tingginya heterogenitas etnis. Sebagai wilayah "gerbang" antara Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan, suku Bugis dan Luwu memberikan pengaruh dominan di samping suku asli Tolaki. Keberadaan transmigran dari Jawa dan Bali juga memperkaya mosaik budaya di distrik-distrik pertanian. Keharmonisan lintas etnis ini menciptakan dinamika sosial yang stabil namun progresif.
Struktur Usia dan Piramida Penduduk
Kolaka Utara memiliki struktur penduduk muda (ekspansif), di mana kelompok usia produktif (15-64 tahun) mendominasi lebih dari 65% total populasi. Angka ketergantungan relatif rendah, yang mengindikasikan adanya bonus demografi. Piramida penduduk menunjukkan basis yang lebar pada kelompok usia anak-anak dan remaja, menegaskan perlunya investasi pada sektor pendidikan dan lapangan kerja di masa depan.
Pendidikan dan Literasi
Tingkat literasi di Kolaka Utara telah melampaui angka 94%. Meskipun demikian, terdapat kesenjangan pada tingkat pendidikan tinggi. Mayoritas penduduk usia dewasa merupakan lulusan sekolah menengah. Pemerintah daerah terus berupaya meningkatkan partisipasi pendidikan tinggi melalui penyediaan beasiswa dan perbaikan sarana pendidikan di tingkat kecamatan untuk menekan angka putus sekolah.
Dinamika Urbanisasi dan Migrasi
Urbanisasi di wilayah ini bersifat memusat ke koridor Lasusua-Rante Angin. Sebagian besar wilayah tetap mempertahankan karakteristik rural dengan ketergantungan tinggi pada sektor perkebunan kakao dan cengkeh. Migrasi masuk didominasi oleh pergerakan musiman pekerja dari Sulawesi Selatan yang terlibat dalam sektor perdagangan dan perkebunan, sementara migrasi keluar biasanya didorong oleh pencarian pendidikan tinggi ke Kendari atau Makassar. Karakteristik "Rare" atau kelangkaan data kependudukan yang spesifik seringkali disebabkan oleh mobilitas penduduk yang tinggi di perbatasan lintas provinsi ini.
💡 Fakta Unik
- 1.Wilayah ini pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Padangguni dan Kerajaan Besulutu sebelum akhirnya melebur ke dalam kedaulatan Kesultanan Konawe.
- 2.Masyarakat adat di daerah pedalaman ini memiliki tradisi penyambutan tamu agung yang disebut dengan tarian 'Mosehe', sebuah ritual penyucian diri dan penolak bala.
- 3.Kawasan ini merupakan wilayah daratan murni tanpa garis pantai yang dialiri oleh Sungai Pohara, salah satu sungai terbesar yang menjadi sumber air utama di Sulawesi Tenggara.
- 4.Dikenal sebagai 'Lumbung Beras' provinsi, daerah ini memiliki hamparan sawah terluas di Sulawesi Tenggara dan menjadi pusat pengembangan industri nikel besar di Kecamatan Morosi.
Destinasi di Kolaka Utara
Semua Destinasi→Danau Biru Kolaka Utara
Terletak hanya beberapa meter dari bibir pantai, danau air payau ini memukau pengunjung dengan grada...
Wisata AlamPantai Tamborasi
Dikenal sebagai lokasi sungai terpendek di dunia, Pantai Tamborasi menawarkan fenomena unik di mana ...
Bangunan IkonikMasjid Agung Lasusua
Berdiri megah di tepi pantai Lasusua, masjid ini merupakan simbol religiusitas masyarakat Kolaka Uta...
Wisata AlamPuncak Monapa
Menawarkan panorama 'negeri di atas awan', Puncak Monapa adalah destinasi terbaik bagi para pecinta ...
Wisata AlamAir Terjun Seruni
Tersembunyi di balik rimbunnya hutan tropis, Air Terjun Seruni menyajikan aliran air bertingkat yang...
Tempat RekreasiTaman Kota Lasusua
Menjadi pusat kegiatan sosial di ibu kota kabupaten, taman ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas ...
Tempat Lainnya di Sulawesi Tenggara
Lokasi Serupa
Panduan Perjalanan Terkait
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiUji Pengetahuanmu!
Apakah kamu bisa menebak Kolaka Utara dari siluet petanya?