Bima
RareDipublikasikan: Januari 2025
Sejarah
#
Sejarah dan Warisan Budaya Bima: Permata di Timur Nusa Tenggara Barat
Bima, yang terletak di ujung timur Pulau Sumbawa dengan luas wilayah 208,87 km², merupakan sebuah entitas sejarah yang memegang peranan vital dalam jalur perdagangan maritim Nusantara. Sejarah Bima tidak dapat dipisahkan dari keberadaan teluknya yang strategis, menjadikannya pusat pertemuan berbagai etnis dan budaya sejak berabad-abad silam.
##
Asal-usul dan Transformasi Kesultanan
Akar sejarah Bima bermula dari masa pemerintahan para Naka (pemimpin lokal) sebelum bersatu di bawah kepemimpinan seorang Maharaja. Namun, titik balik paling signifikan terjadi pada abad ke-17. Pada tanggal 5 Juli 1640, Bima secara resmi bertransformasi menjadi kesultanan Islam di bawah kepemimpinan Sultan Abdul Kahir (Rumata Ma Bata Wadu). Masuknya Islam membawa perubahan fundamental pada sistem hukum, struktur sosial, dan tata kota yang berbasis pada konsep Maja Labo Dahu (Malu dan Takut kepada Tuhan). Sejak era ini, Bima menjadi pusat penyebaran Islam dan kekuatan politik yang disegani di wilayah Kepulauan Sunda Kecil.
##
Masa Kolonial dan Perlawanan Rakyat
Hubungan Bima dengan kekuatan kolonial, khususnya Belanda (VOC), penuh dengan dinamika ketegangan. Pada tahun 1667, Kesultanan Bima dipaksa menandatangani Perjanjian Bongaya, namun semangat otonomi daerah tetap kuat. Salah satu tokoh pahlawan yang gigih melawan hegemoni Belanda adalah Sultan Ibrahim. Pada awal abad ke-20, Belanda mulai menanamkan pengaruh administratif yang lebih dalam, namun rakyat Bima tetap mempertahankan identitas budayanya melalui institusi kesultanan yang tetap eksis hingga masa kemerdekaan.
##
Peran dalam Kemerdekaan dan Era Modern
Dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, Bima memiliki kontribusi yang nyata. Sultan Muhammad Salahuddin, sultan terakhir Bima, merupakan tokoh kunci yang mendukung integrasi kesultanan ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Keikhlasannya melepaskan kekuasaan monarki demi persatuan nasional menjadikannya sosok yang sangat dihormati. Secara administratif, Bima kemudian berkembang menjadi Kabupaten dan Kota Bima, yang terus bersinergi dalam pembangunan di Provinsi Nusa Tenggara Barat.
##
Warisan Budaya dan Situs Bersejarah
Kekayaan sejarah Bima tercermin dalam situs-situs ikonik seperti Istana Asi Mbojo, sebuah bangunan megah perpaduan arsitektur Eropa dan lokal yang kini menjadi museum. Selain itu, terdapat Dana Taraha, kompleks pemakaman raja-raja Bima yang terletak di perbukitan dengan pemandangan langsung ke Teluk Bima.
Budaya Bima juga dikenal melalui tradisi Rimpu, yaitu cara berbusana perempuan Bima menggunakan sarung tenun Tembe Nggoli yang menyerupai cadar, mencerminkan kuatnya pengaruh nilai-nilai Islam. Tradisi pacuan kuda tanpa pelana oleh joki cilik juga menjadi warisan unik yang masih lestari hingga kini.
Sebagai kota pesisir, sejarah Bima adalah narasi tentang ketangguhan maritim dan keterbukaan terhadap perubahan tanpa melupakan akar tradisi. Dari pelabuhan kuno hingga menjadi pusat ekonomi modern di timur NTB, Bima tetap menjadi simbol kedaulatan dan kekayaan budaya Indonesia yang tak ternilai.
Geografi
#
Geografi dan Lanskap Alam Kota Bima
Kota Bima merupakan entitas administratif yang terletak di bagian timur Pulau Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Dengan luas wilayah mencapai 208,87 km², kota ini memiliki karakteristik geografis yang unik karena memadukan kawasan pesisir yang landai dengan perbukitan struktural yang mengepung wilayah pusat kota. Secara astronomis, posisinya yang strategis di tepian Teluk Bima menjadikan kota ini sebagai simpul maritim penting di perairan Indonesia Timur.
##
Topografi dan Bentang Alam
Topografi Kota Bima didominasi oleh dataran rendah di bagian barat serta perbukitan hingga pegunungan di sisi utara, timur, dan selatan. Wilayah ini menyerupai sebuah cekungan atau kuali (basin) di mana pusat kegiatan ekonomi berada pada ketinggian 0 hingga 100 meter di atas permukaan laut. Di sekelilingnya, terdapat jajaran perbukitan dengan kemiringan lereng yang cukup curam, seperti kawasan perbukitan Wawo dan Donggo yang membatasi wilayah administratif kota.
Sistem hidrologi di Bima dikelola oleh beberapa sungai utama (Lamba) yang mengalir dari hulu perbukitan menuju Teluk Bima. Sungai-sungai seperti Lamba Punti, Lamba Padolo, dan Lamba Rompu memiliki peran krusial dalam sistem drainase alami, meskipun debit airnya sangat fluktuatif mengikuti perubahan musim.
##
Iklim dan Variasi Musiman
Bima memiliki karakteristik iklim tropis kering yang sangat dipengaruhi oleh angin monsun. Musim kemarau di wilayah ini berlangsung cukup panjang, biasanya dari Mei hingga Oktober, yang dipicu oleh aliran massa udara kering dari benua Australia. Sebaliknya, musim hujan terjadi dalam rentang waktu yang lebih pendek antara Desember hingga Maret. Suhu udara rata-rata berkisar antara 22°C hingga 34°C, dengan tingkat kelembapan yang relatif rendah dibandingkan wilayah barat Indonesia, menciptakan ekosistem sabana yang khas di beberapa titik perbukitan.
##
Sumber Daya Alam dan Potensi Agraria
Kekayaan alam Bima bertumpu pada sektor pertanian lahan kering dan kelautan. Wilayah ini memiliki garis pantai yang membentang di sepanjang perairan Indonesia, khususnya di pesisir Teluk Bima yang kaya akan potensi perikanan tangkap dan budidaya laut seperti rumput laut. Di sektor agraris, jenis tanah latosol dan aluvial mendukung komoditas unggulan seperti bawang merah, kedelai, dan jagung yang menjadi tulang punggung ekonomi lokal. Meskipun deposit mineral terbatas, terdapat potensi bahan galian golongan C seperti batu gunung dan pasir di kawasan perbukitan.
##
Ekologi dan Biodiversitas
Secara ekologis, Bima merupakan bagian dari zona transisi Wallacea. Biodiversitasnya mencakup vegetasi hutan musim dan savana yang menjadi habitat bagi berbagai fauna endemik. Kawasan pesisir Bima juga memiliki ekosistem mangrove yang berfungsi sebagai benteng alami terhadap abrasi serta tempat pemijahan biota laut. Upaya konservasi di wilayah perbukitan terus dilakukan untuk menjaga fungsi daerah aliran sungai (DAS) agar tetap stabil di tengah tantangan perubahan iklim global.
Budaya
#
Warisan Adiluhung Tanah Bima: Mutiara Budaya di Timur Nusa Tenggara Barat
Bima, atau yang secara lokal dikenal sebagai Dana Mbojo, merupakan sebuah wilayah pesisir strategis di ujung timur Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Dengan luas wilayah 208,87 km², Bima bukan sekadar titik geografis, melainkan pusat peradaban Islam yang kuat dengan akar tradisi yang membentang sejak era Kesultanan Bima.
##
Tradisi, Adat Istiadat, dan Upacara Lokal
Masyarakat Bima memegang teguh filosofi *Maja Labo Dahu* (Malu dan Takut), sebuah kompas etika untuk malu kepada sesama dan takut kepada Tuhan. Salah satu upacara adat yang paling kolosal adalah Hanta Ua Pua. Tradisi ini mencerminkan asimilasi budaya lokal dengan nilai Islam, yang dirayakan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Prosesi ini menampilkan pawai dari istana (Asi Pebo) menuju Masjid Agung, membawa replika bunga telur yang melambangkan keberkahan. Selain itu, tradisi Pacu Jara (pacuan kuda tradisional) menjadi identitas tak terpisahkan, di mana kuda-kuda lokal Bima dikendarai oleh joki cilik yang lincah tanpa menggunakan pelana.
##
Kesenian, Kerajinan, dan Seni Pertunjukan
Seni pertunjukan Bima sangat dipengaruhi oleh semangat kepahlawanan. Tari Gantao adalah seni bela diri yang memadukan gerakan silat dengan iringan tabuhan gendang dan serunai. Ada pula Tari Buja Kadanda, yang menggambarkan dua prajurit sedang berperang menggunakan tombak dan perisai. Dalam bidang kerajinan, Bima dikenal dengan Mone, yaitu kerajinan anyaman bambu atau rotan, serta pembuatan gerabah tradisional di desa-desa pesisir.
##
Tekstil dan Busana Tradisional
Salah satu ikon budaya Bima yang paling unik adalah Rimpu. Ini adalah cara berbusana perempuan Bima menggunakan dua helai kain tenun Tembe Nggoli. Rimpu menyerupai cadar yang hanya memperlihatkan mata (bagi yang belum menikah) atau memperlihatkan wajah (bagi yang sudah menikah). Kain Tembe Nggoli sendiri merupakan tenunan khas dengan motif garis dan warna-warna cerah yang dihasilkan melalui proses Muna (menenun secara tradisional). Untuk kaum pria, penggunaan kain yang disampirkan di bahu atau dijadikan ikat kepala (Pasapu) menunjukkan status sosial dan kewibawaan.
##
Kuliner Khas Mbojo
Kuliner Bima didominasi oleh cita rasa asam dan segar yang dipengaruhi oleh hasil laut. Uta Muncar (ikan bakar dengan bumbu khas) dan Uta Maju Puru (daging rusa bakar) adalah hidangan yang sangat dicari. Namun, identitas kuliner paling kuat ada pada Sayur Palumara, sup ikan berbumbu kunyit dan asam jawa yang segar. Jangan lewatkan Pangaha Bunga, camilan tradisional berbahan tepung beras yang manis, atau Susu Kuda Liar Bima yang telah tersohor karena khasiat kesehatannya.
##
Bahasa dan Ekspresi Lokal
Masyarakat setempat menggunakan Bahasa Bima (Nggahi Mbojo). Bahasa ini memiliki tingkatan penggunaan berdasarkan strata sosial, seperti Nggahi Kasar untuk pergaulan umum dan Nggahi Alus untuk lingkungan istana. Ekspresi seperti "Aina Raka" (Jangan sombong) sering digunakan sebagai pengingat moral dalam kehidupan sehari-hari.
##
Praktik Keagamaan dan Festival Budaya
Kehidupan religius di Bima sangat kental dengan nuansa Islami yang berpadu dengan kearifan lokal. Selain festival keagamaan, perayaan Festival Kelapa dan eksibisi budaya di Museum Asi Mbojo secara rutin digelar untuk memperkenalkan sejarah kesultanan kepada generasi muda, sekaligus menjaga agar napas budaya Mbojo tetap lestari di tengah arus modernisasi.
Wisata
#
Menjelajahi Pesona Bima: Permata Tersembunyi di Ujung Timur Pulau Sumbawa
Bima, sebuah wilayah strategis di Provinsi Nusa Tenggara Barat, merupakan destinasi yang memadukan keindahan pesisir yang dramatis dengan kekayaan sejarah Kesultanan yang megah. Dengan luas wilayah 208,87 km², kota dan kabupaten ini menawarkan pengalaman wisata yang autentik bagi para petualang yang ingin menjauh dari keramaian arus utama.
##
Keajaiban Alam dan Pesisir yang Eksotis
Sebagai daerah pesisir, Bima memiliki garis pantai yang memukau. Pantai Lariti menjadi magnet utama dengan fenomena "laut terbelah", di mana pengunjung dapat berjalan kaki melintasi gundukan pasir menuju pulau kecil saat air surut. Tak jauh dari sana, Pantai Pink (Lambu) menawarkan pasir berwarna merah muda yang langka, bersanding dengan air laut biru toska yang jernih. Bagi pecinta ketinggian, pendakian ke Puncak Pado memberikan panorama Teluk Bima yang memanjakan mata, sementara Air Terjun Bombo Riam menyuguhkan kesegaran di tengah rimbunnya hutan tropis.
##
Warisan Budaya dan Jejak Sejarah Kesultanan
Jantung budaya Bima terletak pada Museum ASI Mbojo, bekas istana Kesultanan Bima yang menampilkan arsitektur perpaduan gaya Eropa dan lokal. Di sini, pengunjung dapat melihat mahkota emas, senjata tradisional, dan naskah kuno "Bo". Untuk pengalaman yang lebih mendalam, desa tradisional Maria Wawo menampilkan Lengge, lumbung pangan tradisional dengan atap kerucut yang melambangkan kearifan lokal dalam ketahanan pangan sejak ratusan tahun lalu.
##
Petualangan dan Aktivitas Luar Ruangan
Bima adalah surga bagi para pencari adrenalin. Perairan di sekitar Pulau Sangeang menawarkan spot menyelam kelas dunia dengan pemandangan gelembung udara bawah laut yang keluar dari ventilasi vulkanik aktif. Selain itu, Teluk Bima sangat ideal untuk aktivitas kayak dan memancing. Bagi pengendara motor, rute berkelok di sepanjang tebing pantai memberikan tantangan tersendiri dengan pemandangan yang spektakuler.
##
Kuliner Khas dan Keramahtamahan Lokal
Wisata kuliner di Bima adalah eksplorasi rasa yang unik. Jangan lewatkan Uta Mbeu Kumbu, sup daging sapi dengan aroma rempah yang kuat, atau Uta Maju Puru (daging menjangan bakar) yang eksotis. Untuk camilan, Pangaha Bunga yang manis dan renyah menjadi pendamping sempurna saat bersantai. Masyarakat Bima dikenal dengan semangat Maja Labo Dahu (rendah hati dan takut pada Tuhan), yang tercermin dalam pelayanan tulus di berbagai homestay maupun hotel berbintang di pusat kota.
##
Waktu Kunjungan Terbaik
Waktu terbaik untuk mengunjungi Bima adalah selama musim kemarau antara Mei hingga September. Pada periode ini, langit cerah sangat mendukung aktivitas luar ruangan, dan Anda berkesempatan menyaksikan festival budaya tahunan seperti pacuan kuda tradisional Pacoa Jara, di mana joki cilik lokal menunjukkan keberanian luar biasa di lintasan pasir.
Ekonomi
#
Profil Ekonomi Kota Bima: Pusat Perdagangan dan Jasa di Gerbang Timur NTB
Kota Bima, dengan luas wilayah 208,87 km², secara strategis memposisikan dirinya sebagai hub ekonomi vital di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Sebagai kota pesisir yang berbatasan langsung dengan Teluk Bima, struktur ekonominya didominasi oleh sektor perdagangan, jasa, dan pemanfaatan sumber daya maritim yang terintegrasi.
Sektor Unggulan dan Transformasi Ekonomi
Struktur Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Bima menunjukkan pergeseran dari ketergantungan agraris menuju sektor jasa dan perdagangan. Sektor perdagangan besar dan eceran menjadi motor utama, didorong oleh posisi Bima sebagai titik transit distribusi barang menuju wilayah Kabupaten Bima dan Kabupaten Dompu. Pertumbuhan pusat perbelanjaan modern dan penguatan pasar tradisional seperti Pasar Amahami menjadi indikator daya beli masyarakat yang stabil.
Ekonomi Maritim dan Perikanan
Memiliki garis pantai yang membentang luas, ekonomi maritim merupakan pilar krusial. Teluk Bima menjadi pusat aktivitas perikanan tangkap dan budidaya laut. Komoditas unggulan seperti bandeng (ikan bolu) dan udang vannamei telah menembus pasar regional. Selain itu, keberadaan Pelabuhan Bima yang terhubung dengan rute tol laut memperkuat konektivitas logistik nasional, memfasilitasi ekspor komoditas lokal seperti jagung dan bawang merah ke Surabaya dan Makassar.
Industri Pengolahan dan Kerajinan Tradisional
Sektor industri di Kota Bima didominasi oleh skala kecil dan menengah (UMKM). Produk ikonik yang memiliki nilai ekonomi tinggi adalah Tembe Nggoli (sarung tenun khas Bima) yang diproduksi di pusat tenun tradisional seperti di Kelurahan Ntobo. Selain itu, industri pengolahan pangan berbasis hasil laut dan pertanian, seperti susu kuda liar dan produk olahan daging rusa, terus dikembangkan untuk meningkatkan nilai tambah produk lokal.
Pariwisata dan Infrastruktur
Pariwisata mulai berkembang dengan fokus pada wisata bahari dan sejarah. Destinasi seperti Pantai Lawata dan Museum ASI Mbojo menjadi daya tarik yang mendorong sektor perhotelan dan kuliner. Pengembangan infrastruktur jalan lintas kota dan revitalisasi kawasan pesisir (waterfront city) telah mempercepat aksesibilitas dan menarik investasi di sektor properti.
Ketenagakerjaan dan Proyeksi Mendatang
Tren ketenagakerjaan di Kota Bima menunjukkan peningkatan penyerapan tenaga kerja di sektor informal dan jasa. Pemerintah daerah kini fokus pada digitalisasi ekonomi melalui program pemberdayaan UMKM digital untuk memperluas jangkauan pasar produk lokal. Dengan optimalisasi Pelabuhan Bima sebagai pintu gerbang logistik di timur NTB, Kota Bima diproyeksikan akan terus bertransformasi menjadi pusat jasa logistik yang resilien terhadap fluktuasi ekonomi global.
Demografi
#
Demografi Kota Bima: Potret Kependudukan dan Dinamika Sosial
Kota Bima, yang membentang seluas 208,87 km² di bagian timur Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, memiliki karakteristik demografis yang unik sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dan jasa. Sebagai kota pesisir yang strategis, Bima berfungsi sebagai gerbang penghubung antara NTB dan Nusa Tenggara Timur.
Ukuran, Kepadatan, dan Distribusi Penduduk
Berdasarkan data terkini, populasi Kota Bima mencapai lebih dari 156.000 jiwa. Kepadatan penduduk rata-rata berkisar di angka 740 hingga 750 jiwa per km². Namun, distribusi penduduk tidak merata; konsentrasi tertinggi berada di Kecamatan Rasanae Barat dan Mpunda yang merupakan pusat bisnis, sementara wilayah seperti Asakota yang memiliki kontur perbukitan dan pesisir cenderung lebih renggang.
Komposisi Etnis dan Keberagaman Budaya
Mayoritas penduduk adalah etnis asli Bima (Mbojo) yang memegang teguh falsafah "Maja Labo Dahu" (Malu dan Takut). Meskipun dominan, Kota Bima menunjukkan keragaman budaya yang tinggi dengan hadirnya komunitas pendatang dari etnis Bugis-Makassar, Jawa, dan Tionghoa. Keberadaan etnis Bugis-Makassar di wilayah pesisir telah lama membentuk pola pemukiman nelayan yang khas, memperkaya struktur sosial kota.
Struktur Usia dan Piramida Penduduk
Piramida penduduk Kota Bima tergolong ekspansif, didominasi oleh kelompok usia muda dan produktif (15-64 tahun). Kelompok usia 0-14 tahun juga mencakup proporsi yang signifikan, menunjukkan angka kelahiran yang masih cukup stabil. Fenomena "bonus demografi" ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi penyediaan lapangan kerja di sektor jasa dan perdagangan.
Pendidikan dan Literasi
Tingkat melek huruf di Kota Bima merupakan salah satu yang tertinggi di Provinsi Nusa Tenggara Barat, melampaui angka 95%. Hal ini didukung oleh posisi Bima sebagai pusat pendidikan regional dengan keberadaan berbagai perguruan tinggi swasta dan sekolah kedinasan. Secara umum, penduduk usia produktif telah menamatkan jenjang SMA, dengan tren peningkatan partisipasi pendidikan tinggi yang terus tumbuh.
Urbanisasi dan Dinamika Migrasi
Sebagai kota otonom, Bima mengalami urbanisasi internal yang kuat, di mana penduduk dari Kabupaten Bima bermigrasi ke kota untuk mencari layanan kesehatan dan pendidikan yang lebih baik. Pola migrasi keluar juga terlihat pada kelompok pemuda yang merantau ke Mataram, Makassar, atau Jakarta untuk menempuh pendidikan tinggi, meskipun banyak dari mereka kembali untuk membangun daerah asal. Dinamika ini menciptakan karakter masyarakat yang terbuka namun tetap religius.
💡 Fakta Unik
- 1.Kawasan Teluk Balo menjadi saksi bisu sejarah sebagai pelabuhan transit penting bagi kapal-kapal pengangkut rempah dari Maluku menuju Eropa sejak abad ke-14.
- 2.Masyarakat setempat memiliki tradisi unik bernama Rimpu, yaitu gaya berbusana menggunakan dua lembar kain tenun Tembe Nggoli yang menutupi seluruh tubuh hingga wajah seperti cadar.
- 3.Wilayah pesisir ini dikelilingi oleh pegunungan dengan garis pantai yang membentuk teluk sempit yang dalam, menjadikannya salah satu pelabuhan alami terbaik di Kepulauan Nusa Tenggara.
- 4.Kota pelabuhan di sisi timur Pulau Sumbawa ini dikenal luas sebagai penghasil utama bawang merah berkualitas tinggi yang dipasok ke berbagai wilayah di Indonesia Timur.
Tempat Lainnya di Nusa Tenggara Barat
Lokasi Serupa
Panduan Perjalanan Terkait
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiUji Pengetahuanmu!
Apakah kamu bisa menebak Bima dari siluet petanya?