Situs Sejarah

Benteng Kuto Besak

di Palembang, Sumatera Selatan

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Asal-Usul dan Periode Pembangunan

Pembangunan Benteng Kuto Besak diprakarsai oleh Sultan Mahmud Badaruddin I (1724–1758), namun penyelesaiannya dilakukan pada masa pemerintahan cucunya, Sultan Muhammad Bahauddin (1776–1803). Proses konstruksi memakan waktu sekitar 17 tahun dan diresmikan pada tahun 1797. Kata "Kuto" dalam bahasa Melayu Palembang berarti kota, puri, atau benteng, sedangkan "Besak" berarti besar.

Sebelum adanya Kuto Besak, pusat pemerintahan berada di Kuto Lamo (Benteng Lama). Keputusan untuk membangun Kuto Besak didorong oleh kebutuhan akan sistem pertahanan yang lebih kuat untuk menghadapi ancaman bangsa Eropa serta sebagai simbol kemandirian politik kesultanan. Pemilihan lokasi di tepian Sungai Musi sangat strategis, memungkinkan pengawasan penuh terhadap lalu lintas sungai yang merupakan urat nadi ekonomi dan komunikasi saat itu.

Arsitektur dan Detail Konstruksi yang Unik

Salah satu fakta sejarah yang paling mengagumkan dari Benteng Kuto Besak adalah material pembangunannya. Berbeda dengan benteng-benteng kolonial yang menggunakan semen pabrikan, masyarakat Palembang saat itu menggunakan campuran kapur, putih telur, dan madu/tetes tebu sebagai perekat batu bata. Teknologi tradisional ini terbukti sangat kuat, mampu menahan gempuran meriam dan cuaca selama ratusan tahun.

Benteng ini berbentuk persegi panjang dengan ukuran panjang 288,75 meter dan lebar 183,75 meter. Temboknya menjulang setinggi 9,99 meter (angka sembilan merepresentasikan keberuntungan atau jumlah anak sungai Musi/Batanghari Sembilan) dengan ketebalan mencapai 1,99 meter. Di setiap sudutnya terdapat bastion (baluarti) yang berfungsi sebagai menara pengintai dan tempat penempatan meriam. Keempat bastion tersebut memiliki nama unik: Bastion di sisi barat laut (belakang) dikenal sebagai "Munggu", sementara yang lainnya berfungsi untuk mengamankan sisi sungai dan darat.

Pintu masuk utama atau gerbang besar terletak di sisi tenggara yang menghadap langsung ke Sungai Musi, yang dikenal sebagai Lawang Kuto. Selain itu, terdapat pintu-pintu kecil atau Lawang Buritan yang digunakan untuk mobilitas internal penghuni benteng.

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting

Benteng Kuto Besak menjadi saksi kunci dalam Perang Palembang (1819–1821). Pada masa kepemimpinan Sultan Mahmud Badaruddin II, benteng ini menjadi pusat komando pertahanan melawan invasi angkatan laut Inggris dan Belanda. Salah satu peristiwa paling heroik adalah ketika armada Belanda di bawah pimpinan Laksamana Wolterbeek gagal menembus pertahanan Palembang pada tahun 1819 karena ketangguhan struktur Kuto Besak dan strategi perang gerilya air yang diterapkan oleh Sultan.

Namun, setelah pengepungan yang panjang dan pengkhianatan internal, benteng ini akhirnya jatuh ke tangan Belanda pada tahun 1821. Jatuhnya Kuto Besak menandai berakhirnya kedaulatan Kesultanan Palembang Darussalam. Sultan Mahmud Badaruddin II kemudian diasingkan ke Ternate, dan benteng ini diambil alih oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai markas militer.

Tokoh Penting dan Hubungan Kekuasaan

Sultan Mahmud Badaruddin II adalah tokoh sentral yang namanya paling melekat dengan benteng ini. Keberaniannya menjadikan Kuto Besak sebagai benteng perlawanan terakhir terhadap kolonialisme di Sumatera Selatan menjadikannya Pahlawan Nasional Indonesia. Selain itu, keterlibatan arsitek lokal dan tenaga kerja pribumi dalam pembangunannya menunjukkan bahwa pada abad ke-18, Kesultanan Palembang telah memiliki pengetahuan teknik sipil yang sangat maju tanpa campur tangan insinyur Barat.

Selama masa pendudukan Belanda, benteng ini digunakan sebagai kediaman residen dan markas tentara KNIL. Setelah kemerdekaan Indonesia, kepemilikan dan pengelolaan benteng ini beralih ke tangan Tentara Nasional Indonesia (TNI), khususnya di bawah naungan Kodam II/Sriwijaya.

Status Pelestarian dan Upaya Restorasi

Sebagai Bangunan Cagar Budaya yang dilindungi oleh Undang-Undang No. 11 Tahun 2010, Benteng Kuto Besak terus mengalami upaya pelestarian. Meskipun bagian dalam benteng masih digunakan untuk kepentingan militer (Rumah Sakit dr. AK Gani dan perumahan dinas TNI), area pelataran depannya (Plaza Benteng Kuto Besak) telah direvitalisasi oleh Pemerintah Kota Palembang sebagai ruang publik dan destinasi wisata utama.

Restorasi dilakukan secara berkala pada bagian dinding luar dan bastion untuk mencegah pelapukan akibat kelembapan tinggi dari Sungai Musi. Tantangan utama dalam pelestarian adalah menjaga keseimbangan antara fungsi militer aktif dan aksesibilitas publik sebagai situs edukasi sejarah.

Makna Budaya dan Religi

Bagi masyarakat Palembang, Benteng Kuto Besak adalah "Paku Alam" kota. Keberadaannya berkaitan erat dengan identitas Islam di Sumatera Selatan. Di dalam kompleks benteng semula terdapat istana kesultanan yang kental dengan nuansa Islami, serta kedekatannya dengan Masjid Agung Palembang menunjukkan konsep "Manunggalnya Raja dan Ulama". Benteng ini menjadi simbol kebanggaan bahwa wong Palembang memiliki sejarah perlawanan yang intelektual dan mandiri secara teknologi.

Fakta Sejarah Unik

1. Parit Pertahanan: Dahulu, di sekeliling dinding benteng terdapat parit luas yang terhubung dengan Sungai Musi, berfungsi sebagai lapis pertahanan pertama sekaligus sistem drainase kota.

2. Orientasi Kosmologis: Pembangunan benteng tidak sembarang; ia menghadap ke sungai sebagai sumber kehidupan, namun tetap memunggungi arah daratan untuk memantau pergerakan musuh dari pedalaman.

3. Fungsi Ganda: Selain sebagai pangkalan militer, pada masa kesultanan, kawasan di dalam benteng merupakan pusat pemerintahan, tempat penyimpanan harta negara, dan pusat arsip kesultanan.

Kini, saat matahari terbenam di ufuk barat Sungai Musi, siluet Benteng Kuto Besak tetap berdiri kokoh, mengingatkan setiap generasi akan kejayaan masa lalu. Ia bukan sekadar tumpukan batu bata dan kapur, melainkan monumen abadi atas harga diri dan kedaulatan bangsa Indonesia di tanah Sriwijaya.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Jalan Sultan Mahmud Badarudin, 19 Ilir, Bukit Kecil, Palembang
entrance fee
Rp 5.000 - Rp 10.000
opening hours
Setiap hari, 08:00 - 21:00

Tempat Menarik Lainnya di Palembang

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Palembang

Pelajari lebih lanjut tentang Palembang dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Palembang