Kuliner Legendaris

Pusat Pempek 26 Ilir

di Palembang, Sumatera Selatan

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Menelusuri Jejak Rasa di Pusat Pempek 26 Ilir: Episentrum Kuliner Legendaris Palembang

Kota Palembang tidak hanya dikenal dengan Jembatan Ampera yang megah, tetapi juga sebagai tanah kelahiran salah satu mahakarya kuliner Nusantara: Pempek. Di tengah hiruk-pikuk kota tua ini, terdapat sebuah kawasan yang telah menjadi legenda hidup bagi para pencinta kuliner, yaitu Pusat Pempek 26 Ilir. Terletak di Jalan Mujahidin, Kelurahan 26 Ilir, kawasan ini bukan sekadar deretan toko makanan, melainkan jantung budaya yang denyut nadinya ditentukan oleh aroma ikan tenggiri dan cuka yang tajam.

#

Sejarah dan Akar Budaya Kampung Pempek

Kawasan 26 Ilir memiliki akar sejarah yang panjang dalam perkembangan kuliner Palembang. Sebutan "Kampung Pempek" melekat erat karena di sinilah sentra produksi pempek terbesar yang melayani masyarakat lokal maupun wisatawan dengan harga yang sangat terjangkau. Secara historis, kawasan ini merupakan pemukiman padat yang dihuni oleh warga lokal dan keturunan Tionghoa yang telah berakulturasi selama berabad-abad.

Pempek sendiri diyakini muncul dari adaptasi kuliner Tionghoa "kelesan" yang dimodifikasi dengan kearifan lokal masyarakat Palembang. Nama "pempek" konon berasal dari sebutan "Apek", panggilan untuk pria paruh baya keturunan Tionghoa yang dahulu menjajakan makanan ini dengan berkeliling. Di 26 Ilir, tradisi ini tetap hidup, namun bertransformasi menjadi pusat grosir dan ritel yang legendaris sejak era 1980-an.

#

Keunikan Bahan Baku dan Rahasia Dapur 26 Ilir

Apa yang membuat pempek di 26 Ilir berbeda dengan pempek di kawasan elit lainnya? Jawabannya terletak pada kesegaran bahan baku dan keberanian dalam racikan bumbu. Para pengrajin di sini sangat bergantung pada pasokan ikan sungai dan laut yang segar.

Secara tradisional, ikan Belida adalah bahan utama yang paling prestisius. Namun, karena kelangkaannya, para pedagang di 26 Ilir kini dominan menggunakan ikan Tenggiri, ikan Gabus (Channa striata), atau ikan Putak. Keunikan utama terletak pada perbandingan antara daging ikan dan tepung tapioka (sagu). Di 26 Ilir, konsistensi pempek cenderung lebih lembut namun tetap kenyal—sebuah keseimbangan yang hanya bisa dicapai melalui teknik "ngulen" (menguleni) dengan tangan secara manual untuk menjaga suhu adonan.

Cuko, atau kuah hitam yang menemani pempek, di kawasan ini memiliki karakter yang sangat kuat. Mereka menggunakan gula merah batok asli dari Lubuk Linggau atau Curup yang berwarna gelap pekat dan tidak pahit. Paduan cabai rawit hijau, bawang putih, garam, dan sedikit asam jawa menciptakan rasa pedas-asam-manis yang meledak di mulut.

#

Sajian Khas: Dari Kapal Selam hingga Lenggang Bakar

Di Pusat Pempek 26 Ilir, pengunjung tidak hanya akan menemukan jenis pempek standar. Ada hierarki rasa yang ditawarkan melalui berbagai varian:

1. Pempek Kapal Selam: Ikon utama yang berisi telur ayam atau bebek utuh. Teknik membungkus telur di dalam adonan tanpa bocor memerlukan keahlian tangan yang tinggi.

2. Pempek Keriting: Bentuknya menyerupai bola mi kecil. Pempek ini tidak direbus secara langsung, melainkan dikukus terlebih dahulu untuk menjaga bentuk artistiknya yang rumit.

3. Pempek Adaan: Berbentuk bulat dengan tambahan santan dan irisan bawang merah dalam adonannya, memberikan aroma gurih yang lebih menonjol.

4. Lenggang Bakar: Salah satu primadona di 26 Ilir. Pempek iris dicampur kocokan telur, lalu dipanggang di atas bara api menggunakan wadah daun pisang berbentuk kotak (takir). Aroma asap dari daun pisang yang terbakar memberikan dimensi rasa yang tidak ditemukan pada pempek goreng.

#

Tokoh dan Dinasti Kuliner di 26 Ilir

Keberlangsungan Pusat Pempek 26 Ilir tidak lepas dari peran keluarga-keluarga yang mewariskan resep secara turun-temurun. Salah satu nama yang paling tersohor adalah Pempek Lala. Didirikan oleh Ibu Lala, gerai ini menjadi pionir yang memicu keramaian di kawasan tersebut. Keberhasilannya diikuti oleh gerai-gerai lain seperti Pempek Rayhan, Pempek Edy, dan Pempek H. Mahmud.

Persaingan di sini bersifat komunal-kekeluargaan. Meskipun setiap toko memiliki resep rahasia pada komposisi cuka mereka, mereka berbagi semangat yang sama: menjaga harga tetap merakyat tanpa mengorbankan kualitas rasa. Hal inilah yang membuat 26 Ilir dijuluki sebagai tempat "Pempek Harga Kaki Lima, Rasa Bintang Lima".

#

Teknik Memasak Tradisional dan Warisan

Satu hal yang tetap dipertahankan di 26 Ilir adalah proses perebusan menggunakan tungku besar. Meski sebagian sudah beralih ke gas, penggunaan air rebusan yang terus-menerus digunakan memberikan "kaldu" tersendiri bagi kulit luar pempek yang baru dimasukkan.

Selain itu, teknik menggoreng pempek di sini menggunakan api sedang agar bagian luar menjadi garing (crispy) namun bagian dalam tetap lembut dan tidak alot. Untuk jenis pempek kulit, mereka menggunakan kulit ikan tenggiri yang dicincang kasar, memberikan tekstur yang unik dan rasa yang lebih "bold" dibandingkan pempek daging putih.

#

Konteks Budaya dan Adat Makan Palembang

Makan pempek di 26 Ilir adalah sebuah pengalaman sosiokultural. Di sini, berlaku tradisi "ngirup cuko" (menghirup cuka). Bagi warga asli Palembang, cuka tidak hanya dicocol, tetapi diminum langsung dari mangkuk kecil setelah pempeknya habis. Ada kepercayaan lokal bahwa menghirup cuka dapat memperkuat gigi dan menambah nafsu makan.

Suasana di 26 Ilir sangat khas dengan teriakan para pelayan yang cekatan dan deretan pempek yang baru diangkat dari kuali besar, masih mengepulkan asap. Meja-meja panjang kayu menjadi tempat bertemunya orang dari berbagai latar belakang, mulai dari pejabat hingga buruh, semua duduk setara demi sepiring pempek hangat.

Kawasan ini juga menjadi pusat oleh-oleh utama. Di setiap sudut, terlihat kesibukan para pekerja mengemas pempek ke dalam kotak karton, membalurinya dengan tepung sagu kering (agar awet), dan memvakumnya untuk dikirim ke seluruh penjuru Indonesia bahkan mancanegara.

#

Filosofi di Balik Sepiring Pempek

Bagi masyarakat 26 Ilir, pempek adalah simbol ketahanan pangan dan kreativitas. Dahulu, ketika tangkapan ikan sungai melimpah, masyarakat memutar otak agar ikan tidak busuk, maka terciptalah pempek. Lokasi 26 Ilir yang dekat dengan aliran anak sungai Musi memudahkan akses logistik ikan pada masa lampau, yang secara alami membentuk ekosistem kuliner ini.

Pusat Pempek 26 Ilir bukan sekadar tempat transaksi ekonomi; ia adalah penjaga nyala api tradisi Palembang. Di tengah gempuran makanan modern, kawasan ini tetap tegak berdiri sebagai bukti bahwa keasentikan rasa yang berpijak pada sejarah akan selalu memiliki tempat di hati masyarakat. Mengunjungi Palembang tanpa singgah ke 26 Ilir ibarat melihat raga tanpa menyentuh jiwanya. Di sinilah, dalam setiap gigitan pempek yang kenyal dan siraman cuka yang pedas, sejarah panjang Sumatera Selatan terus diceritakan dan dinikmati.

📋 Informasi Kunjungan

address
Jl. Mujahidin, 26 Ilir, Bukit Kecil, Kota Palembang
entrance fee
Gratis (Harga makanan bervariasi)
opening hours
Setiap hari, 07:00 - 21:00

Tempat Menarik Lainnya di Palembang

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Palembang

Pelajari lebih lanjut tentang Palembang dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Palembang