Situs Sejarah

Rumah Singgah Tuan Kadi

di Pekanbaru, Riau

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Jejak Peradaban di Tepian Sungai Siak: Sejarah Lengkap Rumah Singgah Tuan Kadi

Rumah Singgah Tuan Kadi merupakan salah satu saksi bisu paling otentik dari perjalanan panjang Kota Pekanbaru, Riau. Terletak megah di Kampung Bandar, Kecamatan Senapelan, bangunan ini bukan sekadar struktur kayu tua, melainkan representasi dari masa keemasan perdagangan dan syiar Islam di sepanjang aliran Sungai Siak. Sebagai bagian integral dari sejarah Kesultanan Siak Sri Indrapura, situs ini menyimpan memori kolektif tentang bagaimana sebuah perkampungan kecil berkembang menjadi pusat pemerintahan dan ekonomi di tanah Melayu.

#

Asal-Usul dan Konteks Sejarah

Rumah Singgah Tuan Kadi dibangun pada sekitar tahun 1895 oleh Haji Nurdin Putih, yang merupakan mertua dari Tuan Kadi H. Zakaria. Secara genealogis dan fungsional, rumah ini erat kaitannya dengan peran "Tuan Kadi", sebuah jabatan penting dalam struktur pemerintahan Kesultanan Siak yang bertanggung jawab atas urusan agama Islam, hukum syariah, dan pernikahan.

Pembangunan rumah ini di tepi Sungai Siak bukan tanpa alasan. Pada masa itu, Sungai Siak merupakan urat nadi transportasi utama yang menghubungkan pedalaman Riau dengan Selat Melaka. Keberadaan rumah ini di wilayah Senapelan menandai titik strategis di mana pengaruh Kesultanan Siak mulai mengakar kuat di wilayah yang dulunya dikenal sebagai "Payung Sekaki", cikal bakal Kota Pekanbaru.

#

Keunikan Arsitektur Melayu Riau

Secara visual, Rumah Singgah Tuan Kadi adalah mahakarya arsitektur tradisional Melayu. Bangunan ini berbentuk rumah panggung dengan material utama kayu jati dan kayu keras setempat yang tahan terhadap cuaca tropis dan kelembapan sungai. Struktur panggung berfungsi ganda: sebagai perlindungan dari luapan air Sungai Siak (pasang surut) dan sebagai sirkulasi udara alami yang mendinginkan bagian dalam rumah.

Ciri khas yang paling menonjol adalah atapnya yang berbentuk "Limas" dengan ornamen "Selembayung" pada bagian ujung atap. Selembayung merupakan ukiran kayu yang menyerupai tanduk atau pucuk rebung, simbol hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta serta sesama makhluk hidup.

Warna dominan bangunan ini adalah kuning dan hijau, yang dalam tradisi Melayu memiliki makna filosofis mendalam. Kuning melambangkan kejayaan, kemuliaan, dan otoritas kesultanan, sementara hijau melambangkan kesuburan serta ketaatan terhadap ajaran agama Islam. Jendela-jendela besar yang mengelilingi bangunan dirancang untuk menangkap angin sungai, menunjukkan kearifan lokal dalam merespons iklim setempat.

#

Persinggahan Sultan Siak

Salah satu fakta sejarah yang paling signifikan dan menjadikannya disebut "Rumah Singgah" adalah fungsinya sebagai tempat beristirahat bagi Sultan Siak Sri Indrapura ke-12, Sultan Syarif Kasim II. Dalam setiap kunjungannya dari ibu kota kerajaan di Siak Sri Indrapura menuju Senapelan (Pekanbaru), Sultan selalu singgah di rumah ini.

Kehadiran Sultan di rumah ini bukan hanya untuk beristirahat, tetapi juga untuk melakukan pertemuan penting dengan para tokoh masyarakat dan ulama. Di sinilah koordinasi mengenai pengembangan wilayah Senapelan sebagai pusat perdagangan baru dilakukan. Hal ini menegaskan bahwa Rumah Singgah Tuan Kadi memiliki nilai politis dan strategis, di mana kebijakan-kebijakan penting yang memengaruhi masa depan Riau pernah didiskusikan di bawah atapnya.

#

Signifikansi Keagamaan dan Sosial

Sebagai kediaman seorang Kadi, rumah ini berfungsi sebagai pusat konsultasi agama bagi masyarakat Senapelan. Pada masa lampau, teras rumah ini sering digunakan sebagai tempat bermusyawarah dan memutus perkara-perkara sipil berdasarkan hukum Islam. Kedudukan Tuan Kadi sebagai ulama sekaligus pejabat kesultanan membuat rumah ini sangat dihormati.

Secara sosial, rumah ini menjadi simbol kemapanan intelektual dan religius. Keberadaannya di tengah pemukiman warga menunjukkan kedekatan antara pemimpin agama dengan rakyatnya. Pola tata ruang rumah yang memiliki ruang tamu luas mencerminkan keterbukaan dan keramahtamahan masyarakat Melayu dalam menerima tamu, tanpa memandang strata sosial.

#

Upaya Pelestarian dan Restorasi

Seiring berjalannya waktu, tantangan pelestarian bangunan kayu di tepi sungai menjadi sangat besar. Rumah Singgah Tuan Kadi sempat mengalami masa-masa di mana kondisinya memprihatinkan akibat pelapukan kayu dan ancaman abrasi sungai. Namun, menyadari nilai sejarahnya yang tak ternilai, Pemerintah Kota Pekanbaru melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata serta dukungan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) telah menetapkan bangunan ini sebagai Situs Cagar Budaya.

Proses restorasi dilakukan secara cermat dengan tetap mempertahankan keaslian material dan bentuk aslinya. Kayu-kayu yang lapuk diganti dengan jenis kayu yang serupa, dan teknik penyambungan kayu tetap mengikuti cara tradisional tanpa banyak menggunakan paku modern. Saat ini, kawasan di sekitar rumah telah ditata menjadi taman kota dan tepian sungai (waterfront) yang rapi, menjadikannya destinasi wisata sejarah unggulan di Pekanbaru.

#

Rumah Singgah di Era Modern

Kini, Rumah Singgah Tuan Kadi berfungsi sebagai museum mini yang menyimpan foto-foto lama perkembangan Kota Pekanbaru dan silsilah keluarga Tuan Kadi. Setiap tahunnya, rumah ini menjadi pusat perhatian dalam perayaan "Petang Megang", sebuah tradisi masyarakat Pekanbaru dalam menyambut bulan suci Ramadan dengan mandi bersama di Sungai Siak.

Keberadaan rumah ini menjadi pengingat bagi generasi muda bahwa Pekanbaru bukanlah kota yang lahir dari kekosongan sejarah. Kota ini tumbuh dari tradisi sungai yang kuat, ketaatan beragama yang dalam, dan diplomasi yang cerdas antara penguasa dan rakyatnya. Sebagai situs sejarah, Rumah Singgah Tuan Kadi berhasil menjembatani masa lalu Kesultanan Siak dengan realitas modernitas Kota Madani saat ini.

Dengan mengunjungi situs ini, pengunjung tidak hanya disuguhi pemandangan arsitektur yang indah, tetapi juga diajak untuk menyelami kembali narasi besar tentang bagaimana identitas Melayu Riau dibentuk dan dijaga di tengah arus perubahan zaman. Rumah Singgah Tuan Kadi tetap berdiri kokoh, memandang ke arah Sungai Siak, seolah terus menjaga aliran sejarah yang tidak boleh terlupakan.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Jl. perdagangan, Kel. Kampung Bandar, Kec. Senapelan, Kota Pekanbaru
entrance fee
Sukarela
opening hours
Setiap hari, 08:00 - 17:00

Tempat Menarik Lainnya di Pekanbaru

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Pekanbaru

Pelajari lebih lanjut tentang Pekanbaru dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Pekanbaru