Rejang Lebong
CommonDipublikasikan: Januari 2025
History
#
Sejarah dan Perkembangan Kabupaten Rejang Lebong
Kabupaten Rejang Lebong, yang terletak di dataran tinggi Bukit Barisan Provinsi Bengkulu, memiliki narasi sejarah yang mendalam sebagai salah satu wilayah tertua di Sumatra Bagian Selatan. Secara geografis, wilayah seluas 1.525 km² ini tidak berbatasan dengan garis pantai dan dikelilingi oleh delapan wilayah administratif, menjadikannya titik strategis di bagian barat pulau Sumatra.
##
Akar Prasejarah dan Masa Kesultanan
Sejarah Rejang Lebong berakar pada keberadaan suku asli Rejang yang terbagi dalam lima marga besar atau Jurai, yaitu Merigi, Bermani, Selupu, Tubai, dan Jurukalang. Sistem pemerintahan tradisional dipimpin oleh Ajai, yang kemudian berkembang menjadi sistem Bikau (Bhiksu) di bawah pengaruh Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Salah satu tokoh legendaris yang dihormati adalah Bikau Bermano, yang dianggap membawa tatanan sosial pertama di wilayah ini. Masyarakat lokal secara historis memiliki aksara sendiri yang disebut Aksara Kaganga (Aksara Rejang), yang membuktikan tingginya tingkat peradaban literasi mereka jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa.
##
Era Kolonialisme dan Eksploitasi Emas
Kehadiran bangsa Barat di Rejang Lebong dimulai dengan ketertarikan Inggris (EIC) melalui Traktat London 1824, namun pengaruh Belanda (VOC/Hindia Belanda) menjadi lebih dominan pada akhir abad ke-19. Kota Curup, sebagai ibu kota kabupaten, mulai berkembang pesat ketika Belanda menemukan potensi pertambangan emas di wilayah Lebong Donok pada tahun 1896. Penemuan ini memicu gelombang migrasi pekerja dan pembangunan infrastruktur jalan yang menghubungkan Curup dengan pelabuhan di Bengkulu. Pada masa ini, Rejang Lebong menjadi pusat ekonomi penting bagi Pemerintah Hindia Belanda di Sumatra karena kekayaan mineral dan hasil perkebunan kopinya.
##
Perjuangan Kemerdekaan dan Agresi Militer
Selama masa pendudukan Jepang dan perang kemerdekaan (1945–1949), Rejang Lebong berperan sebagai basis pertahanan gerilya. Tokoh-tokoh lokal seperti Mayor Salim Batubara dan para pejuang rakyat terlibat aktif dalam membendung Agresi Militer Belanda II. Wilayah Curup pernah menjadi tempat kedudukan Gubernur Militer Sumatra Selatan sebagai respon atas jatuhnya kota-kota besar ke tangan Belanda. Semangat patriotisme ini kini diabadikan melalui Monumen Perjuangan di pusat kota Curup.
##
Modernisasi dan Warisan Budaya
Pasca-kemerdekaan, berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1959, Rejang Lebong resmi menjadi kabupaten dalam Provinsi Sumatra Selatan, sebelum akhirnya bergabung dengan Provinsi Bengkulu pada tahun 1968. Modernisasi wilayah ini ditandai dengan diversifikasi sektor pertanian dan pariwisata, khususnya di sekitar Gunung Kaba dan Danau Mas Harun Bastari.
Hingga saat ini, Rejang Lebong tetap mempertahankan identitas budaya melalui upacara adat Kejai, tari-tarian tradisional, dan pelestarian bahasa Rejang. Sebagai wilayah yang berbatasan dengan delapan tetangga, Rejang Lebong berfungsi sebagai pusat pendidikan dan perdagangan di dataran tinggi, mengintegrasikan kearifan lokal dengan kemajuan zaman tanpa meninggalkan akar sejarahnya sebagai Tanah Rejang yang agung.
Geography
#
Geografi Kabupaten Rejang Lebong: Jantung Dataran Tinggi Bengkulu
Kabupaten Rejang Lebong merupakan wilayah administratif yang terletak di jantung Pegunungan Bukit Barisan, Provinsi Bengkulu. Dengan luas wilayah mencapai 1.524,66 km², kabupaten ini secara geografis berada pada posisi koordinat 102°19'–102°57' Bujur Timur dan 3°03'–3°38' Lintang Selatan. Meskipun terletak di bagian barat pulau Sumatera, wilayah ini sepenuhnya dikelilingi oleh daratan (landlocked) dan tidak memiliki garis pantai. Rejang Lebong berbatasan langsung dengan delapan wilayah administratif, termasuk Kabupaten Lebong, Bengkulu Utara, Kepahiang, Bengkulu Tengah, serta berbatasan dengan Provinsi Sumatera Selatan (Kabupaten Musi Rawas dan Lubuk Linggau).
##
Topografi dan bentang alam
Wilayah ini didominasi oleh topografi bergelombang hingga berbukit dengan ketinggian rata-rata berkisar antara 600 hingga 1.500 meter di atas permukaan laut (mdpl). Fitur geografis yang paling menonjol adalah keberadaan Gunung Api aktif, Gunung Kaba (1.938 mdpl), yang memiliki kawah kembar dan menjadi ikon vulkanologi daerah ini. Di bawah kaki gunung, terbentang Lembah Rejang yang subur, sebuah depresi tektonik yang menjadi pusat pemukiman dan aktivitas ekonomi. Selain itu, wilayah ini merupakan hulu dari beberapa sungai besar di Sumatera, termasuk Sungai Musi melalui anak sungainya dan Sungai Ketaun, yang mengalir membelah lembah-lembah curam.
##
Iklim dan Pola Cuaca
Karena lokasinya yang berada di dataran tinggi, Rejang Lebong memiliki iklim tropis basah yang cenderung sejuk. Suhu udara rata-rata berkisar antara 18°C hingga 24°C, jauh lebih rendah dibandingkan kota pesisir Bengkulu. Curah hujan di wilayah ini sangat tinggi, mencapai 2.300 hingga 3.500 mm per tahun, dengan musim hujan yang panjang dipengaruhi oleh orografi Pegunungan Bukit Barisan. Pola cuaca ini menciptakan kelembapan tinggi yang mendukung pembentukan kabut di pagi hari, menjadikannya salah satu daerah paling sejuk di Sumatera.
##
Sumber Daya Alam dan Biodiversitas
Rejang Lebong adalah lumbung pangan bagi Provinsi Bengkulu. Tanah vulkanik yang kaya unsur hara memungkinkan pengembangan sektor pertanian hortikultura skala besar, terutama sayur-mayur, kopi robusta, dan jeruk. Secara ekologis, sebagian besar wilayah Rejang Lebong merupakan bagian dari Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Zona ekologi ini merupakan habitat bagi flora langka seperti Rafflesia arnoldii dan Amorphophallus titanum. Hutan hujan tropis di sini juga menjadi koridor penting bagi fauna endemik seperti Harimau Sumatera dan berbagai spesies primata. Selain potensi agraris, wilayah ini memiliki kekayaan geotermal di sekitar kompleks Gunung Kaba serta cadangan mineral yang tersebar di perbukitan sekitarnya.
Culture
Pesona Budaya Rejang Lebong: Jantung Peradaban Dataran Tinggi Bengkulu
Kabupaten Rejang Lebong, yang terletak di hamparan dataran tinggi Bukit Barisan, merupakan pusat kebudayaan suku Rejang, salah satu suku tertua di Sumatra. Dengan luas wilayah 1.525 km² dan berbatasan dengan delapan wilayah administratif lainnya, daerah ini menyimpan kekayaan intelektual dan tradisi yang tetap terjaga di tengah sejuknya udara pegunungan.
#
Aksara Ka Ga Nga dan Identitas Bahasa
Salah satu keunikan utama Rejang Lebong adalah kepemilikan aksara tradisional yang disebut Aksara Rikung atau lebih dikenal dengan Aksara Ka Ga Nga. Warisan ini membuktikan tingginya peradaban literasi lokal di masa lalu. Masyarakat menggunakan bahasa Rejang dengan dialek khas (seperti Dialek Rejang Curup) yang kaya akan peribahasa atau Semawe. Penggunaan bahasa ini masih sangat kental dalam upacara adat dan pergaulan sehari-hari sebagai perekat identitas sosial.
#
Tradisi Adat dan Upacara Keagamaan
Struktur sosial kemasyarakatan diatur melalui hukum adat yang kuat, di mana nilai-nilai Islam berakulturasi secara harmonis dengan tradisi lokal. Salah satu upacara yang paling sakral adalah Kedurai Agung, sebuah ritual syukur kolektif yang melibatkan pemotongan kerbau dan doa bersama untuk memohon perlindungan bagi negeri. Dalam siklus kehidupan, masyarakat mengenal tradisi Cuci Kampung jika terjadi pelanggaran norma adat, sebuah mekanisme sosial untuk menjaga kesucian dan harmoni desa.
#
Kesenian dan Warisan Tekstil
Sektor seni pertunjukan didominasi oleh Tari Kejei, tari sakral yang dahulu hanya dipentaskan saat penyambutan raja atau pernikahan agung. Tarian ini dilakukan berpasangan dengan gerakan yang gemulai namun sarat makna ketegasan. Dari sisi kriya, Rejang Lebong memiliki Batik Besurek dengan motif kaligrafi yang khas, namun secara spesifik di wilayah ini sering dipadukan dengan motif bunga Rafflesia dan aksara Ka Ga Nga. Kain Songket Rejang dengan benang emas juga menjadi atribut wajib dalam upacara adat, melambangkan status sosial dan kehormatan pemakainya.
#
Kuliner Khas: Cita Rasa Fermentasi
Kuliner Rejang Lebong menawarkan keunikan yang tidak ditemukan di daerah pesisir. Menu andalannya adalah Lema, makanan berbahan dasar rebung (bambu muda) yang dicincang dan dicampur dengan ikan air tawar (biasanya ikan mujair atau sepat), kemudian difermentasi selama beberapa hari. Lema memiliki aroma yang tajam dan rasa asam-pedas yang unik, biasanya disantap dengan lalapan mentah. Selain itu, terdapat Gulai Jamur Sawit dan Kopi Robusta Curup yang aromanya telah mendunia, mencerminkan kekayaan hasil bumi pegunungan.
#
Arsitektur dan Festival
Rumah tradisional Rejang, yang disebut Umeak Keretapi, berbentuk rumah panggung dengan ukiran motif flora di bagian pilar dan ventilasi. Setiap tahunnya, kebudayaan ini dirayakan melalui Festival Danau Mas Harun Bastari dan perayaan HUT Kota Curup. Dalam festival tersebut, berbagai perlombaan seni tradisional seperti memukul Redap (rebana khas Rejang) dan kompetisi sastra lisan ditampilkan, memastikan bahwa api budaya di "Bumi Pat Petulai" ini tetap menyala bagi generasi mendatang.
Tourism
#
Menjelajahi Pesona Rejang Lebong: Permata Pegunungan di Jantung Bengkulu
Terletak di bagian barat Pulau Sumatera, tepatnya di dataran tinggi Bukit Barisan, Kabupaten Rejang Lebong menawarkan pesona wisata yang berbeda dari daerah pesisir Bengkulu. Dengan luas wilayah 1.525 km² dan dikelilingi oleh delapan wilayah tetangga—termasuk Lebong, Kepahiang, hingga Musi Rawas—daerah ini merupakan surga bagi pecinta udara sejuk dan pemandangan alam pegunungan yang asri.
##
Keajaiban Alam dan Petualangan Dataran Tinggi
Meskipun tidak memiliki garis pantai, Rejang Lebong memikat wisatawan dengan kemegahan Gunung Kaba (Bukit Kaba). Gunung api aktif ini adalah destinasi favorit para pendaki karena memiliki kawah ganda yang eksotis: kawah lama yang berwarna hijau dan kawah baru yang kecokelatan. Bagi pemula, jalur pendakian yang relatif ramah menjadikan pengalaman mencapai puncak setinggi 1.938 mdpl ini sangat berkesan, terutama saat menyaksikan matahari terbit di atas samudra awan.
Selain gunung, Suban Air Panas menjadi ikon wisata keluarga yang unik. Terletak di Curup, pemandian air panas alami ini dipercaya memiliki khasiat penyembuhan dan dikelilingi oleh tebing batu serta air terjun setinggi 15 meter. Untuk pengalaman yang lebih menantang, Anda dapat mengunjungi Air Terjun Tangga Seribu atau menikmati ketenangan Danau Mas Harun Bastari yang memiliki pulau unik berbentuk huruf "C" di tengahnya.
##
Jejak Budaya dan Sejarah
Rejang Lebong adalah rumah bagi suku Rejang, salah satu suku tertua di Sumatera. Wisatawan dapat mengunjungi berbagai situs sejarah dan rumah adat yang mencerminkan kekayaan budaya lokal. Salah satu pengalaman unik adalah berinteraksi dengan komunitas lokal untuk melihat aksara Kaganga, tulisan kuno asli Rejang yang masih dilestarikan. Di pusat kota Curup, keberadaan bangunan peninggalan kolonial Belanda juga menambah nuansa historis yang kental bagi para penikmat wisata sejarah.
##
Kuliner Khas dan Pengalaman Gastronomi
Perjalanan ke Rejang Lebong tidak lengkap tanpa mencicipi Lempuk Durian dan Tat, kue tradisional yang manis. Namun, primadona kuliner di sini adalah olahan sayuran segar, mengingat Curup adalah lumbung sayur Provinsi Bengkulu. Jangan lewatkan kesempatan mencicipi Sambal Unji (kecombrang) yang segar atau Sate Gurita jika Anda berkunjung ke pasar kuliner malam. Kopi Robusta Rejang Lebong, yang telah mendunia, wajib dinikmati langsung di kedai-kedai lokal dengan aroma tanah pegunungan yang kuat.
##
Akomodasi dan Waktu Terbaik Berkunjung
Keramahtamahan penduduk lokal tercermin dalam menjamurnya *homestay* berbasis agrowisata di sekitar kaki Gunung Kaba, selain hotel berbintang di pusat kota Curup. Waktu terbaik untuk berkunjung adalah pada musim kemarau antara bulan Mei hingga September untuk mendapatkan cuaca cerah saat mendaki. Jika Anda ingin merasakan kemeriahan budaya, datanglah saat perayaan HUT Kota Curup di bulan Mei, di mana festival seni dan pasar malam besar digelar untuk menyambut wisatawan.
Economy
#
Profil Ekonomi Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu
Kabupaten Rejang Lebong merupakan pilar ekonomi vital di Provinsi Bengkulu yang terletak di kawasan dataran tinggi Bukit Barisan. Dengan luas wilayah 1.515,83 km², kabupaten ini secara geografis merupakan wilayah pedalaman (landlocked) yang berbatasan dengan delapan wilayah tetangga, termasuk Provinsi Sumatera Selatan. Karakteristik geografis ini membentuk struktur ekonomi yang unik, yang didominasi oleh sektor agraris dan perdagangan lintas provinsi.
##
Sektor Pertanian dan Hortikultura: Lumbung Sayur Sumatera
Sektor pertanian menyumbang kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Rejang Lebong. Berkat tanah vulkanik yang subur dan iklim mikro yang sejuk, wilayah ini dikenal sebagai "Lumbung Sayur" untuk wilayah Sumatera bagian selatan. Komoditas unggulan meliputi sawi, kubis, tomat, dan cabai yang dipasarkan hingga ke Palembang, Jambi, dan Linggau. Selain sayuran, Kopi Robusta menjadi komoditas ekspor andalan. Kopi Rejang Lebong telah mendapatkan pengakuan internasional, didorong oleh munculnya berbagai UMKM pengolahan biji kopi (green bean) dan kopi bubuk merek lokal yang menembus pasar ritel modern.
##
Industri Pengolahan dan Kerajinan Tradisional
Industri pengolahan di Rejang Lebong berfokus pada hilirisasi hasil pertanian. Terdapat sentra pengolahan gula aren (Gula Merah) yang masif di Kecamatan Selupu Rejang. Gula aren lokal ini tidak hanya dijual dalam bentuk cetak tradisional, tetapi mulai dikembangkan menjadi gula semut untuk kebutuhan industri makanan dan kafe. Di sektor kerajinan, anyaman bambu dan rotan serta kain batik motif "Ka Ga Nga" (aksara Rejang) menjadi produk ekonomi kreatif yang menghidupkan sektor industri rumah tangga.
##
Pariwisata dan Ekonomi Jasa
Sebagai wilayah non-pesisir, Rejang Lebong mengandalkan wisata alam pegunungan. Destinasi seperti Pemandian Air Panas Suban dan Danau Mas Harun Bastari menjadi penggerak ekonomi jasa. Kehadiran bunga Rafflesia arnoldii yang sering mekar di kawasan hutan lindung juga menarik wisatawan mancanegara, yang berdampak pada pertumbuhan okupansi hotel dan jasa pemandu wisata di Curup.
##
Infrastruktur dan Konektivitas Perdagangan
Meskipun tidak memiliki ekonomi maritim karena posisinya yang dikelilingi daratan, Rejang Lebong berfungsi sebagai simpul logistik darat. Jalan lintas utama yang menghubungkan Kota Bengkulu dengan Lubuklinggau (Sumatera Selatan) membelah kabupaten ini, menjadikannya pusat transit perdagangan. Pembangunan infrastruktur jalan usaha tani terus digenjot untuk menekan biaya logistik para petani sayur.
##
Tren Tenaga Kerja dan Tantangan Ekonomi
Mayoritas angkatan kerja terserap di sektor pertanian (sekitar 60-70%). Namun, saat ini terjadi tren pergeseran kaum muda ke sektor jasa dan ekonomi digital di pusat kota Curup. Tantangan utama ekonomi wilayah ini adalah fluktuasi harga komoditas sayuran dan perlunya modernisasi teknologi pascapanen agar produk lokal memiliki daya saing lebih tinggi di pasar nasional. Dengan pengembangan berkelanjutan, Rejang Lebong tetap menjadi motor penggerak ekonomi utama di bagian barat Pulau Sumatera.
Demographics
#
Profil Demografis Kabupaten Rejang Lebong
Kabupaten Rejang Lebong, yang terletak di dataran tinggi Bukit Barisan Provinsi Bengkulu, memiliki karakteristik demografis yang unik sebagai wilayah pegunungan non-pesisir seluas 1.525 km². Dengan posisi strategis di bagian barat Indonesia yang berbatasan langsung dengan delapan wilayah administratif, kabupaten ini berfungsi sebagai simpul konektivitas antara pesisir Bengkulu dan pedalaman Sumatera Selatan.
Kepadatan dan Distribusi Penduduk
Berdasarkan data terbaru, jumlah penduduk Rejang Lebong mencapai lebih dari 280.000 jiwa dengan tingkat kepadatan penduduk rata-rata 184 jiwa/km². Distribusi penduduk terkonsentrasi di kawasan "Segitiga Emas" yang meliputi Kecamatan Curup, Curup Tengah, dan Curup Timur. Berbeda dengan wilayah pinggirannya yang didominasi perkebunan, kawasan perkotaan Curup memiliki kepadatan yang sangat tinggi, mencerminkan pemusatan aktivitas ekonomi dan administratif.
Komposisi Etnis dan Keragaman Budaya
Demografi Rejang Lebong ditandai dengan dualisme etnis yang harmonis antara suku asli Rejang dan suku Lembak. Keunikan wilayah ini terletak pada statusnya sebagai "Melting Pot" di Bengkulu; migrasi historis melalui program transmigrasi telah membawa populasi suku Jawa, Sunda, dan Minangkabau dalam jumlah signifikan. Keberagaman ini menciptakan lanskap linguistik yang kaya, di mana bahasa Rejang dialek Curup bersanding dengan bahasa Indonesia dalam interaksi harian.
Struktur Usia dan Pendidikan
Struktur kependudukan Rejang Lebong menunjukkan tren piramida ekspansif dengan dominasi kelompok usia produktif (15-64 tahun) yang mencapai lebih dari 68%. Angka melek huruf di wilayah ini sangat tinggi, melampaui 98%, yang didukung oleh status Curup sebagai kota pendidikan di tingkat regional. Keberadaan institusi pendidikan tinggi seperti IAIN Curup dan Universitas Pat Petulai menarik migrasi masuk pelajar dari kabupaten tetangga seperti Lebong dan Kepahiang.
Urbanisasi dan Pola Migrasi
Dinamika rural-urban di Rejang Lebong sangat dipengaruhi oleh sektor hortikultura. Terjadi pola migrasi musiman di mana penduduk dari area pedesaan bergerak ke pusat kota untuk perdagangan sayur-mayur skala besar. Selain itu, sebagai wilayah transit darat utama, Rejang Lebong mengalami mobilitas penduduk yang dinamis. Migrasi keluar biasanya didorong oleh pencarian pendidikan tinggi ke pulau Jawa, sementara migrasi masuk didominasi oleh sektor perdagangan dan jasa yang memanfaatkan posisi geografis kabupaten ini sebagai gerbang timur Provinsi Bengkulu.
💡 Fakta Unik
- 1.Wilayah ini merupakan lokasi penemuan bunga Rafflesia haseltii, varietas langka yang memiliki diameter sekitar 50 cm dengan pola bintik putih yang khas.
- 2.Tradisi tari adat Kejei yang sakral di daerah ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia karena nilai sejarahnya yang berasal dari zaman raja-raja Rejang.
- 3.Daerah ini dikelilingi oleh jajaran Bukit Barisan dan memiliki Danau Mas Harun Bastari yang dikelilingi oleh perbukitan hijau yang asri.
- 4.Kawasan ini dikenal sebagai penghasil kopi jenis Robusta dan sayur-mayur utama yang memasok kebutuhan pangan untuk provinsi tetangga seperti Sumatera Selatan.
Destinasi di Rejang Lebong
Semua Destinasi→Suban Air Panas
Destinasi wisata legendaris yang menawarkan kolam pemandian air panas alami di kaki Bukit Barisan. D...
Wisata AlamBukit Kaba
Gunung api aktif bertipe stratovulkan ini merupakan favorit para pendaki karena keindahan kawah gand...
Tempat RekreasiDanau Mas Harun Bastari
Danau buatan yang indah dengan pulau kecil berbentuk huruf 'C' di tengahnya ini dikelilingi oleh per...
Bangunan IkonikMasjid Agung Baitul Hikmah
Merupakan pusat kegiatan religi terbesar di Rejang Lebong yang memiliki arsitektur megah dengan kuba...
Wisata AlamAir Terjun Batu Betiang
Tersembunyi di dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat, air terjun ini memiliki keunikan pada fo...
Wisata AlamKebun Teh Baru Kaba
Hamparan karpet hijau seluas ratusan hektar ini menyuguhkan suasana pegunungan yang mirip dengan kaw...
Tempat Lainnya di Bengkulu
Lokasi Serupa
Panduan Perjalanan Terkait
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiUji Pengetahuanmu!
Apakah kamu bisa menebak Rejang Lebong dari siluet petanya?