Vihara Tri Dharma Bumi Raya
di Singkawang, Kalimantan Barat
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Vihara Tri Dharma Bumi Raya: Jejak Spiritual dan Simbol Resiliensi Kota Singkawang
Vihara Tri Dharma Bumi Raya, yang juga dikenal secara lokal sebagai Kelenteng Tua Pek Kong, berdiri megah di jantung Kota Singkawang, Kalimantan Barat. Terletak tepat di persimpangan jalan utama, bangunan ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan sebuah monumen hidup yang merekam transformasi Singkawang dari sebuah permukiman kecil para penambang emas menjadi "Kota Seribu Kelenteng" yang multikultural.
#
Asal-usul Historis dan Periode Pendirian
Akar sejarah Vihara Tri Dharma Bumi Raya dapat ditarik kembali ke pertengahan abad ke-19. Meskipun catatan administratif kolonial sering kali tidak mencatat tanggal pasti peletakan batu pertama, konsensus sejarah lokal dan tradisi lisan menempatkan pembangunannya sekitar tahun 1878. Pada masa itu, Singkawang berfungsi sebagai pelabuhan persinggahan dan transit bagi para imigran Tionghoa, khususnya etnis Hakka, yang datang untuk bekerja di pertambangan emas di wilayah Monterado.
Awalnya, bangunan ini hanyalah sebuah pondok kayu sederhana dengan atap rumbia. Para imigran tersebut mendirikan tempat pemujaan ini sebagai bentuk syukur atas keselamatan mereka melintasi lautan dan sebagai ruang untuk memohon perlindungan dari penguasa bumi (Tua Pek Kong) agar mereka terhindar dari penyakit serta konflik di tanah harapan yang baru. Seiring meningkatnya kesejahteraan komunitas Tionghoa di Singkawang, bangunan tersebut direnovasi secara bertahap hingga menjadi struktur permanen yang kokoh.
#
Arsitektur dan Detail Konstruksi yang Khas
Secara arsitektural, Vihara Tri Dharma Bumi Raya merupakan representasi gaya bangunan tradisional Tiongkok Selatan yang berpadu dengan adaptasi lokal. Salah satu elemen yang paling mencolok adalah dominasi warna merah dan emas, yang dalam kosmologi Tionghoa melambangkan kebahagiaan dan kemuliaan.
Struktur atapnya menggunakan bentuk Ying Shan (atap pelana dengan bubungan melengkung) yang dihiasi dengan ornamen naga dan burung feniks yang saling berhadapan. Naga melambangkan kekuatan maskulin dan perlindungan, sementara burung feniks melambangkan keanggunan dan regenerasi. Di dalam vihara, terdapat tiang-tiang penyangga (kolom) kayu ulin yang sangat kuat, kayu khas Kalimantan yang terkenal tahan terhadap cuaca ekstrem dan rayap.
Kekhasan lain terletak pada ukiran relief di dinding samping yang menggambarkan epos klasik Tiongkok serta ajaran moralitas. Di bagian altar utama, terdapat patung Tua Pek Kong (Dewa Bumi) yang didampingi oleh Dewi Kwan Im (Dewi Sartika/Welas Asih). Keberadaan altar yang menyatukan berbagai dewa dari tradisi Taoisme, Buddhisme, dan Konfusianisme inilah yang mendasari penyebutan nama "Tri Dharma".
#
Signifikansi Historis dan Peristiwa Penting
Vihara ini telah melewati berbagai gejolak sejarah besar di Kalimantan Barat. Salah satu peristiwa yang paling traumatis adalah tragedi kebakaran besar yang melanda pusat kota Singkawang pada tahun 1930-an. Sebagian besar bangunan kayu di sekitar vihara hangus terbakar, namun secara ajaib, struktur utama vihara ini tetap berdiri tegak. Kejadian ini memperkuat keyakinan spiritual masyarakat bahwa tempat ini memiliki perlindungan ilahi.
Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), vihara ini tetap berfungsi meskipun di bawah pengawasan ketat. Namun, tantangan terbesar muncul pada periode 1960-an saat terjadi ketegangan politik di Indonesia. Vihara ini menjadi saksi bisu masa-masa sulit tersebut, namun tetap menjadi titik kumpul bagi masyarakat untuk mencari ketenangan batin. Keberlangsungannya hingga hari ini menjadi bukti resiliensi komunitas Tionghoa dalam mempertahankan warisan leluhur mereka di tanah air Indonesia.
#
Tokoh dan Kaitan dengan Periode Sejarah
Meskipun tidak ada satu nama arsitek tunggal yang tercatat, pembangunan dan pemeliharaan vihara ini dilakukan secara kolektif oleh para pemimpin komunitas Tionghoa lokal (Kapitan). Tokoh-tokoh seperti para tetua marga di Singkawang berperan penting dalam penggalangan dana dari generasi ke generasi.
Selama era Orde Baru, aktivitas di vihara ini sempat dibatasi dalam ruang tertutup. Namun, pasca-reformasi tahun 1998, terutama di bawah kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang mencabut Inpres No. 14/1967, Vihara Tri Dharma Bumi Raya mengalami masa kebangkitan. Vihara ini kembali menjadi pusat perayaan terbuka, terutama untuk ritual Festival Cap Go Meh yang kini telah diakui secara internasional.
#
Status Pelestarian dan Restorasi
Sebagai salah satu situs sejarah tertua di Singkawang, Vihara Tri Dharma Bumi Raya telah ditetapkan sebagai benda cagar budaya oleh pemerintah daerah Kalimantan Barat. Upaya pelestarian dilakukan dengan sangat hati-hati untuk menjaga keaslian strukturnya.
Restorasi besar terakhir dilakukan tanpa mengubah tata letak asli atau mengganti material utama jika tidak diperlukan. Pengecatan ulang secara rutin dilakukan menjelang Tahun Baru Imlek menggunakan cat khusus untuk mempertahankan kecerahan warna merahnya. Pemerintah Kota Singkawang juga menata kawasan di sekitarnya, menjadikan vihara ini sebagai titik pusat (Landmark) pariwisata sejarah yang terintegrasi dengan pembangunan taman dan area pejalan kaki.
#
Makna Budaya dan Agama: Jantung Perayaan Cap Go Meh
Vihara Tri Dharma Bumi Raya memiliki signifikansi religius yang tak tertandingi di Kalimantan Barat. Setiap tahun, vihara ini menjadi titik mula dan pusat dari ritual pembersihan kota dalam perayaan Cap Go Meh. Para Tatung (dukun yang dirasuki roh leluhur) harus datang ke vihara ini untuk melakukan ritual penghormatan dan meminta izin sebelum memulai parade keliling kota.
Fakta unik sejarah menyebutkan bahwa lonceng dan tempat pembakaran hio di vihara ini merupakan barang-barang kuno yang didatangkan langsung dari daratan Tiongkok pada masa awal pendiriannya. Suara lonceng ini dipercaya dapat mengusir energi negatif dan membawa kedamaian bagi seluruh penduduk kota, tanpa memandang latar belakang etnis.
Kesimpulannya, Vihara Tri Dharma Bumi Raya bukan sekadar bangunan tua. Ia adalah simbol harmonisasi identitas. Keberadaannya di pusat kota, berdampingan dengan Masjid Raya Singkawang, menjadi narasi visual tentang toleransi yang telah mengakar selama lebih dari satu setengah abad. Sebagai situs sejarah, ia terus bercerita tentang kerja keras para migran, keteguhan iman, dan kemampuan budaya lokal untuk menyerap serta melestarikan warisan peradaban masa lalu di tengah arus modernisasi.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Singkawang
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Singkawang
Pelajari lebih lanjut tentang Singkawang dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Singkawang