Monumen Kapal Selam (Monkasel)
di Surabaya, Jawa Timur
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Monumen Kapal Selam (Monkasel): Jejak Kejayaan Maritim dan Diplomasi Dingin di Jantung Surabaya
Monumen Kapal Selam, atau yang lebih dikenal dengan akronim Monkasel, bukan sekadar replika atau bangunan berbentuk kapal. Terletak strategis di bantaran Kalimas, pusat Kota Surabaya, Jawa Timur, monumen ini merupakan kapal selam asli KRI Pasopati 410, salah satu armada tempur milik Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) dari kelas Whiskey Class buatan Uni Soviet. Keberadaannya kini menjadi saksi bisu pengabdian para patriot bahari Indonesia sekaligus simbol kekuatan maritim yang pernah disegani di kawasan Asia Tenggara.
#
Asal-Usul Sejarah dan Periode Pendirian
KRI Pasopati 410 diproduksi oleh galangan kapal Vladivostok di Uni Soviet pada tahun 1952. Kapal ini tiba di Indonesia pada dekade 1960-an sebagai bagian dari penguatan armada militer dalam rangka Operasi Trikora (Tri Komando Rakyat). Setelah puluhan tahun bertugas menjaga kedaulatan wilayah perairan Indonesia, kapal selam ini akhirnya dipurnatugaskan pada 25 Januari 1990.
Gagasan untuk menjadikan KRI Pasopati sebagai monumen muncul dari para sesepuh kapal selam dan pimpinan TNI AL. Tujuannya adalah untuk mewariskan nilai-nilai kejuangan kepada generasi muda serta sebagai edukasi mengenai sejarah maritim. Proses pembangunan Monkasel dimulai pada tahun 1994 dengan peletakan batu pertama oleh Panglima Armada RI Kawasan Timur saat itu, Laksamana Madya TNI Gantoardoro. Monumen ini secara resmi dibuka untuk umum oleh Panglima TNI Jenderal Wiranto pada 27 Juni 1998.
#
Arsitektur dan Detail Konstruksi yang Unik
Salah satu fakta sejarah yang paling menarik dari Monkasel adalah proses konstruksinya. Membawa kapal selam seberat 1.300 ton dalam keadaan utuh dari pangkalan laut ke tengah kota adalah hal yang mustahil secara logistik. Oleh karena itu, KRI Pasopati 410 dipotong menjadi 15 bagian (irisan) di PT PAL Indonesia.
Potongan-potongan tersebut kemudian diangkut satu per satu menuju lokasi saat ini di Jalan Pemuda, tepat di samping Plaza Surabaya. Di lokasi tersebut, bagian-bagian kapal dirakit kembali di atas fondasi yang telah disiapkan dengan presisi tinggi. Meskipun pernah dipotong-potong, interior kapal tetap dipertahankan sesuai dengan kondisi aslinya, memberikan pengalaman autentik bagi pengunjung yang masuk ke dalamnya.
Kapal ini memiliki panjang 76,6 meter dan lebar 6,3 meter. Ruang di dalamnya dibagi menjadi tujuh kompartemen utama, yaitu:
1. Ruang Torpedo Haluan: Tempat peluncuran torpedo dan tempat tidur kru.
2. Ruang Komando: Pusat pengendalian kapal dan navigasi.
3. Ruang Utama/Periskop: Tempat komandan memantau permukaan air.
4. Ruang Makan dan Dapur: Area domestik bagi para pelaut.
5. Ruang Mesin Diesel: Sumber tenaga utama kapal.
6. Ruang Mesin Listrik: Penggerak kapal saat menyelam.
7. Ruang Torpedo Buritan: Pertahanan bagian belakang.
#
Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Terkait
KRI Pasopati 410 memegang peranan krusial dalam sejarah diplomasi dan militer Indonesia, terutama dalam konflik perebutan Irian Barat dari tangan Belanda. Keberadaan kapal selam kelas Whiskey ini memberikan efek gentar (deterrent effect) yang sangat besar. Pada masa itu, Indonesia memiliki 12 kapal selam sejenis, menjadikannya kekuatan laut terkuat di belahan bumi selatan.
Kapal ini terlibat aktif dalam operasi intelijen dan penyusupan di balik garis pertahanan lawan. Kemampuannya untuk menyelam tanpa terdeteksi menjadikannya instrumen penting dalam menekan Belanda agar kembali ke meja perundingan. Tanpa kehadiran armada kapal selam ini, peta politik dan batas wilayah Indonesia mungkin akan sangat berbeda hari ini.
#
Tokoh dan Periode Terkait
Tokoh-tokoh penting yang terkait dengan Monkasel mencakup para komandan kapal selam yang pernah bertugas di KRI Pasopati, serta Laksamana Madya TNI Gantoardoro yang memprakarsai berdirinya monumen ini. Monumen ini juga menjadi penghormatan bagi para "Hiu Kencana" (sebutan untuk kru kapal selam Indonesia) yang mengusung semboyan "Wira Ananta Rudira" yang berarti Tabah Sampai Akhir.
Periode 1960-an hingga 1980-an adalah masa keemasan kapal ini, di mana ia menjadi bagian dari strategi Perang Dingin di wilayah Asia Tenggara. Hubungan erat antara Indonesia dan Uni Soviet pada masa kepemimpinan Presiden Soekarno memungkinkan transfer teknologi militer canggih ini, yang di kemudian hari menjadi fondasi bagi kemandirian pertahanan laut Indonesia.
#
Upaya Pelestarian dan Restorasi
Sebagai situs sejarah, Monumen Kapal Selam terus mendapatkan perawatan rutin untuk mencegah korosi, mengingat material utamanya adalah baja yang rentan terhadap cuaca tropis Surabaya. Pengecatan ulang dengan warna abu-abu khas kapal perang dilakukan secara berkala. Selain itu, sistem pendingin udara ditambahkan di dalam kompartemen untuk memberikan kenyamanan bagi pengunjung tanpa mengubah tata letak asli peralatan navigasi dan persenjataan.
Pemerintah Kota Surabaya bersama TNI AL menjaga area sekitar monumen sebagai ruang publik yang hijau. Fasilitas pendukung seperti kolam renang untuk anak-anak, panggung hiburan, dan pemutaran film dokumenter tentang sejarah kapal selam di dalam gedung video khusus, merupakan bagian dari upaya pelestarian yang adaptif agar situs sejarah ini tetap relevan bagi generasi milenial dan Gen Z.
#
Kepentingan Budaya dan Edukasi
Bagi warga Surabaya, Monkasel bukan hanya objek wisata, melainkan identitas kota yang dijuluki Kota Pahlawan. Keberadaan monumen ini memperkuat narasi bahwa Surabaya adalah kota maritim yang menjadi pusat pertahanan angkatan laut di Indonesia Timur. Secara budaya, Monkasel menjadi simbol keberanian dan ketabahan.
Setiap tahunnya, Monkasel menjadi pusat perayaan hari-hari besar nasional dan menjadi tujuan utama studi banding sekolah-sekolah dari seluruh Indonesia. Kehadirannya mengingatkan masyarakat akan pentingnya menjaga kedaulatan wilayah laut, mengingat dua pertiga wilayah Indonesia adalah perairan.
#
Fakta Unik Monumen Kapal Selam
Salah satu fakta unik yang jarang diketahui adalah bahwa KRI Pasopati 410 merupakan satu-satunya monumen kapal selam di Asia yang berasal dari kapal asli yang pernah beroperasi, bukan sekadar monumen buatan. Selain itu, letaknya yang berada di pusat kota, tepat di sebelah sungai Kalimas, memberikan kontras visual yang menarik antara teknologi militer kuno dengan latar belakang gedung-gedung modern Surabaya.
Dengan mengunjungi Monumen Kapal Selam, pengunjung tidak hanya melihat besi tua yang membeku, tetapi juga merasakan denyut sejarah perjuangan bangsa yang pernah berjaya di samudra luas. Monkasel tetap berdiri kokoh sebagai pengingat bahwa kejayaan sebuah bangsa sangat bergantung pada kemampuannya menjaga dan menghargai sejarah maritimnya sendiri.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Surabaya
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Surabaya
Pelajari lebih lanjut tentang Surabaya dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Surabaya