Bangunan Ikonik

Tugu Pahlawan dan Museum Sepuluh Nopember

di Surabaya, Jawa Timur

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Arsitektur Heroik Tugu Pahlawan dan Museum Sepuluh Nopember: Simbol Perlawanan Rakyat Surabaya

Tugu Pahlawan dan Museum Sepuluh Nopember bukan sekadar struktur beton dan batu di jantung Kota Surabaya. Terletak di pusat sejarah kota, tepatnya di depan Kantor Gubernur Jawa Timur, monumen ini berdiri sebagai perwujudan fisik dari semangat "Merdeka atau Mati" yang dikobarkan oleh arek-arek Suroboyo pada pertempuran hebat tahun 1945. Secara arsitektural, kompleks ini menawarkan perpaduan unik antara monumentalitas vertikal klasik dan desain museum bawah tanah (subterranean) yang modern.

#

Filosofi Desain dan Estetika Lingga-Yoni

Tugu Pahlawan memiliki desain yang sarat dengan simbolisme numerik yang merujuk pada tanggal bersejarah 10 November 1945. Monumen ini memiliki bentuk paku terbalik atau lingga yang menjulang tinggi ke angkasa. Tubuh tugu terbagi menjadi 10 lengkungan (kanal), dan terdiri dari 11 ruas. Angka-angka ini tidak dipilih secara acak; 10 lengkungan melambangkan tanggal, 11 ruas melambangkan bulan, dan tinggi tugu yang mencapai 41,15 meter (atau 45 meter jika dihitung dari dasar tertentu dalam beberapa literatur teknis) mencerminkan tahun 1945.

Gaya arsitekturnya mengadopsi prinsip minimalis namun monumental. Permukaan tugu yang berwarna putih bersih melambangkan kesucian perjuangan, sementara bentuknya yang meruncing ke atas memberikan kesan dinamis dan aspirasional—sebuah doa visual yang dipanjatkan ke langit. Di bagian bawah tugu, terdapat relief-relief yang menggambarkan fragmen pertempuran, memberikan tekstur naratif pada struktur statis tersebut.

#

Konteks Sejarah dan Proses Pembangunan

Pembangunan Tugu Pahlawan diprakarsai oleh Doel Arnowo, Walikota Surabaya saat itu, yang kemudian menugaskan Ir. R. Soeratmoko untuk merancang desainnya. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Presiden Soekarno pada 10 November 1951, tepat enam tahun setelah peristiwa berdarah tersebut. Lokasi pembangunan di lahan bekas gedung Raad van Justitie (Pengadilan Tinggi Belanda) dipilih secara strategis karena area tersebut merupakan salah satu pusat pertempuran paling sengit selama agresi militer.

Proses konstruksi menghadapi tantangan teknis mengingat tanah di pusat Surabaya cenderung lunak. Penggunaan fondasi yang dalam dan struktur beton bertulang yang solid memastikan tugu ini tetap tegak berdiri meski telah melewati dekade. Pengerjaannya diserahkan kepada Balai Kota Surabaya dan selesai dalam waktu satu tahun, diresmikan kembali oleh Soekarno pada 10 November 1952.

#

Inovasi Arsitektur: Museum Sepuluh Nopember

Berbeda dengan tugunya yang menjulang ke atas, Museum Sepuluh Nopember yang dibangun belakangan (diresmikan tahun 1991) menerapkan konsep arsitektur yang kontras namun komplementer. Untuk menjaga agar pandangan visual terhadap Tugu Pahlawan tidak terganggu oleh bangunan baru, arsitek memutuskan untuk membangun museum ini 7 meter di bawah permukaan tanah.

Dari atas, pengunjung hanya akan melihat struktur atap berbentuk piramida kecil yang muncul dari permukaan rumput, yang berfungsi sebagai skylight atau pencahayaan alami. Strategi arsitektur bawah tanah ini menciptakan efek psikologis bagi pengunjung; seolah-olah mereka "masuk ke dalam sejarah" dan merasakan kesunyian serta sakralitas perjuangan yang terkubur di bumi Surabaya. Ruang interior museum didominasi oleh beton ekspos dan pencahayaan temaram yang dramatis, menciptakan suasana kontemplatif.

#

Elemen Arsitektural Unik dan Interior

Salah satu fitur paling menonjol di dalam museum adalah ruang auditorium dan ruang pameran yang menggunakan sistem sirkulasi ramp (jalur miring). Ramp ini mengarahkan pengunjung secara kronologis melalui berbagai diorama yang menggambarkan jalannya pertempuran. Penggunaan teknologi audio-visual dan tata suara yang menggema dalam ruang bawah tanah memberikan dimensi sensorik yang kuat.

Di area luar atau plaza, terdapat patung ikonik Soekarno dan Hatta yang berdiri di dekat reruntuhan pilar-pilar bergaya kolonial—sisa dari gedung Raad van Justitie. Kontras antara pilar kolonial yang hancur dengan Tugu Pahlawan yang utuh dan tegak merupakan pernyataan arsitektural tentang runtuhnya imperialisme dan bangkitnya kedaulatan bangsa. Selain itu, terdapat pula koleksi senjata berat, seperti meriam dan tank, yang ditempatkan secara strategis di lanskap taman untuk memperkuat identitas militeristik situs tersebut.

#

Signifikansi Budaya dan Sosial

Bagi masyarakat Surabaya, Tugu Pahlawan adalah titik nol identitas mereka. Secara urban, kompleks ini berfungsi sebagai "paru-paru" kota sekaligus ruang publik yang demokratis. Lapangan luas yang mengelilingi tugu sering digunakan untuk upacara kenegaraan, parade militer, hingga kegiatan komunitas.

Secara simbolis, tugu ini berhasil mengubah memori kolektif tentang trauma perang menjadi kebanggaan sipil. Arsitekturnya tidak dirancang untuk mengintimidasi, melainkan untuk menginspirasi. Setiap elemen, mulai dari jumlah lengkungan hingga kedalaman museum bawah tanah, dirancang untuk memastikan bahwa narasi kepahlawanan tidak hanya dibaca dalam buku sejarah, tetapi dirasakan melalui ruang dan skala.

#

Pengalaman Pengunjung dan Fungsi Saat Ini

Saat ini, Tugu Pahlawan dan Museum Sepuluh Nopember telah bertransformasi menjadi destinasi wisata sejarah kelas dunia. Pengunjung yang datang akan disambut oleh gerbang megah yang menyerupai candi bentar modern, memberikan transisi dari hiruk pikuk jalanan Surabaya menuju kawasan sakral monumen.

Di malam hari, tata lampu (lighting design) yang diarahkan ke badan tugu memberikan efek dramatis, membuat paku terbalik tersebut seolah-olah bersinar dengan sendirinya di tengah kegelapan. Perawatan rutin pada lapisan cat putih tugu memastikan estetikanya tetap terjaga. Area hijau di sekitarnya juga ditata dengan prinsip lanskap tropis yang menyediakan keteduhan, menyeimbangkan material keras (hardscape) dari beton dan batu.

Sebagai sebuah karya arsitektur, Tugu Pahlawan dan Museum Sepuluh Nopember adalah contoh sukses bagaimana desain dapat menyimpan memori tanpa harus terlihat kuno. Ia tetap relevan sebagai landmark modern yang menghormati masa lalu, sekaligus menjadi jangkar visual bagi masa depan Surabaya sebagai Kota Pahlawan.

📋 Informasi Kunjungan

address
Jl. Pahlawan, Alun-alun Contong, Kec. Bubutan, Kota Surabaya
entrance fee
Rp 5.000 (Pelajar gratis dengan kartu pelajar)
opening hours
Selasa - Minggu, 08:00 - 15:00

Tempat Menarik Lainnya di Surabaya

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Surabaya

Pelajari lebih lanjut tentang Surabaya dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Surabaya