Masjid Suada (Masjid Baangkat)
di Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Jejak Sejarah dan Arsitektur Masjid Suada (Masjid Baangkat): Permata Bahari di Hulu Sungai Selatan
Masjid Suada, yang lebih dikenal oleh masyarakat lokal dengan sebutan Masjid Baangkat, merupakan salah satu monumen peradaban Islam paling ikonik di Kalimantan Selatan. Berlokasi di Desa Wasah Hilir, Kecamatan Simpur, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, masjid ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan saksi bisu pasang surut sejarah perjuangan rakyat Banjar melawan kolonialisme serta bukti kecerdasan arsitektur lokal pada masanya.
#
Asal-Usul dan Latar Belakang Pendirian
Masjid Suada didirikan pada tahun 1908 Masehi (1328 Hijriah) oleh dua ulama bersaudara yang sangat dihormati di wilayah Wasah, yaitu Haji Abbas dan Haji Muhammad Su’ud. Nama "Suada" sendiri diambil dari nama salah satu pendirinya, yakni Haji Muhammad Su’ud, untuk mengabadikan jasa beliau dalam merintis pembangunan rumah Allah tersebut.
Pemilihan lokasi di Wasah Hilir tidak lepas dari kondisi geografis masa lalu di mana transportasi sungai menjadi urat nadi kehidupan masyarakat. Pembangunan masjid ini didorong oleh kebutuhan mendesak akan pusat dakwah dan pendidikan Islam di wilayah Simpur yang semakin berkembang pesat pada awal abad ke-20. Sebelum adanya masjid ini, masyarakat harus menempuh jarak jauh untuk melaksanakan ibadah Jumat maupun perayaan hari besar Islam.
#
Filosofi Nama "Baangkat" dan Konstruksi Unik
Istilah "Baangkat" berasal dari bahasa Banjar yang berarti "diangkat" atau "terangkat". Nama ini merujuk pada keunikan struktur bangunan masjid yang berbentuk rumah panggung dengan kolong yang cukup tinggi. Menurut penuturan lisan turun-temurun, saat proses konstruksi, bagian fondasi dan lantai masjid dibangun terlebih dahulu di atas permukaan tanah, kemudian secara gotong royong diangkat ke atas tiang-tiang penyangga setinggi kurang lebih 2 meter.
Konstruksi panggung ini memiliki fungsi praktis dan filosofis. Secara praktis, desain ini merupakan adaptasi cerdas terhadap kondisi lahan di Hulu Sungai Selatan yang cenderung rawa dan sering mengalami luapan air sungai (banjir) saat musim penghujan. Secara filosofis, posisi bangunan yang tinggi melambangkan kemuliaan tempat ibadah yang harus dijunjung tinggi di atas urusan duniawi.
#
Arsitektur Vernakular dan Material Kayu Ulin
Secara arsitektural, Masjid Suada mencerminkan gaya bangunan tradisional Banjar yang kuat dengan sentuhan pengaruh Demak dan lokalitas pedalaman Kalimantan. Seluruh struktur utama bangunan, mulai dari tiang, lantai, hingga dinding, menggunakan kayu ulin (Eusideroxylon zwageri) atau kayu besi. Kayu ini dipilih karena ketahanannya yang luar biasa terhadap air dan cuaca, bahkan semakin kuat seiring bertambahnya usia.
Salah satu ciri khas yang menonjol adalah atap tumpang tiga (tumpang telu) yang mengecil ke atas, sebuah pengaruh dari arsitektur masjid-masjid kuno di Jawa yang dipadukan dengan gaya Bubungan Tinggi khas Banjar. Puncak atap dihiasi dengan mustaka atau memolo yang artistik. Di bagian dalam, terdapat empat tiang utama (saka guru) yang menyangga struktur atap tertinggi, melambangkan empat sahabat Rasulullah atau empat mazhab besar dalam Islam.
Dinding masjid dihiasi dengan ukiran bermotif flora (tumbuh-tumbuhan) seperti sulur-suluran dan bunga melati. Penggunaan motif makhluk hidup (fauna) dihindari sesuai dengan prinsip estetika Islam yang berkembang saat itu. Jendela-jendela masjid dibuat besar dan banyak untuk memastikan sirkulasi udara tetap sejuk meskipun tanpa perangkat pendingin modern.
#
Peran strategis dalam Perjuangan Kemerdekaan
Masjid Suada tidak hanya berfungsi sebagai pusat ritual keagamaan. Pada masa penjajahan Belanda dan pendudukan Jepang, masjid ini menjadi markas rahasia dan tempat pertemuan para pejuang kemerdekaan di wilayah Hulu Sungai. Karena lokasinya yang sedikit menjorok dari jalan utama namun mudah diakses melalui jalur air, para tokoh agama dan pejuang sering mengadakan diskusi strategi perlawanan di bawah naungan atap masjid ini.
Keberadaan Masjid Baangkat menjadi simbol perlawanan kultural. Di sinilah semangat jihad dikobarkan untuk melawan ketidakadilan penjajah. Para ulama di Wasah menggunakan mimbar masjid untuk menyampaikan pesan-pesan persatuan dan kemandirian bangsa, menjadikan masjid ini sebagai jantung pergerakan sosial di Simpur.
#
Pentingnya Nilai Budaya dan Religi
Bagi masyarakat Hulu Sungai Selatan, Masjid Suada adalah pusat spiritualitas. Tradisi "Baayun Maulid" dan perayaan hari besar Islam lainnya sering dilakukan di halaman masjid dengan melibatkan seluruh warga desa. Keberadaan sumur tua di area masjid juga sering dianggap memiliki keberkahan tersendiri oleh peziarah yang datang dari berbagai daerah di Kalimantan Selatan.
Masjid ini juga menjadi pusat pembelajaran Al-Qur'an dan kitab-kitab kuning bagi generasi muda sejak awal berdirinya. Banyak ulama besar di Kalimantan Selatan yang pada masa mudanya sempat mengecap pendidikan agama atau sekadar beri’tikaf di masjid tua ini.
#
Status Pelestarian dan Upaya Konservasi
Mengingat nilai historis dan arsitekturnya yang sangat tinggi, Masjid Suada telah ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya di bawah pengawasan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XIX. Sebagai situs sejarah, pemerintah daerah dan pusat secara berkala melakukan upaya restorasi untuk menjaga keaslian bangunan.
Restorasi yang dilakukan sangat berhati-hati agar tidak menghilangkan material asli. Penggantian hanya dilakukan pada bagian kayu yang benar-benar lapuk, itu pun dengan jenis kayu ulin yang sama. Hingga saat ini, keaslian bentuk bangunan, mimbar kayu yang berukir indah, serta bedug tua tetap terjaga dengan baik.
#
Fakta Unik dan Keistimewaan
Salah satu fakta unik dari Masjid Suada adalah sistem penyambungan kayunya yang menggunakan teknik pating (pasak kayu) tanpa menggunakan paku besi. Hal ini membuktikan keahlian tukang kayu Banjar di masa lalu dalam mengolah konstruksi bangunan besar yang stabil dan fleksibel terhadap getaran. Selain itu, tata letak masjid yang menghadap kiblat dengan presisi tinggi menunjukkan pengetahuan astronomi yang mumpuni dari para pendirinya.
#
Kesimpulan
Masjid Suada atau Masjid Baangkat adalah monumen yang merangkum identitas masyarakat Banjar: religius, adaptif terhadap alam, dan memiliki semangat juang yang tinggi. Berdiri megah di Wasah Hilir, masjid ini terus menjadi pengingat bagi generasi sekarang tentang pentingnya menjaga warisan leluhur. Sebagai salah satu situs sejarah unggulan di Hulu Sungai Selatan, Masjid Suada bukan sekadar bangunan tua, melainkan ruh dari peradaban Islam di Bumi Antaludin yang terus memancarkan cahaya hingga hari ini.
📋 Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Hulu Sungai Selatan
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Hulu Sungai Selatan
Pelajari lebih lanjut tentang Hulu Sungai Selatan dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Hulu Sungai Selatan