Banjar
CommonDipublikasikan: Januari 2025
Sejarah
#
Sejarah Kabupaten Banjar: Jejak Peradaban Islam dan Perjuangan Rakyat Kalimantan
Kabupaten Banjar, yang beribu kota di Martapura, merupakan jantung budaya dan sejarah Kalimantan Selatan. Dengan luas wilayah 4.591,87 km², daerah ini memiliki narasi sejarah yang panjang, bertransformasi dari pusat kerajaan besar hingga menjadi pilar pembangunan di Kalimantan Selatan modern.
Asal-Usul dan Masa Kesultanan
Akar sejarah Banjar tidak dapat dipisahkan dari berdirinya Kesultanan Banjar pada abad ke-16. Titik balik paling signifikan terjadi pada tahun 1526, ketika Pangeran Samudera memenangkan perebutan takhta melawan pamannya, Pangeran Tumenggung dari Kerajaan Negara Daha. Dengan bantuan Kesultanan Demak, Pangeran Samudera memeluk Islam dan bergelar Sultan Suriansyah. Peristiwa ini menandai berakhirnya era pengaruh Hindu-Buddha dan dimulainya supremasi Islam di tanah Banjar. Martapura kemudian ditetapkan sebagai ibu kota kesultanan pada masa Sultan Adam Al-Watsiq Billah (1825–1857), yang dikenal karena kodifikasi hukum adat dan Islam melalui "Undang-Undang Sultan Adam".
Era Kolonial dan Perang Banjar
Memasuki abad ke-19, ketegangan dengan Belanda memuncak akibat campur tangan kolonial dalam suksesi takhta dan penguasaan sumber daya alam (batu bara). Pada 18 April 1859, meletuslah Perang Banjar yang dipimpin oleh Pangeran Antasari. Salah satu peristiwa heroik adalah penyerangan tambang batu bara Oranje Nassau di Pengaron. Tokoh-tokoh seperti Demang Lehman dan Haji Buyasin menjadi simbol perlawanan rakyat. Meskipun Belanda secara sepihak membubarkan Kesultanan Banjar pada 1860, perlawanan gerilya terus berlanjut hingga awal abad ke-20, mengintegrasikan perjuangan lokal ke dalam narasi besar perlawanan nusantara terhadap imperialisme.
Masa Kemerdekaan dan Pembentukan Wilayah
Pasca-proklamasi 1945, Banjar menjadi basis penting bagi kaum republikan. Melalui Proklamasi Kalimantan 17 Mei 1949 yang dibacakan oleh Hassan Basry, rakyat Banjar menegaskan kesetiaan kepada Republik Indonesia di tengah tekanan NICA. Secara administratif, Kabupaten Banjar resmi dibentuk pada 14 Agustus 1950, sebuah tanggal yang kini diperingati sebagai hari jadi kabupaten tersebut, seiring dengan pembentukan Provinsi Kalimantan.
Warisan Budaya dan Situs Bersejarah
Kabupaten Banjar dikenal dengan julukan "Serambi Mekkah" karena religiositas masyarakatnya yang kental. Kota Martapura tersohor sebagai pusat pendidikan Islam melalui Pondok Pesantren Darussalam yang didirikan pada 1914 oleh K.H. Jamaluddin. Secara budaya, Banjar mewariskan tradisi "Pasar Terapung" di Lok Baintan yang mencerminkan adaptasi masyarakat terhadap ekosistem sungai. Situs sejarah penting meliputi Masjid Agung Al-Karomah dan Makam Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (Datu Kalampayan), pengarang kitab Sabilal Muhtadin yang pengaruhnya mencapai Semenanjung Malaya.
Pembangunan Modern
Kini, Banjar berkembang menjadi pusat perdagangan batu mulia dan intan terbesar di Indonesia, dengan pusat penggosokan intan legendaris di Martapura. Lokasinya yang strategis tanpa garis pantai menjadikan Banjar sebagai titik hubung agrikultur dan jasa di Kalimantan Selatan. Transformasi dari pusat kerajaan menuju kabupaten modern tetap mempertahankan identitas religius dan tradisi perdagangan yang tangguh, memperkokoh posisinya dalam sejarah nasional Indonesia.
Geografi
#
Profil Geografis Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan
Kabupaten Banjar merupakan salah satu wilayah administratif strategis di Provinsi Kalimantan Selatan dengan luas wilayah mencapai 4.591,87 km². Secara geografis, kabupaten ini terletak di pedalaman dan sepenuhnya dikelilingi oleh daratan (landlocked), berbatasan dengan Kabupaten Tapin di utara serta Kabupaten Tanah Laut di selatan. Kondisi tanpa garis pantai ini membentuk karakteristik lingkungan yang unik, didominasi oleh perairan tawar dan dataran tinggi pegunungan.
##
Topografi dan Bentang Alam
Bentang alam Kabupaten Banjar sangat kontras, terbagi menjadi dataran rendah aluvial di bagian barat dan utara, serta zona pegunungan di bagian timur. Wilayah ini merupakan bagian integral dari Pegunungan Meratus yang membujur dari utara ke selatan. Puncak-puncak seperti Gunung Kahung menjadi tengara penting yang menciptakan lembah-lembah curam dan daerah tangkapan air yang luas. Di dataran rendahnya, terdapat cekungan yang membentuk rawa-rawa lebak, yang secara hidrologis berfungsi sebagai pengendali banjir alami bagi wilayah sekitarnya, termasuk Kota Martapura sebagai pusat pemerintahan.
##
Hidrologi: Nadi Kehidupan Sungai
Sungai merupakan elemen geografis paling vital di Banjar. Sungai Martapura dan Sungai Riam Kanan adalah dua arteri utama yang membelah wilayah ini. Keberadaan Bendungan Riam Kanan tidak hanya berfungsi sebagai pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Ir. PM. Noor, tetapi juga menciptakan ekosistem danau buatan raksasa yang mengatur debit air menuju hilir. Aliran sungai-sungai ini membentuk pola pemukiman tradisional "lanting" dan menjadi jalur transportasi logistik yang menghubungkan pedalaman dengan wilayah pesisir tetangga.
##
Iklim dan Variasi Musiman
Kabupaten Banjar beriklim tropis basah dengan pengaruh kuat dari pergerakan angin monsun. Curah hujan tahunan berkisar antara 2.000 hingga 3.000 mm dengan kelembapan udara yang konsisten tinggi. Musim kemarau biasanya terjadi antara bulan Agustus hingga Oktober, di mana penurunan debit air sungai seringkali mengekspos dataran rawa. Sebaliknya, pada puncak musim penghujan di bulan Desember dan Januari, topografi dataran rendah di sekitar Martapura sangat rentan terhadap fenomena luapan air (banjir kiriman) dari lereng Pegunungan Meratus.
##
Sumber Daya Alam dan Biodiversitas
Kekayaan mineral menjadi ciri khas utama, di mana Banjar tersohor secara global atas deposit intan dan batu mulia di wilayah Cempaka dan sekitarnya. Selain pertambangan, sektor kehutanan dan pertanian lahan basah mendominasi penggunaan lahan. Kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam merupakan zona ekologi penting yang menjaga biodiversitas endemik Kalimantan, termasuk habitat bagi berbagai jenis primata dan flora pegunungan Meratus. Di sektor agraris, lahan rawa dimanfaatkan untuk varietas padi lokal (padi siam) yang memiliki adaptasi tinggi terhadap kondisi asam dan genangan air, menjadikannya salah satu lumbung pangan utama di Kalimantan Selatan.
Budaya
#
Harmoni Budaya di Jantung Kalimantan Selatan: Kabupaten Banjar
Kabupaten Banjar, dengan luas wilayah mencapai 4591,87 km², merupakan pusat spiritual dan kebudayaan suku Banjar di Kalimantan Selatan. Meskipun tidak berbatasan langsung dengan laut, wilayah ini didominasi oleh ekosistem sungai dan rawa yang membentuk fondasi peradaban masyarakatnya, menjadikannya wilayah yang kaya akan tradisi religius dan kearifan lokal yang spesifik.
Tradisi, Adat Istiadat, dan Upacara
Kehidupan masyarakat Banjar sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai Islam yang berakulturasi dengan budaya sungai. Salah satu tradisi yang paling menonjol adalah Baayun Maulid, upacara mengayun bayi dalam ayunan kain yang dihias janur saat peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Selain itu, terdapat tradisi Malam Pacar dalam prosesi pernikahan, di mana calon mempelai wanita dihiasi kukunya dengan daun inai (pacar) sebagai simbol kesiapan mental dan fisik. Di Martapura, tradisi Haul ulama besar, seperti Haul Guru Sekumpul, menjadi fenomena budaya masif yang menarik jutaan peziarah, menegaskan identitas Banjar sebagai "Serambi Mekkah" Kalimantan.
Kesenian, Musik, dan Tari
Seni pertunjukan Banjar memiliki karakter yang dinamis. Madihin adalah seni sastra lisan berupa puisi spontan yang dilantunkan dengan iringan terbang (rebana), biasanya berisi pesan moral atau humor. Dalam hal tari, Tari Baksa Kembang menjadi tarian penyambutan tamu agung yang melambangkan kelembutan gadis remaja. Kabupaten Banjar juga dikenal dengan Wayang Kulit Banjar yang memiliki gaya visual dan narasi yang berbeda dari wayang Jawa, serta musik Gamelan Banjar yang menggunakan nada pentatonis yang khas untuk mengiringi tarian klasik istana.
Kuliner Khas dan Cita Rasa Lokal
Gastronomi Banjar sangat bergantung pada hasil rawa dan sungai. Soto Banjar adalah ikon kuliner yang menggunakan rempah seperti kayu manis, cengkeh, dan kapulaga dengan kuah bening atau sedikit susu. Hidangan lain yang spesifik adalah Ketupat Kandangan dengan lauk ikan haruan (gabus) yang dipanggang. Untuk kudapan, masyarakat sangat menggemari "Wadai 41", koleksi 41 jenis kue tradisional seperti Bingka, Amparan Tatak, dan Kelepon Martapura yang sering hadir dalam ritual adat.
Bahasa dan Dialek
Bahasa Banjar dialek Hulu merupakan identitas linguistik utama di wilayah ini. Dialek ini memiliki ciri khas pada intonasi yang lebih tegas dan penggunaan kosakata yang berbeda dari dialek Kuala (Banjarmasin). Ungkapan seperti "Bungas" (cantik/tampan) atau "Hanyar" (baru) sering digunakan. Istilah "Bubuhan" digunakan untuk menunjukkan ikatan kekeluargaan atau kelompok sosial yang erat.
Pakaian Tradisional dan Tekstil
Tekstil khas yang menjadi kebanggaan adalah Kain Sasirangan. Berbeda dengan batik, Sasirangan dibuat dengan teknik tusuk jelujur dan ikat celup. Motifnya seperti Iris Pudak dan Kambang Kacang memiliki makna filosofis sebagai penolak bala atau simbol status sosial. Dalam upacara adat, pria mengenakan Bagajah Gamuling Baular Lulut, sementara wanita mengenakan baju Pokko dengan hiasan emas yang megah.
Praktik Keagamaan dan Festival
Kehidupan di Kabupaten Banjar berputar pada kalender Hijriah. Selain perayaan hari besar Islam, festival budaya seperti Pasar Terapung Lok Baintan menunjukkan bagaimana perdagangan dan interaksi sosial menyatu dengan alam. Di sini, transaksi "barter" masih bisa ditemukan di atas perahu jukung, menciptakan pemandangan budaya yang autentik dan tak lekang oleh zaman. Martapura juga dikenal sebagai pusat batu mulia, di mana kerajinan penggosokan intan menjadi bagian dari identitas ekonomi dan budaya masyarakat setempat.
Wisata
#
Menjelajahi Pesona Kabupaten Banjar: Jantung Budaya dan Alam Kalimantan Selatan
Kabupaten Banjar, yang beribu kota di Martapura, merupakan destinasi yang menawarkan perpaduan harmonis antara nilai spiritual, kekayaan bumi, dan keindahan alam pedalaman Kalimantan Selatan. Dengan luas wilayah mencapai 4591,87 km², daerah yang dijuluki "Kota Serambi Mekkah" ini menyimpan potensi wisata yang autentik dan berkesan bagi setiap pelancong.
##
Keajaiban Alam dan Pegunungan Meratus
Meski tidak memiliki garis pantai, Banjar dianugerahi bentang alam perbukitan dan perairan tawar yang memukau. Tahura (Taman Hutan Raya) Sultan Adam di Mandiangin adalah primadona utama. Di sini, pengunjung dapat mendaki puncak bukit untuk melihat sisa-sisa benteng Belanda dan menikmati hamparan awan di pagi hari. Tak jauh dari sana, Waduk Riam Kanan menawarkan pengalaman menyusuri danau buatan raksasa menggunakan perahu tradisional *klotok* menuju keindahan tersembunyi seperti Bukit Matang Kaladan yang menyuguhkan pemandangan gugusan pulau kecil menyerupai Raja Ampat. Bagi pencinta air, Air Terjun Lembah Kahung menyajikan petualangan membelah hutan tropis yang masih asri.
##
Wisata Budaya dan Kilau Permata Martapura
Identitas Banjar tak lepas dari Pertokoan Cahaya Bumi Selamat (CBS) di pusat kota Martapura. Sebagai pusat perdagangan batu mulia terbesar di Indonesia, pengunjung dapat berburu intan, zamrud, hingga kerajinan manik-manik khas suku Banjar. Dari sisi sejarah, Masjid Agung Al-Karomah dengan arsitektur megahnya menjadi simbol religiusitas masyarakat setempat. Untuk pengalaman budaya air yang unik, Pasar Terapung Lok Baintan di Sungai Martapura adalah destinasi wajib. Di sini, transaksi jual-beli dilakukan di atas perahu sejak subuh, menampilkan kearifan lokal yang telah bertahan selama ratusan tahun.
##
Petualangan Kuliner dan Cita Rasa Otentik
Wisata ke Banjar tidak lengkap tanpa mencicipi Soto Banjar yang kaya rempah dengan kuah sedikit kental. Pengalaman kuliner yang lebih spesifik dapat ditemukan dalam tradisi menyantap Itik Panggang atau Iwak Rabuk. Bagi penyuka kudapan manis, Wadai Bingka dan Amparan Tatak adalah oleh-oleh wajib yang merepresentasikan kelembutan budaya lokal.
##
Pengalaman Luar Ruang dan Akomodasi
Bagi jiwa petualang, kegiatan camping di Bukit Batas atau memancing di rawa-rawa banjar memberikan kedekatan khusus dengan ekosistem Kalimantan. Keramahtamahan penduduk lokal tercermin dalam pengelolaan homestay di desa wisata, meski hotel berbintang juga tersedia di area perkotaan untuk kenyamanan modern.
##
Waktu Kunjungan Terbaik
Waktu terbaik untuk berkunjung adalah saat musim kemarau antara Juni hingga September agar aktivitas luar ruangan dan pendakian bukit tidak terhambat hujan. Selain itu, datanglah saat perayaan Haul Guru Sekumpul, di mana Anda bisa menyaksikan jutaan jamaah berkumpul dan merasakan langsung puncak keramahtamahan religius masyarakat Banjar.
Ekonomi
#
Profil Ekonomi Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan
Kabupaten Banjar merupakan pilar ekonomi penting di Provinsi Kalimantan Selatan dengan luas wilayah mencapai 4.591,87 km². Meskipun merupakan wilayah landlocked atau tidak berbatasan langsung dengan laut lepas, Kabupaten Banjar mengoptimalkan kekayaan sumber daya daratan dan perairan tawar sebagai motor penggerak ekonomi daerah.
##
Sektor Pertanian dan Perikanan Darat
Sektor pertanian merupakan tulang punggung ekonomi Banjar, yang menjadikannya sebagai salah satu lumbung pangan utama di Kalimantan Selatan. Komoditas unggulannya adalah padi, khususnya varietas lokal di kawasan rawa lebak. Selain itu, sektor perkebunan didominasi oleh karet dan kelapa sawit yang menyerap banyak tenaga kerja lokal. Menariknya, meski tidak memiliki ekonomi maritim pesisir, Banjar memiliki potensi perikanan air tawar yang sangat besar melalui budidaya keramba di aliran Sungai Martapura dan Waduk Riam Kanan, dengan komoditas utama berupa ikan nila dan mas.
##
Industri Pertambangan dan Pengolahan
Industri pertambangan, terutama batu bara dan intan, memberikan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Martapura, ibukota kabupaten, telah lama dikenal sebagai pusat perdagangan dan pengolahan batu mulia terbesar di Indonesia. Perusahaan daerah dan sektor swasta berperan aktif dalam rantai pasok energi, sementara industri pengolahan kayu dan karet juga terus berkembang seiring dengan kebijakan hilirisasi produk mentah.
##
Kerajinan Tradisional dan Produk Lokal
Kekuatan ekonomi Banjar juga terletak pada sektor kreatif dan UMKM. Martapura dijuluki sebagai "Kota Intan" karena keahlian penduduknya dalam mengasah batu permata secara tradisional maupun modern. Selain batu mulia, produk lokal seperti kain Sasirangan dengan motif khas Banjar serta kerajinan anyaman rotan dan purun menjadi komoditas ekspor non-migas yang menjanjikan. Sektor ini didominasi oleh usaha mikro yang memperkuat ketahanan ekonomi keluarga.
##
Sektor Jasa, Pariwisata, dan Infrastruktur
Sektor jasa berkembang pesat seiring dengan status Martapura sebagai kota santri dan destinasi wisata religius (Gubah Sekumpul), yang menarik jutaan peziarah setiap tahunnya. Hal ini memicu pertumbuhan dramatis pada sektor perhotelan, kuliner, dan transportasi. Infrastruktur transportasi darat, termasuk keberadaan Jalan Trans Kalimantan, menjadi urat nadi distribusi barang yang menghubungkan Banjar dengan Banjarmasin dan wilayah Kalimantan Tengah.
##
Tren Ketenagakerjaan dan Pengembangan Ekonomi
Tren ketenagakerjaan di Kabupaten Banjar mulai bergeser dari sektor primer (pertanian) menuju sektor tersier (jasa dan perdagangan). Pemerintah daerah fokus pada peningkatan kualitas SDM melalui pelatihan vokasi untuk mendukung sektor industri pengolahan. Dengan integrasi antara pembangunan infrastruktur jalan di pedalaman dan optimalisasi teknologi digital bagi UMKM, Kabupaten Banjar terus bertransformasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi daratan yang kompetitif di Kalimantan Selatan.
Demografi
#
Profil Demografis Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan
Kabupaten Banjar merupakan salah satu wilayah inti di Provinsi Kalimantan Selatan dengan luas wilayah mencapai 4.591,87 km². Meskipun tidak berbatasan langsung dengan garis pantai (landlocked), kabupaten ini memiliki peran strategis sebagai penyangga utama kawasan metropolitan Banjarbakula.
Populasi, Kepadatan, dan Distribusi
Berdasarkan data terbaru, jumlah penduduk Kabupaten Banjar telah melampaui 560.000 jiwa. Kepadatan penduduk rata-rata berkisar di angka 122 jiwa/km², namun distribusinya tidak merata. Konsentrasi penduduk tertinggi berada di wilayah utara dan barat yang berbatasan dengan Kota Martapura dan Banjarbaru, seperti Kecamatan Martapura, Kertak Hanyar, dan Sungai Tabuk, sementara wilayah timur yang didominasi perbukitan memiliki kepadatan yang jauh lebih rendah.
Komposisi Etnis dan Keragaman Budaya
Mayoritas penduduk adalah etnis Banjar (khususnya sub-etnis Banjar Kuala dan Batang Banyu) yang membentuk fondasi identitas lokal dengan semboyan "Barakat" (Bersama Raih Harkat dan Martabat). Selain etnis asli, terdapat komunitas signifikan etnis Jawa, Madura, dan Bugis yang masuk melalui program transmigrasi historis maupun migrasi mandiri. Kehidupan sosial sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai Islam yang kuat, menjadikan Martapura dikenal sebagai "Kota Serambi Mekkah".
Struktur Usia dan Piramida Penduduk
Kabupaten Banjar memiliki struktur penduduk muda (ekspansif), di mana kelompok usia produktif (15-64 tahun) mendominasi lebih dari 67% total populasi. Piramida penduduk menunjukkan basis yang lebar pada kelompok usia sekolah, mengindikasikan angka kelahiran yang masih cukup stabil dan potensi bonus demografi di masa depan. Angka ketergantungan (dependency ratio) berada pada level moderat, yakni sekitar 46-48 per 100 penduduk produktif.
Pendidikan dan Literasi
Tingkat melek huruf di Kabupaten Banjar sangat tinggi, mencapai di atas 98%. Demografi pendidikan di wilayah ini memiliki karakteristik unik dengan banyaknya institusi pendidikan berbasis agama (pondok pesantren) yang berdampingan dengan sekolah formal. Namun, tantangan masih terlihat pada rata-rata lama sekolah yang terus diupayakan untuk melampaui jenjang pendidikan menengah atas seiring dengan peningkatan aksesibilitas di wilayah pelosok.
Urbanisasi dan Pola Migrasi
Terjadi pergeseran signifikan dari pola rural ke rurban (rural-urban). Wilayah seperti Kertak Hanyar dan Gambut kini berfungsi sebagai daerah komuter bagi pekerja di Banjarmasin. Migrasi masuk didorong oleh sektor perdagangan dan jasa di pusat kota Martapura, sementara migrasi keluar biasanya didorong oleh pencarian pendidikan tinggi atau pekerjaan di sektor pertambangan di kabupaten tetangga. Pola pemukiman cenderung mengikuti alur sungai (riparian) yang kemudian berkembang ke arah daratan sepanjang jalan trans-Kalimantan.
💡 Fakta Unik
- 1.Kawasan pedalaman di wilayah ini menyimpan sejarah sebagai pusat pertahanan terakhir Pangeran Antasari melawan kolonialisme di Benteng Oranje Nassau.
- 2.Tradisi Baayun Mulud yang dilakukan secara massal menggunakan ayunan berhias janur merupakan warisan budaya takbenda yang sangat kental di daerah ini.
- 3.Waduk Riam Kanan yang luasnya mencapai ribuan hektar berfungsi sebagai pembangkit listrik tenaga air sekaligus gerbang menuju pegunungan Meratus.
- 4.Pasar Cahaya Bumi Selamat menjadi pusat perdagangan batu permata dan intan hasil pendulangan tradisional yang paling terkenal di Kalimantan Selatan.
Tempat Lainnya di Kalimantan Selatan
Lokasi Serupa
Panduan Perjalanan Terkait
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiUji Pengetahuanmu!
Apakah kamu bisa menebak Banjar dari siluet petanya?