Tapin
CommonDipublikasikan: Januari 2025
History
#
Sejarah Kabupaten Tapin: Jejak Peradaban di Jantung Kalimantan Selatan
Kabupaten Tapin, yang terletak di posisi tengah (sentral) Provinsi Kalimantan Selatan, memiliki akar sejarah yang dalam, membentang dari era kerajaan tradisional hingga perannya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dengan luas wilayah 2.174,55 km², wilayah yang tidak berbatasan dengan laut ini secara geografis dikelilingi oleh lima wilayah tetangga: Kabupaten Banjar, Hulu Sungai Selatan, Barito Kuala, serta sebagian kecil wilayah lainnya yang memperkuat posisinya sebagai simpul transportasi darat di Kalimantan Selatan.
##
Akar Prasejarah dan Masa Kesultanan
Secara etimologis, nama "Tapin" diyakini berasal dari nama sungai yang membelah wilayah ini. Sebelum masa kolonial, Tapin merupakan bagian integral dari wilayah Kesultanan Banjar. Wilayah ini dikenal sebagai daerah agraris yang subur, menjadi penyokong pangan bagi pusat pemerintahan kesultanan. Salah satu tokoh legendaris yang melekat dengan identitas Tapin adalah Datu Sanggul, seorang ulama besar yang makamnya di Desa Tatakan menjadi situs sejarah dan religi penting hingga saat ini. Keberadaan para "Datu" (ulama sakti) menunjukkan bahwa Tapin telah lama menjadi pusat penyebaran Islam dan pendidikan tradisional di Kalimantan.
##
Era Kolonial dan Perlawanan Rakyat
Pada masa penjajahan Belanda, Tapin menjadi medan tempur yang sengit selama Perang Banjar (1859-1905). Para pejuang lokal menggunakan topografi hutan dan rawa untuk melancarkan taktik gerilya. Tokoh pejuang seperti Haji Buyasin dan Tumenggung Antaludin tercatat memimpin perlawanan di sekitar wilayah ini untuk mengusir penetrasi Belanda yang ingin menguasai sumber daya alam. Di era ini, Rantau—yang kini menjadi ibu kota kabupaten—mulai berkembang sebagai pusat administrasi kolonial di bawah kendali Onderafdeeling Tapin.
##
Perjuangan Kemerdekaan dan Pembentukan Kabupaten
Pasca-proklamasi 1945, rakyat Tapin turut aktif dalam revolusi fisik. Salah satu peristiwa yang paling monumental adalah pertempuran di jembatan penghubung dan wilayah pedalaman melawan NICA. Semangat otonomi daerah kemudian memuncak pada awal 1960-an. Melalui perjuangan panjang tokoh-tokoh lokal seperti H. Ismet Ahmad, Kabupaten Tapin akhirnya resmi berdiri sendiri pada tanggal 30 November 1965 berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1965. Pemisahan ini dilakukan dari Kabupaten Hulu Sungai Selatan untuk mempercepat pembangunan di wilayah tengah.
##
Warisan Budaya dan Modernitas
Kekayaan sejarah Tapin juga tercermin dalam warisan budayanya yang unik, seperti tradisi "Baayun Maulid" di Desa Banua Halat yang dilakukan di Masjid Al-Mukarramah, salah satu masjid tertua di Kalimantan Selatan yang dibangun pada abad ke-19. Selain itu, seni bela diri tradisional dan kerajinan anyaman rotan Margasari tetap lestari sebagai simbol ketahanan budaya lokal.
Kini, Tapin telah bertransformasi menjadi pusat energi dan perkebunan yang vital bagi Indonesia, dengan tetap menjaga situs-situs bersejarah seperti Monumen Perjuangan rakyat Tapin sebagai pengingat akan pengorbanan masa lalu. Sejarah Tapin adalah narasi tentang keteguhan masyarakat pedalaman dalam menjaga kedaulatan dan identitas di tengah perubahan zaman.
Geography
#
Profil Geografis Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan
Kabupaten Tapin merupakan salah satu wilayah strategis yang terletak di koridor tengah Provinsi Kalimantan Selatan. Secara administratif, kabupaten ini memiliki luas wilayah sebesar 2.174,55 km². Sebagai wilayah yang tidak berbatasan langsung dengan garis pantai (landlocked), Tapin memiliki karakteristik geografis yang unik karena menjadi titik temu antara dataran rendah rawa di bagian barat dan kaki pegunungan Meratus di bagian timur. Secara geografis, wilayah ini berbatasan dengan lima daerah tetangga: Kabupaten Hulu Sungai Selatan di utara, Kabupaten Banjar di selatan dan timur, serta Kabupaten Barito Kuala di sisi barat.
##
Topografi dan Bentang Alam
Bentang alam Tapin sangat bervariasi, menciptakan gradasi topografi yang kontras. Wilayah bagian barat didominasi oleh dataran rendah dan kawasan rawa yang luas, menjadikannya daerah resapan air alami. Sebaliknya, wilayah timur, khususnya di Kecamatan Piani, dicirikan oleh perbukitan bergelombang hingga pegunungan yang merupakan bagian dari Pegunungan Meratus. Di lembah-lembah perbukitan ini, mengalir sungai-sungai penting seperti Sungai Tapin dan Sungai Margasari yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat. Keberadaan Bendungan Tapin yang terletak di Desa Pipitak Jaya menjadi fitur geografis buatan yang signifikan, berfungsi sebagai pengendali banjir sekaligus penyedia sumber air bagi lahan pertanian di sekitarnya.
##
Iklim dan Pola Cuaca
Kabupaten Tapin berada dalam zona iklim tropis basah dengan variasi musiman yang dipengaruhi oleh angin muson. Suhu rata-rata harian berkisar antara 24°C hingga 33°C dengan tingkat kelembapan yang tinggi sepanjang tahun. Pola curah hujan di Tapin cukup tinggi, terutama pada periode November hingga April. Uniknya, topografi di timur menciptakan mikroklimat yang lebih sejuk di area pegunungan dibandingkan area dataran rendah yang cenderung panas dan lembap.
##
Kekayaan Sumber Daya Alam
Potensi sumber daya alam Tapin sangat melimpah, baik di permukaan maupun di bawah tanah. Sektor pertambangan menjadi pilar utama dengan cadangan batu bara yang masif di wilayah tengah. Selain itu, tanah aluvial di dataran rendah sangat mendukung sektor pertanian, terutama padi dan komoditas unggulan lokal seperti Cabai Rawit Hiyung yang diklaim sebagai cabai terpedas di Indonesia. Di sektor kehutanan, wilayah Piani menyimpan kekayaan kayu hutan tropis serta hasil hutan non-kayu seperti rotan dan damar.
##
Ekologi dan Biodiversitas
Secara ekologis, Tapin memiliki zona keanekaragaman hayati yang kaya, mulai dari ekosistem rawa air tawar hingga hutan hujan pegunungan. Di kawasan rawa, masih sering dijumpai fauna khas seperti Bekantan (Nasalis larvatus) dan berbagai jenis ikan air tawar endemik. Upaya konservasi terus dilakukan di lereng Meratus untuk menjaga stabilitas ekosistem dan mencegah degradasi lahan akibat eksploitasi mineral. Dengan posisi koordinat antara 2°32’43” – 3°12’23” Lintang Selatan dan 114°42’50” – 115°16’17” Bujur Timur, Tapin berperan sebagai penyangga ekologis penting bagi Kalimantan Selatan.
Culture
#
Kekayaan Budaya Kabupaten Tapin: Jantung Tradisi Banjar di Kalimantan Selatan
Kabupaten Tapin, yang terletak di posisi strategis bagian tengah (hulu sungai) Kalimantan Selatan, merupakan wilayah yang kaya akan warisan luhur kebudayaan suku Banjar. Dengan luas wilayah mencapai 2174,55 km², Tapin tidak hanya menjadi pusat agraris tetapi juga benteng tradisi yang masih terjaga autentisitasnya hingga saat ini.
##
Tradisi, Upacara Adat, dan Kepercayaan
Salah satu identitas budaya yang paling menonjol di Tapin adalah tradisi Baayun Maulud. Tradisi ini dilaksanakan di Desa Banua Halat untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Ribuan orang berkumpul di Masjid Al-Mukarramah untuk mengayun bayi maupun orang dewasa dalam ayunan yang dihias dengan janur dan berbagai hasil bumi. Selain itu, masyarakat Tapin pedalaman, khususnya komunitas Dayak Meratus di Kecamatan Piani, masih melestarikan upacara Aruh Adat, sebuah ritual syukur setelah masa panen padi yang melibatkan sesaji dan doa-doa kepada Sang Pencipta.
##
Kesenian dan Seni Pertunjukan
Dalam aspek seni pertunjukan, Tapin dikenal sebagai rumah bagi Kesenian Mamanda, teater tradisional Banjar yang sarat dengan pesan moral dan kritik sosial yang disampaikan melalui humor. Selain itu, Tari Baksa Kembang, yang aslinya merupakan tarian istana untuk menyambut tamu agung, sering dibawakan dalam acara-acara formal di Rantau (ibu kota Tapin). Musik Panting juga menjadi pengiring setia dalam setiap perhelatan budaya, di mana petikan dawai panting berpadu harmonis dengan suara babun dan gong.
##
Kuliner Khas dan Keunikan Gastronomi
Gastronomi Tapin menawarkan cita rasa yang unik dan spesifik. Produk unggulan yang paling ikonik adalah Cabai Rawit Hiyung. Cabai ini dinobatkan sebagai cabai terpedas di Indonesia dengan tingkat kepedasan berkali-kali lipat dari cabai biasa, namun memiliki aroma yang khas. Selain itu, terdapat Rimpi, penganan dari pisang yang dikeringkan melalui proses pengasapan, menghasilkan rasa manis karamel yang alami. Masyarakat setempat juga gemar mengolah ikan sungai menjadi Wadi (ikan fermentasi) dan Pakasam yang memberikan sensasi rasa asam-gurih yang kuat.
##
Bahasa dan Dialek Lokal
Masyarakat Tapin menggunakan Bahasa Banjar dialek Hulu. Dialek ini memiliki ciri khas pada intonasi yang lebih tegas dan penggunaan kosakata yang terkadang berbeda dengan dialek Banjar Kuala (Banjarmasin). Ekspresi lokal seperti "Lunta" atau penggunaan kata ganti orang yang spesifik menunjukkan kedekatan emosional antarwarga dalam pergaulan sehari-hari.
##
Busana dan Tekstil Tradisional
Dalam berpakaian, masyarakat Tapin menjunjung tinggi penggunaan kain Sasirangan. Motif Sasirangan dari daerah ini sering kali mengambil inspirasi dari alam sekitar, seperti motif pucuk rebung atau ombak sinapur karang. Pada acara pernikahan, pengantin pria dan wanita biasanya mengenakan busana Bagajah Gamuling Baular Lulut atau Babaju Kun Galung Pacinan, yang mencerminkan perpaduan pengaruh budaya Hindu-Buddha masa lalu dan pengaruh Islam.
##
Kerajinan Tangan
Sektor kerajinan di Tapin didominasi oleh anyaman. Desa Margasari merupakan pusat kerajinan Anyaman Purun dan Rattan. Para perajin mengubah tanaman rawa menjadi tas, topi (tanggui), dan tikar dengan kualitas ekspor. Keahlian menganyam ini diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.
Melalui integrasi antara nilai religius Islam yang kuat dan penghormatan terhadap alam, Kabupaten Tapin terus memperkokoh posisinya sebagai destinasi wisata budaya yang autentik di Kalimantan Selatan.
Tourism
Menjelajahi Tapin: Jantung Warisan Budaya dan Alam Kalimantan Selatan
Kabupaten Tapin, yang terletak di posisi tengah Kalimantan Selatan, merupakan wilayah seluas 2174,55 km² yang berbatasan dengan lima daerah administratif lainnya. Meskipun tidak memiliki garis pantai, Tapin menawarkan kekayaan wisata yang berakar kuat pada tradisi sungai, pegunungan Meratus, dan situs sejarah religi yang ikonik.
#
Keajaiban Alam dan Pesona Pegunungan
Tapin didominasi oleh lanskap perbukitan hijau yang menjadi bagian dari Pegunungan Meratus. Salah satu destinasi alam unggulan adalah Bendungan Pipitak Jaya di Piani. Bendungan ini bukan sekadar infrastruktur air, melainkan destinasi wisata dengan panorama perbukitan yang memukau. Wisatawan dapat menikmati ketenangan air waduk yang dikelilingi kabut tipis di pagi hari. Selain itu, terdapat Gua Batu Hapu di Kecamatan Binuang, sebuah situs geologi yang menawarkan stalaktit dan stalagmit eksotis dengan legenda lokal yang menyerupai kisah Malin Kundang.
#
Jejak Sejarah dan Wisata Religi
Tapin dikenal sebagai pusat wisata religi yang sakral. Makam Datu Sanggul di Desa Tatakan menjadi magnet bagi peziarah dari seluruh penjuru Kalimantan. Situs ini berkaitan erat dengan sejarah penyebaran Islam dan kearifan lokal masyarakat Banjar. Selain itu, terdapat Masjid Al-Mukarromah di Desa Banua Halat yang menyimpan pilar kayu kuno yang dipercaya terus mengeluarkan minyak, sebuah fenomena yang menarik minat wisatawan sejarah dan budaya.
#
Pengalaman Kuliner dan Cita Rasa Lokal
Berkunjung ke Tapin tidak lengkap tanpa mencicipi Cabai Hiyung. Cabai ini dinobatkan sebagai cabai terpedas di Indonesia dengan tingkat kepedasan berkali-kali lipat dari cabai rawit biasa, namun memiliki aroma yang khas. Untuk hidangan utama, cobalah Iwak Bakasam, olahan ikan sungai yang difermentasi dengan beras sangrai, memberikan perpaduan rasa asam dan gurih yang unik. Jangan lupa mencicipi Roti Pisang khas Binuang sebagai kudapan manis saat bersantai.
#
Petualangan dan Aktivitas Luar Ruangan
Bagi pencinta adrenalin, kawasan Sirkuit Balipat di Binuang merupakan arena balap motor tingkat nasional yang sering menyelenggarakan ajang bergengsi. Di sisi lain, para petualang dapat mencoba *trekking* di kawasan hutan hujan tropis menuju air terjun tersembunyi seperti Air Terjun Lano yang menawarkan kesegaran alami di tengah rimbunnya hutan Meratus.
#
Keramahtamahan dan Waktu Kunjungan Terbaik
Masyarakat Tapin dikenal sangat terbuka dan menjunjung tinggi nilai gotong royong. Pilihan akomodasi tersedia mulai dari hotel berbintang di pusat kota Rantau hingga penginapan sederhana yang dekat dengan lokasi wisata religi. Waktu terbaik untuk berkunjung adalah saat perayaan Baayun Maulid di Banua Halat, di mana ribuan orang berkumpul untuk mengayun bayi dalam tradisi kolosal yang masuk dalam rekor nasional. Musim kemarau (Mei-September) adalah periode ideal untuk menjelajahi gua dan pegunungan tanpa kendala cuaca.
Economy
#
Profil Ekonomi Kabupaten Tapin: Jantung Pertanian dan Pertambangan Kalimantan Selatan
Kabupaten Tapin, yang terletak di posisi tengah Provinsi Kalimantan Selatan, merupakan wilayah strategis dengan luas 2.174,55 km². Sebagai daerah yang sepenuhnya dikelilingi daratan (landlocked) dan berbatasan dengan lima wilayah (Banjar, Hulu Sungai Selatan, Barito Kuala, serta sebagian kecil wilayah lainnya), Tapin memiliki struktur ekonomi yang unik yang memadukan kekayaan sumber daya alam bawah tanah dengan produktivitas lahan permukaan.
##
Sektor Pertambangan dan Industri Alat Berat
Pilar utama ekonomi Tapin didominasi oleh sektor pertambangan, khususnya batu bara. Keberadaan perusahaan besar seperti PT Antang Gunung Meratus (AGM) dan PT Bhumi Rantau Energi telah menjadikan Tapin sebagai salah satu penyumbang Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) terbesar di Kalimantan Selatan. Aktivitas tambang ini memicu tumbuhnya industri pendukung, seperti jasa logistik, bengkel alat berat, dan penyewaan kendaraan operasional yang menyerap tenaga kerja lokal dalam jumlah signifikan.
##
Pertanian: Cabai Hiyung dan Ketahanan Pangan
Di sektor pertanian, Tapin memiliki keunggulan kompetitif yang sangat spesifik yaitu Cabai Hiyung. Cabai yang berasal dari Desa Hiyung ini dikenal sebagai cabai terpedas di Indonesia dengan kadar capsaicin yang sangat tinggi. Produk ini telah terdaftar sebagai Indikasi Geografis dan menjadi komoditas ekspor unggulan yang mengangkat kesejahteraan petani setempat. Selain itu, Tapin merupakan salah satu lumbung padi bagi Kalimantan Selatan, didukung oleh pembangunan Bendungan Tapin di Pipitak Jaya yang memperluas jangkauan irigasi bagi lahan persawahan teknis.
##
Kerajinan Tradisional dan Ekonomi Kreatif
Ekonomi kerakyatan di Tapin tercermin dari industri kerajinan anyaman rotan dan purun di daerah Margasari. Produk seperti tas, topi, dan tikar dari Margasari telah menembus pasar nasional. Selain itu, terdapat sentra pembuatan kopiah (peci) tradisional yang menjadi produk lokal kebanggaan. Pemerintah daerah terus mendorong digitalisasi UMKM agar produk kerajinan ini dapat bersaing di platform e-commerce, sehingga mengurangi ketergantungan pada sektor ekstraktif.
##
Infrastruktur, Transportasi, dan Jasa
Sebagai wilayah "Tengah", Tapin merupakan titik simpul transportasi darat yang menghubungkan Banjarmasin ke wilayah Hulu Sungai (Pahuluan) hingga ke Kalimantan Timur. Keberadaan Jalan Bypass Rantau mempercepat mobilitas logistik dan memicu pertumbuhan sektor jasa, perhotelan, dan kuliner di pusat kota Rantau. Meskipun tidak memiliki wilayah pesisir untuk ekonomi maritim, Tapin mengoptimalkan aliran Sungai Tapin dan Sungai Margasari untuk jalur transportasi komoditas cair dan logistik alat berat melalui pelabuhan-pelabuhan khusus (jetty) pertambangan.
##
Tren Ketenagakerjaan dan Masa Depan
Tren ketenagakerjaan di Tapin mulai bergeser dari sektor primer (pertanian tradisional) menuju sektor tersier (jasa dan perdagangan). Dengan adanya pengembangan kawasan industri dan penguatan hilirisasi produk pertanian, Tapin berupaya menciptakan stabilitas ekonomi yang tidak hanya bergantung pada fluktuasi harga batu bara dunia, melainkan pada kemandirian pangan dan industri pengolahan yang berkelanjutan.
Demographics
#
Profil Demografis Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan
Kabupaten Tapin, yang terletak di posisi strategis bagian tengah Provinsi Kalimantan Selatan, memiliki luas wilayah 2.174,55 km². Sebagai wilayah non-pesisir (landlocked), dinamika kependudukan Tapin sangat dipengaruhi oleh sektor agraris dan pertambangan yang menjadi magnet ekonomi di kawasan tersebut.
Ukuran dan Kepadatan Penduduk
Berdasarkan data terkini, jumlah penduduk Kabupaten Tapin mencapai lebih dari 190.000 jiwa. Dengan luas wilayah yang ada, kepadatan penduduk rata-rata berkisar antara 87 hingga 90 jiwa per km². Distribusi penduduk cenderung terkonsentrasi di koridor utama yang menghubungkan Kota Banjarmasin dengan wilayah Hulu Sungai, khususnya di Kecamatan Tapin Utara (Rantau) dan Kecamatan Binuang yang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi.
Komposisi Etnis dan Keragaman Budaya
Demografi Tapin didominasi oleh etnis Banjar, khususnya sub-etnis Banjar Pahuluan yang memiliki karakteristik religiusitas tinggi. Keunikan budaya Tapin tercermin dari keberadaan masyarakat Dayak Meratus di wilayah pegunungan bagian timur (Kecamatan Piani). Selain itu, terdapat populasi signifikan etnis Jawa dan Bugis yang masuk melalui program transmigrasi historis serta migrasi mandiri akibat aktivitas perkebunan sawit dan pertambangan batu bara.
Struktur Usia dan Piramida Penduduk
Tapin memiliki struktur penduduk muda yang direpresentasikan oleh piramida penduduk ekspansif. Proporsi penduduk usia produktif (15-64 tahun) sangat dominan, mencapai lebih dari 68% dari total populasi. Hal ini menunjukkan potensi bonus demografi yang besar, meskipun tantangan penyediaan lapangan kerja di sektor formal masih menjadi prioritas pemerintah daerah.
Pendidikan dan Literasi
Tingkat melek huruf di Kabupaten Tapin tergolong sangat tinggi, mencapai angka di atas 98%. Dalam satu dekade terakhir, terjadi peningkatan signifikan pada rata-rata lama sekolah. Meskipun pendidikan dasar dan menengah telah merata, konsentrasi penduduk berpendidikan tinggi masih terpusat di kawasan perkotaan Rantau, didukung oleh keberadaan berbagai lembaga pendidikan kejuruan yang menyokong sektor industri.
Urbanisasi dan Pola Migrasi
Dinamika kependudukan Tapin ditandai dengan fenomena "Rantau-Binuang Axis", di mana proses urbanisasi bergerak cepat di sepanjang jalan trans-Kalimantan. Migrasi masuk (in-migration) didorong oleh sektor pertambangan, sementara migrasi keluar (out-migration) biasanya dilakukan oleh generasi muda untuk menempuh pendidikan tinggi ke Banjarmasin atau luar pulau. Integrasi masyarakat antara wilayah perdesaan yang berbasis pertanian rawa di bagian barat dan wilayah perkotaan di bagian tengah menciptakan keseimbangan demografis yang unik di Kalimantan Selatan.
💡 Fakta Unik
- 1.Wilayah ini pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Negara Dipa pada abad ke-14, sebuah kerajaan besar yang menjadi cikal bakal Kesultanan Banjar.
- 2.Tradisi memelihara kerbau rawa (Bubalus bubalis) secara turun-temurun dilakukan dengan membiarkan hewan tersebut berenang mencari makan di hamparan rawa yang luas.
- 3.Sebagian besar wilayahnya terdiri dari ekosistem lahan basah dan rawa monoton yang tidak terpengaruh oleh pasang surut air laut.
- 4.Kota Amuntai merupakan pusat administrasi di daerah ini yang sangat terkenal dengan kerajinan anyaman rotan dan purun serta olahan kuliner itik panggang.
Destinasi di Tapin
Semua Destinasi→Kawasan Danau Biru Nes 12
Danau eksotis ini terbentuk dari bekas galian tambang yang kini bertransformasi menjadi telaga berwa...
Wisata AlamGoa Batu Hapu
Memasuki Goa Batu Hapu serasa melangkah ke perut bumi yang megah dengan formasi stalaktit dan stalag...
Situs SejarahMakam Datu Sanggul
Situs religi ini merupakan makam seorang ulama besar dan waliyullah yang sangat dihormati di Kaliman...
Situs SejarahCandi Agung Rantau
Meskipun tidak semegah candi di Jawa, situs arkeologi ini merupakan bukti nyata keberadaan peradaban...
Tempat RekreasiHutan Kota Rantau
Menjadi paru-paru kota sekaligus ruang terbuka hijau utama di Tapin, Hutan Kota Rantau menawarkan su...
Kuliner LegendarisSentra Kuliner Rantau Baru
Pusat kuliner yang terletak di kawasan strategis ini menyajikan berbagai hidangan khas Banjar mulai ...
Tempat Lainnya di Kalimantan Selatan
Lokasi Serupa
Panduan Perjalanan Terkait
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiUji Pengetahuanmu!
Apakah kamu bisa menebak Tapin dari siluet petanya?